FF – Nakushite Shimatta Part. 1

Nakushite Shimata (Segalanya telah hilang)

Author : Citra D.K ( @citradewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, casts belong to Masashi Kishimoto, Masashi Kishimoto and I belong to God.

Pair : SasoSaku, other pair Saku and Saso

Cast : akatsuki member, Sakura friend and more

Genre : friendly, romance, angst.

P.s : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning!

Don’t like, don’t read.
Happy reading ^^

Seorang lelaki muda termangu dibalkon rumahnya, wajahnya menghadap ke langit malam yang ramai dengan cahaya samar para bintang. Dewi malam tidak menampakan dirinya malam itu, awan-awan tetap menjaganya dari tatapan lelaki bersurai merah itu.

Angin malam berdesir, membuat surai merah lelaki itu bergerak-gerak, akan tetapi wajahnya tetap tidak berubah, hanya wajah datarnya yang menyambut angin sejuk itu.

Sesaat ia memandang kearah barat, ia melihat sebuah cahaya yang sangat cepat meluncur dari angkasa—Bintang jatuh. Ditatapnya sesaat sebelum ia memutuskan untuk menutup matanya. Angin kembali berdesir menghantam wajah tampan pemuda tersebut.

“Sasori” nampak seorang wanita tua tengah memandangi punggung cucunya, “kau tidak masuk? Sudah malam”

Sasori membuka matanya dan berbalik, “Ya, ayo nek”

***

“Berisik Ino-chan! Ini semua salahmu” omel seorang gadis bermata Emerald yang indah pada temannya. Ia merenggangkan tubuhnya yang terasa sangat pegal.

“Apa katamu?! Siapa suruh kau meninggalkan buku catatanku dikamarmu! Kita telat karenamu, Forehead!” Gadis bersurai blonde panjang itu balas membentak.

“Apa katamu? Pig, Ino pig!”

“Jidat lebar”

“Gendut!”

“Apa katamu?! Aku langsing!”

“Bisa hentikan pertengkaran kalian?” Muncul seorang pemuda bersurai merah dari balik pohon besar dibelakang sekolah, ia menatap kedua gadis itu enggan. “Berhentilah merusak ketenangan orang lain” pemuda itu berbalik dan pergi.

Kedua gadis itu—Sakura dan Ino—menatap punggung sang pemuda sampai tak terlihat lagi dalam diam.

“I.. Ino-chan, apa kau tahu dia siapa?” Gadis bersurai merah muda itu menghadap temannya perlahan. “Apa dia hantu penjaga pohon ini? Kenapa tampan sekali” wajahnya memucat menyatakan pertanyaan konyol itu.

“Saku-chan baka! Dia senpai kita, siswa XI-I, Akasuna Sasori!” Jelas Ino yang tiba-tiba histeris, “Dia senpai tampan yang sangat terkenaaaal”

Sakura memandang temannya dengan wajah datar, begitulah sifat sahabatnya satu ini, terlalu cepat tertarik. Gadis itu kembali mengingat-ngingat kejadian tadi. ‘Apa dia tidur didekat pohon?’ Batin Sakura.

Ia memandang sekitar sampai akhirnya tersadar, “Ino-chan, cepat bawa embernya! kita bisa terlambat masuk kelas” dengan panik gadis merah muda itu membawa pel-annya dan lari tergesa-gesa.

Hey forehead tunggu!”

***

Sasori, lelaki muda itu tengah memegangi kepalanya, dipejamkan kedua matanya seraya memijit kepalanya perlahan.

“Oi danna, kau kumat lagi? Un” laki-laki bersurai panjang yang terlihat cantik itu membatalkan passingnya ketika melihat temannya itu, ia hendak menghampirinya.

Sasori lantas berhenti dan menjatuhkan kedua tangannya kesisi tubuhnya, “stay away” ia membuka matanya, “aku tidak apa-apa” ia sedikit mengernyit menahan sakit sebelum dengan cepat merubah ekspresi diwajahnya menjadi datar lalu mengangkat sebelah tangannya seraya memberi code meminta bola.

Mereka melanjutkan permainannya, Deidara adalah teman yang paling dekat dengan Sasori, setidaknya hanya dia yang bisa dipercayakan untuk menyimpan rahasia Sasori. Sedangkan Deidara telah menganggap Sasori sebagai danna—seniornya.

“Hei saku-chan, coba lihat kelapangan basket disana, Sasori-senpai sedang bermain” Ino menarik lengan Sakura dengan tergesa-gesa sementara yang ditariknya hanya pasrah saja.

“Oh, lihat! Senpai-senpai itu tampan semuaa” erang siblonde Ino ketika melihat seniornya tengah bermain. Sakura hanya memutar bola matanya dan menatap ke lelaki bersurai hitam panjang yang tengah men-shoot bola ke ring lawan.

“Itu Itachi-san, tatapannya sama sekali mirip Sasuke” gumamnya pelan. Cepat-cepat digelengkan kepalanya dan menatap kelain objek. Ia tak ingin mengingat masa lalunya, hanya kenangan pahit yang membuat hatinya terluka.

Ino tidak menyadari apa yang sahabatnya gumamkan, hanya sibuk cengengesan melihat para Senpainya. Sakura yang berasa tak ditanggapi hanya berdecak kesal dan memandang fokus kearah lelaki yang mencolok dimatanya, Akasuna Sasori.

‘Dia tinggi tegap, putih susu, matanya, ah—’ dia memukul kepalanya perlahan, tak ingin mengakui Senpai temuannya tadi pagi memiliki iris yang sungguh memikat, sedangkan sang Innernya tengah menyemangatinya.

Tampan bukan si Akasuna itu?‘ Sang Inner mulai antusias

‘Diam kau Inner baka, dia biasa’ elaknya dalam hati, dan terjadilah pergulatan dalam dirinya.

Aku ini kau, Baka! Kalau kubilang tampan kau juga berfikiran begitu

‘Siapa bilang?! Pergi dan jangan kau ganggu aku!’

Kenapa kau mengelak? Kau suka kan

‘Apa katamu?!’

“Hei saku-chan, kau kenapa?” Ino menatapnya heran, “apa kau mulai gila heh? Ekspresimu aneh”

“Diamlah!”

***

“Sampai sekarang kau tidak punya pacar, kau tidak laku ya” Hidan melontarkan pernyataan sarkastis pada Sasori, diteguknya minuman botolnya,

Sasori hanya menegak airnya tanpa berkomentar apa-apa, wajahnya menunjukan ekspresi seperti tidak ada yang berbicara padanya.

“Walaupun tampangmu pas-pasan, menurutku masih ada yang naksir denganmu, kenapa kau tidak meresponnya?” Kali ini Zetsu—si manusia albino—menyahut, ia memandang Lelaki bersurai merah itu bosan, “kau masih normalkan?”

“Berpacaran hanyalah membuang waktuku” jawabnya dengan wajah datarnya yang biasa lalu mengusapkan handuk kewajahnya sebagai tanda ia selesai berbicara.

Hidan yang mendengarnya hanya mendengus sebal, “Jerk

Deidara hanya diam mendengarkan obrolan tersebut, diam-diam dipandanginya wajah Sasori. Ia adalah orang yang bisa dibilang cerewet, namun untuk pembahasan ini dia lebih memilih bungkam.

***

Sakura memandang sekeliling, memandangi bangku-bangku yang telah diisi siswa-siswi yang tengah makan siang. ‘Ino pig kau ada dimana grr’ geramnya dalam hati. Ino telah mengambil jatah makan siangnya terlebih dahulu ketika Sakura masih mengantri sebagai alasan ia sangat kelaparan karena tidak sarapan.

Ia berjalan—sambil menggenggam segelas Cappucino dan Burger yang baru dibelinya tadi—kearah deretan bangku yang telah diisi oleh para senpainya, lalu memandangi wajah mereka satu persatu dengan cepat sampai ia melihat lelaki yang tengah duduk dipinggir bangku yang berhadapan dengan gadis itu.

Sesaat iris Emeraldnya bersiborok dengan iris Hazel yang terlihat damai itu, tapi tak lama karena dengan cepat Sasori mengalihkan pandangannya ke makanan dihadapannya.

“Lihat! Itu Sasori-senpai!”

“Ayo kesana dan minta foto! Sapa tahu ia sedang berbaik hati”

“Sasori-saaaaan

Tak sempat Sakura membalikan badan untuk melihat para wanita penggemar Sasori, ia terdorong dari belakang.

Byuurr…

Segelas Cappucino Haruno Sakura sukses membasuh wajah milik Akasuna Sasori serta seragamnya. Dengan ekspresi shock Sakura memandangi lelaki dihadapannya.

Seketika kantin yang ramai itu mendadak hening, puluhan pasang mata memandang kearah tempat kerusuhan kecil itu dengan mata terbelalak shock, tak luput para teman Sasori memandang Shock bercampur ngeri.

“… Gadis kepala merah muda itu menumpahkannya! Lihat!”

“Berani sekali cari gara-gara dengan para senpai

“Wah wah, lihat si Akasuna!”

“Apa yang akan terjadi yaa?”

“Dia murid kelas X kan?”

“Kalau tak salah dia teman sekelasku”

Kantin langsung menjadi ramai kembali, bisik-bisik memenuhi penjuru ruangan, banyak reaksi berbeda-beda yang ditunjukan oleh sang penonton, Ino yang baru menyadari sahabatnya terkena musibah itu hanya bisa diam dengan mata terbelalak tak percaya.

“Kenapa kau menumpahkannya?” Tanya Konan yang telah mengendalikan mimik wajahnya.

Kantin kembali hening.

“Oi danna, kau tidak apa-apa? Un” Deidara menatap kasihan temannya itu.

“Aku jadi penasaran dengan si jidat lebar ini” sahut Hidan yang menopangkan tangannya dimeja.

“.. Go.. Gomenassai senpai, Sumimasen, tadi benar-benar tidak sengaja, salah satu penggemar anda menyenggol tangan saya” gadis bersurai merah muda itu menggigit bibirnya, tegang menjalari tubuhnya.

“Bukan aku yang jelas”

“Iya, aku jauh darinya”

“Aku tidak merasa menyenggolnya”

“Mungk—”

“Diam” sergah lelaki muda yang sedari tadi diam dengan nada monotonnya. Kembali para penggemar berisik itu diam dan seisi kantin kembali dipenuhi bisik-bisik, “berhenti mengungkit masalah ini dan lupakan” kalimat tanpa nada kembali diperdengarkan. Sasori bangkit dari duduknya dan meninggalkan kantin.

Dengan nyali yang tinggal seperempat itu, Sakura menatap memohon maaf kepada teman-teman Sasori yang semeja dengan pemuda itu. Bulu kuduknya meremang ketika memandang tatapan dingin Pain, cepat-cepat dialihkannya kearah Itachi yang tengah menyantap kembali makanannya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa disekitarnya.

***

Pemuda bersurai merah itu menatap pantulan dirinya—dicermin Toilet sekolah—lagi, Surainya tengah basah setelah ia basuh dengan air bersih, ia juga terpaksa meminta izin nanti kenapa Hatake Sensei karena tidak memakai almameternya yang basah.

Digenggamnya almameter lalu berjalan kepintu keluar. Langkahnya terhenti ketika melihat gadis bermata Emerald itu menghadangi jalannya seraya menyodorkan handuk kecil.

Gomenassai Senpai, saya benar-benar minta maaf. Saya juga akan terima jika senpai ingin memberi pelajaran untuk saya” ujarnya lirih sambil memandangi ubin. Ia terlalu pengecut untuk memandang wajah yang mungkin menatap marah padanya.

Sasori mengambil handuk itu dan mengusapkannya pada wajah dan Surainya sementara Sakura tetap menggigit bibirnya, jantungnya berdetak lebih cepat semenjak insiden di kantin tadi. ‘Andai saja tadi tidak mencari Ino pig, sial!’ Runtuk Sakura dalam hati.

Lelaki itu menyodorkan handuk itu ketangan Sakura, “Arigatou” ia melenggang meninggalkan gadis itu yang terdiam kaku.

‘Apa katanya tadi? Apa tidak salah ucap? Yatuhan, senpai itu baik sekali’ batin Sakura speechless. Dengan wajah merah ia kembali kekelasnya.

***

Sasori tengah memandangi langit, sunrise. Ditatapnya langit keunguan itu seksama. Ia selalu memuji keindahan langit, ia menyukai awan-awan pagi, langit biru cerah disiang hari, cahaya ke oranye-merahan disaat Twilight—rembang petang—ataupun sang bulan dan para pengawalnya—bintang.

Diamatinya garis-garis abstrak dilangit dalam diam sampai ia merasa ada yang ganjil dengan hidungnya. Ia menyentuh hidungnya dan merasakan setetes liquid keluar dari hidungnya. Ia memandangi tangannya yang terbalur cairan merah—mimisan, hatinya mencelos.

“Sial”

Dengan cepat diusapnya hidung dengan punggung tangannya dan masuk kekamarnya dengan tergesa-gesa.

***

Sakura menatap halaman belakang sekolah itu perlahan, ia mengedarkan pandangannya sampai menemukan pohon besar tempat pertama kali ia bertemu dengan senpai baik hatinya. Ia mengingat dengan jelas bahwa pada jam seginilah ia menemukan senpainya.

Ia mengeratkan genggamannya pada kain yang membungkus bento, apakah ia terlalu percaya diri dan kurang sopan sehingga menghampirinya? Bahwa ia cukup percaya diri muncul dihadapannya? Entahlah, ia hanya merasa cukup senang dan lega mengetahui bahwa Sasori ternyata senpai yang berhati baik. Setelah menarik nafas, ia berjalan perlahan kearah pohon itu. Ia menegak ludahnya sebelum mengitari pohon tersebut. Dengan kepastian yang cukup mantap, ia mengitari pohon yang perkiraan diameternya 2 m dengan perlahan.

Ia menahan nafasnya ketika melihat Senpai bersurai merahnya tengah bersandar seraya menutup matanya. Perlahan ia mulai berjongkok dan memandangi wajah lelaki muda tersebut.

‘Tidur? Wajahnya tenang sekali. Sayang sekali ia menutup wajahnya, menyembunyikan bola matanya itu’ ia terus memandanginya dengan seksama sampai ia tersentak, wajahnya memerah, ‘Ino benar, dia tampan, wajahnya manis sekali’

Sakura terus mendekat, memperhatikan wajah yang empunya masih tidak tahu jikalau wajahnya tengah ditatap dengan seksama oleh seorang gadis. Sampai tak lama kemudian lelaki itu perlahan membuka matanya.

“Kau”

Sakura tersentak kedua kalinya dan cepat-cepat mundur, “gomenassai telah mengganggu tidur siang senpai” dengan kepercayaan yang masih setengah-setengah ia menatap wajah Sasori.

Sekilas ada sebeset ekspresi yang jarang sekali muncul di wajahnya, lelaki itu cepat-cepat menggerakan bola matanya, menatap obyek lain selain gadis dihadapannya lalu mengendalikan ekspresinya lagi. Ia menatap Sakura lagi dengan ekspresi datar seperti biasa. Ditatapnya gadis itu seraya menuntut penjelasan.

‘Lelaki yang tak banyak omong’ Sakura terperangah sebentar. “Aku datang kesini untuk memberikan tanda permintaan maaf” ia cepat-cepat menjulurkan Bentonya, “Mohon maaf” ujarnya sedikit bersemangat walau ia hanya memandang rumput yang diinjaknya.

Tak ada pergerakan. Sakura mulai merasa canggung ketika Bento yang ia sodorkan tidak direspon sama sekali. Perlahan ia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah senpainya.

Deg!

Pertama kalinya gadis itu melihat tatapan dingin senpai bersurai merah itu. Itu bukan ekspresi yang biasa, pancaran matanya juga tidak biasa, lebih dingin hingga membekukan Sakura yang tengah menatapnya terperangah.

“Kau pengganggu. Berhentilah menggangguku dan pergi dari hadapanku. Jangan bersikap seolah-olah kita saling mengenal. Gadis menyedihkan” Sasori bangkit dan menatap dingin Sakura lalu pergi.

Sakura terduduk lemas, bentonya jatuh dari genggamannya. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajah dengan surainya. Air mata merebak, perasaan sakit kembali menggerogoti hatinya. Senpai yang ia kagumi baru saja, dipandangnya dengan hormat, sikap tidak melebih-lebihkannya baru saja melontarkan kalimat tajam untuknya.

‘Sial, berhenti menangis! Cengeng sekali kau’

***

Saku-chan, came on! Wake up! Kita tidak boleh telat lagi!” Ino mengguncang-guncangkan tubuh sakura yang dilapisi selimut hingga lebih mirip seperti kepompong raksasa.

“Ino pig, pergilah! Aku tidak mau bangun! Tidak mau sekolah!” Bentak gadis itu dengan suara serak yang teredam oleh selimut.

“Bangun forehead!” Dengan paksa Ino menggunakan tenaga kudanya untuk menarik selimut temannya itu. Akhirnya Sakura menyerah.

Ino menatap wajah sahabatnya yang sungguh mengerikan, rambut acak-acakan dengan bayangan hitam dibawah matanya yang sembab, ia menatap ngeri pada Sakura dan bertanya lambat-lambat “Kau… Kenapa Saku-chan?”

Emerald Sakura terlihat sayu, dari ekspresinya ia terlihat enggan menjawabnya, “patah hati”

“Haaah?”

Sakura menceritakan semua kejadian yang ia alami, serta perasaan yang merayap dihatinya. Ino mencerna semua poin yang diceritakan sahabatnya sampai ia reflek melihat jam dinding dan berteriak histeris, “KITA BISA TERLAMBAT!”

***

Sakura mengepel lantai koridor sekolah dengan wajah muram, penampilan dan wajahnya hanya setingkat cukup lebih baik daripada saat dirumahnya tadi pagi. Setidaknya rambutnya cukup rapi dan memakai seragam yang bersih, tak lebih. Kerutan dan tantung mata serta sembab dimatanya tetap terpampang jelas diwajahnya.

Hey forehead, jangan melamun terus! Bantu aku mengganti airnya”

“Eng? Ayo”

Mereka menggotong ember yang cukup besar berdua, mereka melewati ruang kelas kelas X dan XI. Secara reflek Sakura memperhatikan ruang XI-I ketika melewatinya, Emeraldnya bergerak-gerak memandang siswa-siswi disana, tapi ketika dicarinya lelaki bersurai merah, nihil. Gelombang kekecewaan melintas dihatinya.

“Huh! Kenapa toilet jauh sekali sih, mau ditaruh dimana wajah cantikku ketika para senpai melihatku harus mengepel koridor” Ino mulai mengerang tidak jelas.

Sakura tidak menanggapi ocehan sahabatnya itu, ia terus memikirkan senpainya bercharacter double satu itu, bagaimana bisa sifatnya berubah secepat itu? Dilema melandanya, apakah ia harus membenci senpainya karena telah berkata begitu atau memaafkannya dan berfikir positive?

Ino tiba-tiba berhenti ketika melihat 2 lelaki dihadapannya, Sakura yang terus melamun lantas berhenti juga secara paksa karena ember yang mereka pegang berdua menjadi berat.

“Ada apa Ino-chan?” Sakura melihat Ino yang memandang lurus kedepan langsung mengikuti arah pandangannya, seketika gadis bersurai merah muda itu tersentak.

Sasori tengah menatapnya, ada Deidara disampingnya. Lagi-lagi Sasori menatap dingin nyaris seperti tatapan dendam pada Sakura hingga tubuh gadis itu sedikit bergidik. Ino yang telah mengerti situasi ingin sekali menarik sahabatnya jauh-jauh dari senpai bersurai merah itu tetapi masih sangsi.

Tapi ada yang aneh dengan Sasori, wajahnya pucat, keringat yang diperkirakan Sakura ialah keringat dingin mengalir dipelipis lelaki itu, matanya juga sedikit redup. Dengan sekejap Sakura dapat menyimpulkan bahwa lelaki itu sedang sakit.

Dengan memberanikan diri, ia melepaskan genggaman ember ditangannya lalu berjalan mendekat kearah Sasori, membuat laki-laki itu sedikit waspada. “Mau apa kau”

Deidara yang menatap Sasori dan Sakura bergantian jadi sedikit cemas. Apa yang akan dilakukan Sasori? Apa yang akan dilakukan Sakura?

Gadis itu tidak menjawab, jarak 1 meter memisahkan mereka. Sakura menarik nafas perlahan, dimasukannya tangan ke kantong almameternya dan mengeluarkan saputangan merah mudanya. “Mungkin senpai but—“

“Aku tak mengenalmu. Berhenti menggangguku. Kau bukan wanita rendahan kan? Gadis merepotkan” dengan cepat Sasori berjalan melewati gadis itu sedangkan Deidara yang mengikuti Sasori hanya memandang Sakura dengan tatapan menilai.

Singgg…..

Koridor itu menjadi hening. Sakura kembali menjatuhkan kedua tangannya disisi tubuhnya. Liquid dari matanya mulai menerobos pertahanan kelopak mata sang gadis, ia berusaha menggigit bibirnya dengan kuat, seolah menahan air mata yang berebak. Ino meletakan ember itu lalu maju memeluk bahu sahabatnya itu.

***

“Sasori-kun” Seorang gadis berambut biru berjepit bunga putih menatap punggung temannya itu.

Lelaki itu lantas berhenti, “Ya?”

“Aku baru saja selesai membaca laporan dan persentase siswa-siswi yang keluar masuk UKS”, ia menatap ragu punggung temannya itu. “Belakangan ini kau sering sekali kesana”.

“Lalu?”

Gadis itu menghela nafas pelan, sudah jelas sifat Sasori selalu begitu, ia berusaha memahaminya dan berjalan mendekat. “Kau sakit apa? Dilaporan itu kau sering kehilangan kesadaran dan mimisan”, dengan ragu ia menyentuh bahu Sasori.

“Tidak tahu”, lelaki itu menepis tangan Konan perlahan, “Deidara tengah menungguku, Jaa” ia berjalan meninggalkan Konan yang terpaku dibelakangnya.

“Mana mungkin tidak tahu, Sasori-kun, kenapa kau selalu tertutup?” Gadis itu menghela nafas dan kembali memasuki ruang UKS.

***

Sakura berjalan dikoridor sekolah sendiri, Ino tidak masuk karena sakit. Ia ingin cepat-cepat sampai rumah karena sudah tidak tahan dengan sikap para penggemar Sasori yang sibuk membalas dendam padanya karena insiden kantin tempo hari.

Prak!

“Ahahaha rasakan itu, rambut norak!”

“Lihat lihat, pasti sekarang tubuhnya berbau busuk!”

“Siapa suruh kau menyiram Senpai milik kami”

Sebuah telur busuk mendarat dikepala Sakura, tempurungnya jatuh perlahan sementara gadis itu masih Shock. ‘Kami-sama (tuhan), apa lagi ini’ geramnya dalam hati.

Sakura berbalik dan melihat para penggemar Sasori tengah memegangi telur-telur busuk yang lain seraya menyeringai. Sakura menunjuka ekspresi datarnya, “apa mau kalian?”

Seorang gadis diantara mereka menyahut, tapi tidak didengarkan oleh Sakura yang mematung melihat Sasori tengah menatapnya dibelakang mereka, berhenti berjalan dan memperhatikan kejadian dihadapannya.

Sasori menutup matanya sebentar dan memijat pelipisnya, entah tiba-tiba merasa sakit atau sedang berfikir, namun tak lama ia membuka matanya. Wajah datar yang biasa ia tunjukan muncul kembali. Ia melenggang meninggalkan Sakura tanpa berkata ataupun melakukan apapun. Deidara dibelakangnya menatap Sakura iba sebelum kembali mengekori Sasori.

Batin gadis itu mencelos, ‘tak bisakah ia jadi pahlawan barang sekali ini? Laki-laki jahat!’ Ia kembali menatap menantang kearah gerombolan penggemar Sasori, “apa? Lakukan saja! Lakukan LAGI!”

Para gadis itu menyeringai licik dan melempari gadis bersurai merah muda itu. Sakura hanya menghalangi dengan tangannya telur-telur yang mengarah kekepalanya.

***

Lelaki bermata Aquamarine berlari menghampiri Sakura yang tengah duduk memeluk lututnya dikoridor. Dengan perlahan ia berjalan kearah gadis itu dan berjongkok dihadapannya.

“Oi, kau baik-baik saja? Un” dengan canggung Deidara membuka obrolan. Ia mencari sesuatu didalam almameternya dan mengeluarkan saputangan putihnya.

Sekilas gadis itu memandang pemuda dihadapannya, tapi tak lama ia menundukan wajahnya lagi, kecewa. Deidara yang bingung hanya memandang kasihan bercampur kesal itu langsung mengelapkan saputangannya kekepala merah muda itu dengan cepat.

“Maaf terlambat, un

“…”

“Kau tidak bisa berbicara? un

“Pergilah”

“Tidak mau, un” Deidara mengusap cepat kearah wajah si gadis. Terlalu canggung untuknya melakukan hal yang tak pernah ia lakukan ini. Lagipula mereka tidak dekat.

Deidra yang tak tahu harus apa lagi akhirnya melemparkan saputangannya lalu merengkuh pipi gadis itu perlahan. Dilihatnya mata Emerald itu basah. “Oi! Jangan nangis, un. Cengeng sekali kau kepala merah muda. un”

“Kubilang pergi” tangannya berusaha melepaskan kedua tangan asing yang menyentuh pipinya.

“Kubilang tidak mau! Un” lelaki bersurai pirang itu menatap sekeliling wajah Sakura. “Kau jelek sekali. Sudah tahu jelek masih memperparah keadaan, un

Mau tak mau Sakura terdiam dan tertawa kecil, sebenarnya ia kesal karena harus melunak dihadapan senpainya satu ini, tapi sayangnya ia tak bisa menahan tawanya.

Deidara memandang horor Sakura, “kau gila ya? Dihina malah tertawa, un” perlahan dia melepaskan rengkuhan tangan dipipi Sakura.

“Hinaan yang itu terlalu sering untukku, aku sudah kebal”

***

Sakura dan Ino mengobrol ceria dikantin, seperti biasa lagi. Para penggemar Sasori masih kesal dengan mereka, atau lebih mengarah ke Sakura tapi sudah tidak melakukan hal criminal lagi setelah diwanti-wanti Deidara dibelakang Sakura.

Sakura menatap lelaki bersurai merah disebelah Deidara, diam-diam ia tetap memperhatikan orang yang ia benci itu, si lelaki manis Sasori.

Sasori sadar ia diperhatikan dan dengan siapa pula ia diperhatikan. Akhirnya ia memutuskan untuk bergeser lebih dekat dengan Konan dan mengacak-acak surai gadis itu sambil bercengkrama riang.

Wajah Konan memerah dan merespon positive pada lelaki itu. Ia sengaja mengoleskan saus kesudut bibir Sasori yang reflek menghapusnya dengan punggung tangan seraya menggerutu. Tak biasa, meja yang mereka duduki lebih bersuasana friendly, tak seperti biasa.

Sakura langsung menekuk wajahnya dan membuang muka cepat-cepat, menggigigt rotinya dengan kesal. Semua gerakannya diperhatikan oleh seseorang, Deidara.

Lelaki bermata Aquamarine itu tersenyum dan terus memperhatikan Sakura.

to be continue

hohoho, leave comment please.

its my first anime fanfic, debut debut😀

Cr : https://kaniacitra1997.wordpress.com

Sekedar iseng, nakushitte shimatta itu juga bisa artinya ‘ I’ve lost you’🙂

Regard,

Citra Dewi Kania

@Citradewi__

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

4 Responses to FF – Nakushite Shimatta Part. 1

  1. sarahchan says:

    keren aaaaa*.*
    bahasanya bagus. gampang dimengerti. padahal ini prtama kalinya gue baca ff anime tp ttp bisa ngerti maksud ffnya (?) xD daebak cit! lanjutkan’o’)b(?)

  2. Hani Yuliansyah says:

    love it cit. tapii… please nnti2 jangan pake nama anime jepang :’) tau sendiri aku susah mengafal nama orang. tapi, bagus kok. novel terjemahaan bgt kata2-nya….. <3<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s