FF – Nakushite Shimatta Part. 2 (Last)

Nakushite Shimata (Segalanya telah hilang) last Part

Author : Citra D.K ( @citradewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, casts belong to Masashi Kishimoto, Masashi Kishimoto and I belong to God.

Pair : SasoSaku, other pair Saku and Saso

Cast : akatsuki member, Sakura friend and more

Genre : friendly, romance, angst.

P.s : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning!

Don’t like, don’t read.
Happy reading ^^

 

Sakura dan Ino mengobrol ceria dikantin, seperti biasa lagi. Para penggemar Sasori masih kesal dengan mereka, atau lebih mengarah ke Sakura tapi sudah tidak melakukan hal crimial lagi setelah diwanti-wanti Deidara dibelakang Sakura.

Sakura menatap lelaki bersurai merah disebelah Deidara, diam-diam ia tetap memperhatikan orang yang ia benci itu, si lelaki manis Sasori.

Sasori sadar ia diperhatikan dan dengan siapa pula ia diperhatikan. Akhirnya ia memutuskan untuk bergeser lebih dekat dengan Konan dan mengacak-acak surai gadis itu sambil bercengkrama riang.

Wajah Konan memerah dan merespon positive pada lelaki itu. Ia sengaja mengoleskan saus kesudut bibir Sasori yang reflek menghapusnya dengan punggung tangan seraya menggerutu. Tak biasa, meja yang mereka duduki lebih bersuasana friendly, tak seperti biasa.

Sakura langsung menekuk wajahnya dan membuang muka cepat-cepat, menggigigt rotinya dengan kesal. Semua gerakannya diperhatikan oleh seseorang, Deidara.

Lelaki bermata Aquamarine itu tersenyum dan terus memperhatikan Sakura.

***

Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Sakura telah membulatkan tekatnya untuk menjauhi Senpai bersurai merah dan kawan-kawannya itu. Hatinya sakit ketika ia melewati kelas mereka, hanya tatapan dingin atau hinaan yang ia dapat—walaupun tidak semuanya memperlakukannya seperti itu.

Ia juga mulai jarang bertemu dengan pemuda itu. Ia tidak muncul dikantin ataupun hadir dikelasnya. Deidara juga jadi sering berjalan dengan Itachi atau Tobi ketika bertemu dengannya dilorong. Dimanakah lelaki bersurai merah itu?

Ia sadar, seharusnya ia membenci orang itu, bukan merindukannya. Orang yang mempermalukannya didepan umum, orang yang hanya berpura-pura bijak ketika insiden kantin, orang yang menolak bento yang dengan sulit ia buat, orang yang selalu menatap Sakura dendam atau menganggapnya tidak ada,

Benci, benci, dan benci. Tidak ada cinta untuk orang itu—sesaat hati Sakura mencelos, sulit membohongi diri sendiri.

Semenjak hari itu, Sakura mulai berubah. Tidak secara spesifik sebenarnya. Hanya terhadap orang-orang ‘khusus’ saja.

Siang dikantin, akhirnya selama seminggu tidak melihat senpai bersurai merah itu, lelaki itu muncul dihadapan Sakura. Namun, Sakura memberikan respon barunya, ia tak ingin selalu ditindas oleh tatapan-tatapan senpai khususnya itu.

Sasori tengah menatapnya dingin seperti biasa, namun tidak setegas dulu, entah kenapa wajahnya terlihat lelah dan sayu, tubuhnya terlihat kurus. Tapi Sakura—berusaha—tidak mempedulikannya lagi, ditatapnya lelaki bersurai merah itu dengan dendam yang menyala-nyala dimatanya sampai Sasori sekilas terperangah lalu sedetik kemudian kembali ke ekspresi semula.

***

“Sasori, kau disana?” Seorang wanita tua memasuki kamar Sasori, namun lelaki itu tidak ada, ia membuka pintu kearah balkon tetapi Sasori tetap tidak terlihat. Sang wanita tua mulai menunjukan raut cemas, ia memandangi sekeliling kamar Cucunya sampai ia melihat pintu kamar mandi. Diketoknya perlahan pintu itu, “Sasori?”

Tak ada jawaban, dengan perlahan sang wanita tua itu memutar kenop pintu kamar mandi dan terlonjak kaget melihat cucunya tergeletak diubin dengan hidung menetesi darah.

“Sasori!”

***

Sasori Pov

Kubuka mataku, hal pertama yang kulihat ialah putih, warna putih. Kupicingkan mataku dan berusaha menatap jelas sekeliling. Aku tahu ini dimana. Tempat dimana pada akhirnya aku akan dibawa kemari. Menyedihkan, sekarang aku adalah Akasuna Sasori yang tergeletak lemah tak berdaya. Tapi kemudian aku menyesali pemikiranku.

Aku berusaha tersenyum walau samar, tuhan telah menggariskan segalanya. Dan disinilah aku berakhir, kucoba menutup kembali mataku, aku ingin disisa-sisa nafasku ini menjadi waktu paling bahagia, dimana semua beban dikepala dan hatiku menguap. Tapi sayangnya, harapanku tak terkabul. Aku merasa berat. Tidak bebas. Tidak lega.

Satu-satunya bayangan yang menari-nari didepan mataku hanyalah gadis itu, Haruno Sakura. Tak kusadari senyumku terkuak, entah kenapa mengucapkan namanya seperti candu, begitu menyenangkan. Ia tersenyum bodoh, membuatku gemas sendiri.

Gadis bodoh yang tiba-tiba bisa menjadi gadis pemalu. Sakura, Sakura, Sakura. Terus kurasakan bibirku membentuk senyuman, ahaha sepertinya aku rindu tersenyum, lantas ini membuatku senang.

Lalu saat mata kami bersiborok, Emeraldnya sungguh indah, hijau jernih yang menyenangkan. Ekspresi bodohnya, lagi lagi ekspresi bodoh yang jika wanita-wanita normal lain pasti akan malu jika menunjukannya didepan orang banyak. Tapi gadis itu tidak.

Aku tergelak, gadis itu bukan gadis normal? Entah kenapa hatiku terasa cukup senang mendengar suara tawaku yang tak terbebani. Sekilas, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan ini—sedih, sedih akan kematian, sedih akan keharusan meninggalkan dunia, sedih takkan pernah melihat senyum cerianya yang bodoh itu.

Aku kembali tersenyum, bukan senyum bahagia sebenarnya. Tapi tak terlalu buruk, waktuku tinggal sebentar lagi, aku ingin terus tersenyum dan tertawa—sesuatu hal yang jarang kulakukan semasa hidupku.

Lalu tiba-tiba aku teringat ekspresinya baru-baru ini. Ketika aku harus beristirahat terus dirumah dan tak bisa memperhatikan tingkah bodohnya lagi. Ketika aku masuk lagi, aku sangat bersemangat pergi kekantin. Kulihat kepalanya, surainya sangat mencolok sampai gampang ditemukan.

Sedikit mencelos juga harus memandangnya dengan tatapan tak suka ku, tapi apa mau dikata, dia tak boleh sakit terlalu jauh, walaupun aku tidak begitu yakin ia menyukaiku atau tidak, tetapi cari aman lebih baik.

Kupandang dia, ia menyadari tatapanku dan membalasnya, tapi bukan ekspresi senang, bodoh, ataupun sedih yang ia tunjukan, ekspresi yang membuatku terkejut, matanya berkilat marah, hampir-hampir penuh kebencian, kembali aku mencelos. Kupejamkan mataku lebih erat.

Satu hal yang harus kau sadari, Akasuna. Kau yang memperlakukannya dengan tidak baik pada awalnya, seperti kata pepatah, tak akan ada asap jika tidak ada api. Ia membalas perlakuanmu sesuai rencana. Seharusnya aku senang bukan?

Tapi kenapa hatiku sakit?

Kuhela nafasku, Sakura, apa kau benar-benar membenciku sekarang? Tak pernah kubayangkan kau akan semarah itu padaku. Sakura, inikah yang kau rasakan? Rasa sakit ini?

Tanganku bergerak, memegangi dadaku yang sakit ini, rasanya ingin sekali kuremas jika bisa mengurangi rasa sakitnya, tapi sayangnya tidak bisa. Kembali kuhela nafasku.

Omong-omong aku tak suka dengan bau disekitar sini, Byouin—Rumah Sakit. Bau yang membosankan dan tak ada harumnya sama sekali, tidak secara spesifik sebenarnya.

Kudengar ada suara orang lain, kucoba untuk mempertajam indra pendengaranku ini.

“Jadi, kapan kita melakukannya, Isha—Dokter?”

Suara cempreng yang familier, siapa ya. Deg! Tunggu, aku jadi sedikit sulit mengingat. Kucoba berkonsentrasi dan mendalami diriku. Cempreng, cempreng, cem– cerewet, Deidara! Ya, benar.

“Setelah ia sadar, jika malam ini ia siuman, besok pagi bisa kami laksanakan”

Apa? Mereka mau apa? Menyuntikan jarum berisi racun—Baka! Sejak kapan pikiranmu menjadi sengawur itu hey Akasuna.

Ckleeek..

Kubuka mataku, sedikit buram, kupicingkan sosok putih dihadapanku. Bentuknya seperti manusia, tapi berbadan mungil, Kangofu—perawat?

“Ah… Kau sudah sadar tuan Akasuna?” Dia tampak tersenyum yang menurutku bukan senyum alami—dibuat-buat. Kuanggukan kepalaku, sebenarnya sebagian besar alasanku bukan untuk meyakinkannya, hanya untuk mengetes apakah aku bisa bergerak. Dan cukup sukses, setidaknya tubuh ini tidak terlalu kaku.

“Syukurlah. Sebentar ya” ia memeriksa alat-alat di meja sebelahku, tapi aku tak peduli. Kupejamkan kembali mataku sampai ia berkata, “aku akan segera memberi tahu Isha bahwa kau sudah sadar”

Kudengar derap langkahnya lalu bunyi pintu tertutup, kubuka lagi mataku. Kudengar suara orang—yang kurasa lebih dari 2—tengah bercakap-cakap. Tak lama muncul seorang lelaki tinggi yang aku bisa tebak sebagai Isha. Dibelakangnya mengekor seorang… Berambut kuning panjang, dia lelaki atau perempuan?

Kupertajam mataku, ia sosok familier. “Oi danna, sudah merasa baikan? Un” tanyanya seraya menepuk-nepuk kakiku canggung. Siapa lagi yang memanggilku danna kalau bukan Deidara. Kenapa aku baru menyadari dia mirip wanita ya?

Yosh

“Besok pagi kau akan dioprasi, Chiyo obaasan telah pulang sejam yang lalu untuk istirahat” nenek, kenapa kau harus pulang? Waktuku sempit padahal.

“Ehm” kucoba berdeham, tidak terlalu buruk, “jam berapa oprasinya?”

“Sekitar jam 7” Isha-lah yang menyahut. Benar-benar sempit, mungkin ini akan terlihat begitu pesimis, ketika aku selalu berbicara mati dan waktuku semakin dekat. Aku bukan tuhan, tapi aku masih bisa merasakan. Perasaan yang menyatakan padaku bahwa aku akan pergi.

Aku hanya mengangguk ketika Isha menanyakan kabar dan ini itu hingga ia keluar. “Aku lelah—kau pasti lebih, tapi bisakah aku minta tolong?”

Dahi Deidara berkerut dan mengangkat sebelah alisnya.

“Waktuku tak banyak, besok pagi, jam 5 bisa kau jemput obaasan?” Ia hanya mengangguk casual, “1 lagi, jam 6, bisakah kau menjemput…” Aku ragu ia mau datang, yeah datang melihatku yang terbaring sekarat. “Haruno Sakura?”

Ia menatapku sebentar sedangkan aku menatap serius kearahnya sampai akhirnya ia menatap dan mengangguk pasti padaku.

Aku tersenyum padanya, senyuman tulus persahabatan yang terbaik yang pernah kukeluarkan, khusus untuk sahabatku Deidara ini. “Istirahatkah, aku tahu kau sangat lelah. Aku juga ingin istirahat”

“Istirahatlah dan berjuang, Sasori no Danna” ia tersenyum cerah walau terlihat raut lelah diwajahnya lalu berbalik dan berjalan keluar.

“Deidara”

Lelaki itu terhenti dan berbalik, “un?”

Arigatou

***

“Dei, aku butuh bantuan”, lelaki itu terlihat kalang kabut.

Un? Apa yang bisa kubantu? Hmmn” Deidara jelas bingung melihat Dannanya itu.

“Selamatkan dia, lindungi dan obati dia”

Deidara tertegun sebentar, “un?”

“Jadilah pahlawan untuknya, jangan pernah sebut namaku dibalik semua sikapmu nanti”

“Sasori no Danna hm”

Kubuka mataku dengan cepat, mimpi. Ini seperti berlostalgia, permintaanku pada sahabat terbaikku. Kucoba untuk tersenyum, benar, harusnya aku tersenyum, bukan merasa sakit.

Hey Akasuna, salahmu menjadi lelaki penyakitan, salahmu tidak bisa jujur, salahmu sendiri yang menjadikan Deidara penggantimu. Sakit sebenarnya melihat Deidara selalu berdekatan dengan gadis itu, tertawa, saling ejek, saling peduli.

Tapi aku tetap tidak boleh menyesal. Ini adalah pilihanku. Biarlah Sakura bersama dengan Deidara. Gadis Emerald itu tidak pantas memiliki seorang pendamping sepertiku, penyakitan dan akan mati. Ia membutuhkan lelaki kuat yang bisa menjaganya.

Hatiku kembali berdenyut perih saat mengingat insiden itu, dari kepalanya menetes-netes cairan kuning kental dengan bau menusuk—telur busuk. Ketika ia kesakitan, ketika ia membutuhkan seorang untuk menolongnya, melindunginya. Apa yang bisa kulakukan? Menyuruh seorang sahabatmu menolongnya? Pengecut, tapi itu Aku. Sasori. Akasuna Sasori.

Kucoba untuk mencari objek menarik dikamar ini. Kuedarkan pandanganku sampai menemukan jam dinding. 05.10.

Obaasan, kau belum sampai juga ya? Tak bisa lebih cepat lagi? Kututup mataku dan berdoa. Haha, jarang sekali aku berdoa, pantas saja tuhan melaknatku.

***

Au Pov

“Kau harus terus hidup, Sasori. Aku telah berjanji pada kedua orang tuamu untuk merawatmu. Aku sangat menyayangimu.” Chiyo obaasan terlihat begitu letih dan sedih menatap cucu satu-satunya itu terbaring tak berdaya diranjang Byouin.

Sasori hanya memejamkan kedua matanya dan tersenyum, ia tak ingin berbohong. Cukuplah menenangkan orang itu.

Wanita tua itu akhirnya dituntun oleh Kankuro (teman kecil Sasori) keluar ruangan. Kankuro hanya menatap optimis temannya.

Deidara telah pergi menjemput Sakura. Tugas pemuda bermata Hazel itu hanya menunggu, tapi sayangnya ia benci menunggu. Ia bergerak-gerak gelisah, ingin melakukan hal lain.

Dilihatnya dua buah boneka setinggi 45cm disamping ranjangnya. Boneka buatan kedua tangannya sendiri, boneka yang menemani Sasori kecil ketika kesepian, ketika merindukan Ayah Ibunya, boneka berbentuk Ayah dan Ibunya yang ia contoh dari satu-satunya foto yang ditinggalkan mereka berdua.

Kankuro telah membawakan boneka kesayangannya untuk mengisi waktunya.

Lelaki itu mengamati kedua boneka tersebut, lalu dengan perlahan diambilnya. Perlahan ia melilitkan benang-benang halus boneka dijari-jarinya lalu menggerakannya.

Perlahan dan perlahan, boneka itu terus bergerak, menyita seluruh pemikiran sang lelaki muda itu. Sang pemuda tidak menyadari tetes demi tetes liquid mengalir dipipinya lalu jatuh. Ia tersenyum dan tak berusaha menghapusnya.

***

Jam telah menunjukan pukul 06.32. Lelaki bersurai merah itu memandangi langit-langit ruang rawat itu. Sebentar lagi akan dilaksanakan proses yang akan menentukan, ia masih bisa hidup atau harus pergi ketempat lain disana.

Tak ada kunjungan seorangpun setelah wanita tua setengah jam yang lalu itu. Matanya hampa, kekosongan mengisi wajahnya. Ia menutup kedua matanya sambil bergumam lirih,

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku

sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Hitotsu hitotsu omoidaseba

Subete wakatteita kigashite ita no ni

Iroaseta kotoba wa boku no sugu soba ni oite atta

Kotaete no denai yoru to

Hitokira no nukumorito

Haruka kanata no akugare to

Tada sore dake wo kurikaeshi boku wa ikite iru

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku

sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Anata ga omou kotowo sameru koto nakutemo to ni tsukamitai no ni

Hito dearu bokutachi wa sono kimochi wo

Wakachi aenai mama

Kotoba ga hanatsu imi wo

Tatoe no nai omoi wo

Kotaeru koto no nai kanjou wo

Mitsumaeaeba tsutawaru koto ga dekitara ii no ni na

Kono ryoute ni kakaete iru mono toki no shizuku

sotto nigirishimete wasureta kioku nakushita kotoba

Kono omoi wa mune ni shimatte okou

Nakushite shimatta…

Perasaan ini adalah yang tersisa dari waktu yang telah berlalu
Kugenggam dengan lembut, kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang

Satu persatu kenangan itu pergi
Ketika aku merasa dapat memperbaiki semuanya,
Segalanya lenyap begitu saja dari sisiku

Malam yang kulalui tanpa jawaban yang pasti
Lenyap dalam kehangatan
Lelah mengharapkan sesuatu yang tak pernah tercapai
Kuarungi semua itu berulang kali

Perasaan ini adalah yang tersisa dari waktu yang telah berlalu
Kugenggam dengan lembut, kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang

Pikiranmu yang terlanjur dingin kucoba hangatkan kembali
Aku dan kau bukanlah seperti orang lain yang dengan mudahnya menyatakan perasaan.

Perasaan yang tak ternyatakan
Hasrat tanpa jawaban yang nyata
Semua mungkin akan lebih jelas jika bila kita saling bertatapan

Perasaan ini adalah yang tersisa dari waktu yang telah berlalu
Kugenggam dengan lembut, kenangan yang terlupakan, kata-kata yang telah hilang

Rasa ini akan selalu kusimpan didalam hatiku

Segalanya telah hilang…

(Nakushita Kotoba by No regret life)

Lelaki itu menangis dalam diam, air matanya berlinang jatuh dari pipinya. Hari penantian ini adalah hari yang telah difikirkan jauh lebih dulu sebelum hari ini.

Ketika ia akan melunakan hati sang gadis, menyatakan semuanya, segala perasaan yang berkecamuk dalam benaknya pada sang gadis. Perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan yang telah lama tersimpan dari waktu yang telah lama berlalu.

Dengan tegar dan sabar, ia melantunkan baris demi baris lagu itu dengan suara lirih. Penantiannya, menunggu sang gadis yang tak kunjung menampakan diri dihadapannya.

“Sakura, Sakura-chan, Haruno Sakura, Aishiteru” kalimat itu akhirnya terucap dibibir pucat Akasuna Sasori dengan luwes.

Dihapusnya air mata yang berlinang itu dan mencoba tegar. Dengan sabar, walaupun ini bukanlah sifatnya, ia berusaha menunggu sang gadis.

Tik, tik, tik, tik

Jam dinding terus berdetik. Dengan setia sang pria memandangi pintu ruang rawat itu. Menunggu seorang gadis yang telah menawan hatinya melewati pintu itu.

Ia menutup matanya dan berdoa.

‘Tuhan, bisakah aku melihatnya? Untuk kali ini saja? Bahkan untuk terakhir kalinya juga tak apa. Tuhan, apakah kau akan mengakhiri nyawaku sekarang? Tak bisakah aku bertemu dengannya untuk yang terakhir?’

Ckleeeek…

Setetes liquid bening jatuh dari mata indah Sasori yang baru ia buka. Dengan gerakan cepat ditatapnya pintu itu.

Hatinya teriris sempurna, sang Isha dan para Kangofu datang. Sang pria melirik jam dinding, 07.05.

“Akasuna-san, kita akan segera melakukannya” sang Isha tersenyum ramah. Sasori menutup lagi kedua matanya.

Do it

***

Seorang gadis berlari sekuat tenaga dilorong Byoin, nafasnya terengah engah, peluh membasahi tubuhnya, tapi ia tak gentar. Dibelakangnya sesosok pria bersurai pirang panjang menatapnya seraya lari mengekorinya.

Tap, tap, tap…

Sampailah mereka ditempat tujuan.

Ya, ruang operasi.

Tampak sesosok pria bersurai coklat berantakan disamping seorang wanita tua duduk menunggu dengan sabar.

Sakura berjalan gontai dan duduk dibangku yang masih kosong. Wajahnya benar-benar kalut sedangkan pria bersurai pirang menatap pintu operasi itu dengan nanar.

Deidara menunduk, poninya menutupi wajahnya. Tak terlihat ekspresi apa yang dikeluarkannnya, tapi setetes liquid mengalir dipipinya. “Baka

Sang wanita tua menatap Deidara yang menangis ditengah lorong bangkit dan berjalan perlahan kepadanya, “Deidara, jangan menangis. Didalam Sasori tengah berjuang, duduklah yang tenang” sang nenek merangkul sayang dan mendudukannya dikursi. “Tenanglah, kau berdoa saja, ya. Sasori anak yang kuat. Bisa-bisa dia marah jika kau menangis disaat ia sedang berjuang”

Deidara menghapus air matanya, “aku terlambat nek, aku tak bisa memenuhi permintaan terakhir yang ia berikan sebelum ini” dihelanya nafas dengan berat, “ini… Adalah permintaan yang berbeda dari yang lain. Hampir saja ia memohon untuk melakukan ini nek. Hn”

Sakura menahan nafasnya, ingin sekali mengutuk kebodohannya. Ia tak menanggapi senpainya yang datang dipagi buta itu. Dengan teguh Deidara tetap menunggu si gadis sampai ia mau membukakan pintu. Namun terlambat.

Sebuah permintaan tak dapat terkabul.

Dadanya sakit begitu mengetahui keadaan sesungguhnya seorang senpai bersurai merah yang ia benci itu. Penyesalan selalu datang terlambat.

Sejam kemudian pintu terbuka. Ekspresi lelah sang Isha menyambut berbagai ekspresi para keluarga. “Sumimasen

Dan detik itu juga Sakura berteriak lantang, “APA MAKSUDMU!”

Sang nenek hanya terdiam, sedih yang mendalam. Cucu satu-satunya telah pergi. Dengan cepat ia mendudukan diri dan menarik nafas dalam-dalam. Kankuro meneteskan air mata dan memeluk sang wanita tua.

Tak lama para kangofu mendorong sebuah penderek, diatas sana sesosok jasad tergeletak, tertutup kain putih bersih.

Sakura langsung meledak, ia menangis terisak, dikejarnya penderek itu sampai memasuki sebuah ruangan. Para Kangofu menatap sang gadis iba lalu pergi meninggalkannya.

Sakura menarik nafas tercekat, dan menarik kain putih itu. Hatinya berdenyut-denyut perih. Senpai bersurai merahnya, senpai ber iris Hazel yang indahnya, senpai yang dibencinya terbaring disana.

Sesak melihat rambutnya yang dulu tebal telah dipotong, hasil menjalani operasi itu. Tumor Otak. Dipeluknya jasad tak bernyawa itu dengan erat, diguncang-guncangnya tapi tak ada respon sama sekali. Air matanya tumpah seketika.

“Sasori-san bangun! Saso-kun! Bangun, kau, pria jahat bangun! Teganya kau pergi meninggalkanku dengan banyak tanda tanya hah!” Histerisnya sambil berlinangan liquid bening. “Kenapa kau tega meninggalkanku! Kenapa kau tidak jujur hah!,

“Saso-kun, tak tahukah bahwa aku menyukaimu? Lebih dari perasaan suka terhadap idola, lebih dari itu! Sasori-kun, tak tahukah hatiku berteriak girang saat kau ucapkan ‘arigatou‘ dengan nada tulusmu itu? Jawab aku kumohon,

“Saso-kun, tak tahukah aku sakit ketika kau menghinaku? Sakit atas menyadari penolakanmu padaku? Rasa takut bercampur sedih bersatu. Aku juga tak suka saat kau bersama Konan-senpai berdekatan,

“Saso-kun, kenapa kau harus menyampaikan perasaanmu pada Dei-san? Kenapa kau tak bilang padaku? Setidaknya aku tak akan pernah menolakmu, aku menerimamu apa adanya sampai kau berhenti bernafas!

“Saso-kun, terimakasih kau mengirimiku seseorang kakak seperti Dei-san, ia telah menceritakan semua padaku. Maafkan aku, karena egoku aku tak ingin bertemu denganmu, aku terlambat datang, aku pantas kau benci,

“Sasori-kun, kumohon dengarkan aku, Arigatou! Aishiteru! Gomenassai!” Sang gadis berteriak histeris sambil memandang kearah jasad itu

Sementara seorang pria ber iris Aquamarine tengah menangisi kebodohannya, menyesali kegagalannya. Memorinya terputar saat-saat penyakit Sasori belum bertambah parah.

Bayangan itu memenuhi ingatan Deidara.

Danna, apa itu yang benar-benar kau inginkan? Un” Deidara menatap serius temannya itu.

“Hn?”

“Menjauhi gadis kepala pink itu un

“Ya”

“Kukira kau menyukainya, un

Sasori yang tengah mengambil ancang-ancang untuk men-shooting bola terhenti sebentar lalu men-shootnya. Gagal. Sasori memandangi bola yang tengah memantul perlahan seraya merenung.

“Aku sudah memikirkannya” ia mengambil bola yang terdiam ditengah lapangan lalu mem-passingnya ke Deidara. “Aku tidak butuh wanita” dipalingkan wajahnya memandang langit-langit gymnasium, kembali merenung.

Rasanya ingin sekali lelaki berambut panjang itu melemparkan bola kekepala Dannanya jika saja ia tidak mengenal sifat Sasori, tapi sayangnya ia memahami Sasori. “Kenapa kau hanya pasrah un. Itu lemah dan bodoh, un. Jika aku jadi kau, aku pasti lebih pintar darimu! Aku akan mencari solusi un

Diluar dugaan, Sasori tersenyum, sangat jarang sekali ia menarik sudut bibirnya itu keatas. “Deidara, kau tahu kenapa aku lebih memilih kau daripada yang lain?”

Lelaki ber iris Aquamarine itu hanya memandang sinis sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Karena kau membuatku lebih hidup”

“… Apa maksudmu? un

Sasori hanya mengendikan bahu seraya memandangi bola ditangan temannya itu.

“Huh, Sasori no Baka! Kau memang tidak jelas. Tapi aku mau tanya un. Kenapa kau hanya pasrah dan tidak berusaha berobat? Un” Deidara mendengus, tetapi tatapannya kembali serius.

Sesaat Sasori tergelak, membuat Deidara membelalakan mata, ada ‘apa dengannya hari ini?’

“Ya, aku baka” ia kembali tergelak. “Kau tanya kenapa aku pasrah? Karena walaupun aku berobat, jika takdirku berkata lain, aku tetap akan mengikuti garis takdir. Itu hanya membuang-buang waktu dan uang”

Sesaat lelaki ber surai panjang itu terperangah mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut temannya itu. “… Jadi kau mau bilang itu tidak berguna? Un” ia memandang dannanya dengan tatapan horor.

Sasori hanya mengangkat bahu dan nyengir, seolah mengatakan itu benar.

“Kau gila ya, haah pemikiranmu itu sungguh rumit un” ia terus-terusan mencibir. Baru pertama kali ia menemukan orang yang mengatakan berobat itu tidak berguna. “Lalu.. Kenapa kau bertindak begitu pada si Haruno? Un

Sasori terdiam sebentar, namanya Haruno?, “Untuk apa aku berbuat baik padanya. Aku bisa mati kapan saja, orang sering bilang, jika sudah jatuh cinta akan sulit melepaskan. Aku hanya tak ingin ia bersifat baik padaku” sesaat pemuda ber iris Hazel itu berhenti dan merenung, “walau ia hanya memandangku sebagai nii-san atau senpainya”

Lagi-lagi Deidara dibuat bungkam olehnya, ‘pemikiranmu itu, panggilan Sasori no Danna cukup pantas juga’, “jadi kau menyimpan rasa padanya? Un

Kembali Sasori tersenyum, meski tersenyum miris. “Sejak ia masuk sekolah ini. Jadi namanya Haruno ya”

“Benarkah? Coba ceritakan padaku! un. Ya, Haruno Sakura. un

‘Nama yang cantik’, “tidak. Aku lelah berbicara banyak”

Deidara hanya menyeringai sinis, tapi sekejap air mukanya berubah “tumben kau bicara banyak un” Deidara mengernyitkan dahinya.

“Nikmati dan dengar saja. Mungkin aku tak bisa seperti ini lagi” Sasori kembali tersenyum samar merasakan beban di dadanya menguap.

Deidara kembali meruntuki kebodohannya. Misi terakhir dari seseorang telah membuatnya belajar banyak, telah ia anggap sebagai masternya itu, ya. Akasuna Sasori. Sasori no Danna.

Sedangkan sang gadis hanya bisa menangisi kebodohannya, penyesalan kepada sang pria yang terlambat menyadari keadaan.

Kisah sang pria yang telah memutuskan untuk menunggu sang gadis menghampirinya ditenggat waktu yang tinggal sedikit, namun tuhan telah berkata lain, garis takdir telah berkata berlawanan. Kisah dua insan yang tak bisa mengungkapkan kenyataan sesungguhnya karena batas waktu. Nakushite shimatta.

Owari~

Yeah! Finally I was finished my first anime Fanfiction. Thanks to god and my brain(?)^^
Sedikit cuap-cuap :
yea, akhirnya saya menyelesaikan ff ini dalam waktu 11 setengah jam. Fiuh~ ditengah ke stressan saya yang esok hari akan menghadapi Ujian Sekolah (berhubung saya kelas IX) dan beberapa trouble dalam hidup (?) Akhirnya saya membuat cerita sad ending ini.

Sebenarnya, saya mendapatkan inspirasi membuat cerita seperti itu sudah dari tahun yang lalu, tapi baru sempat menuliskannya sekarang walaupun cerita diatas tidak terlalu perfect dari pemikiran saya sebelumnya. Well, saya juga manusia dan tidak bisa sempurna, jadi dimohon maaf saja. Atas kesalahan saya^^

Untuk soundtrack or backsound, silahkan dengarkan Nakushita Kotoba dan dihayati ceritanya (?). Masalah kenapa saya pilih lagu itu, karena saya selalu tesentuh mendengar lagu keramat itu . Entah saya yang terlalu menghayati atau apa, tapi maknanya lagu itu dalam, jadi saya putuskan juga untuk memakainya.

Lalu tentang pairing : Sakura Sasori or we can said SasoSaku. Entah kenapa saya suka dengan pairing itu, jika SasuSaku sudah terlalu banyak dan ingin mencari sensasi baru saja hoho.
SasoKonan disini sedikit ya, soalnya saya lebih suka NagatoKonan, sedangkan saya gak terlalu tega nyeritain SasoKonan walau cukup suka pairingnya.

Ok, selesaiin aja deh cuap-cuap yang panjangnya udah kayak ff bergenre drabble Ini. Arigatu Gozaimasu sudah membaca fanfic saya. Leave comment please, because your comment make me conscious^^
Don’t flame, thanks.

credit : https://kaniacitra1997.wordpress.com

Regard,
Citra (@Citradewi__ )

 

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

2 Responses to FF – Nakushite Shimatta Part. 2 (Last)

  1. Ryriewijaya says:

    Demi apa gw netesin air mata gw baca ff ini(?) pertama gw benci bgt sama si sasori itu-_- tapi kasihan juga(?) Nice ff tuin^^ arigatou udah mempercayakan gw baca._.

    • CDK world :) says:

      Aish Arigatou ne udah nyempetin wktu buat baca ff saya twin :”^D
      Cie nangis ._.v knp benci sama Sasori?😄
      Tentutentu ;;)

      Arigatou udah mampir, silahkan mampir lagi ne lain waktu ‘o’)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s