FF – Emerald

Konbanwa minna-san, malam ini saya ingin berbagi link fanfic anime sebenarnya.
Kenapa hanya link? Karena ini bukan ff buatan saya, namun ff fav saya :B

Ini adalah salah satu FF anime ber chapter favorit saya. jika tertarik dengan cuplikan (?) Dibawah ini, silahkan dibaca😀

Emerald : Ketika Sakura terpaksa harus menjadi bagian dari Akatsuki dan jatuh cinta dengan para penjahat kelas S, Sakura Centric
Naruto, T, Indonesian, Romance, chapters: 14, words: 34k+, favs: 180, follows: 89, updated: 2/2/13 published: 11/18/09, Akatsuki & Sakura H.

Ohya, untuk chapter 1, aku copy di artikel ini, tinggal di scroll ke bawah aja ya ^^

Jika tertarik tinggal klik link chapter-chapter selanjutnya aja🙂

Chapter 1 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/1/Emerald

Chapter 2 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/2/

Chapter 3 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/3/

Chapter 4 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/4/

Chapter 5 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/5/

Chapter 6 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/6/

Chapter 7 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/7/

Chapter 8 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/8/

Chapter 9 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/9/

Chapter 10 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/10/

Chapter 11 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/11/

Chapter 12 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/12/

Chapter 13 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/13/

Chapter 14 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/14/

Chapter 15 :
http://m.fanfiction.net/s/5519384/15/

***

Chapter 1 :

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Emerald

Pairing : SasoSaku, DeiSaku, TobySaku, ItaSaku, HidaSaku, PeinSaku.

Cahaya bulan tampak sedikit-sedikit menembus ruangan gelap, sempit dan berbau anyir, setengah ruangannya diterangi sinar jingga yang berpendar malu-malu memperlihatkan isi ruangan yang lebih layak dikatakan sebagai ruangan penyiksaan alih-alih sebuah kamar, tempat itu dipenuhi dengan bercak-bercak darah yang sudah mengering, baju yang sudah sobek-sobek, bahkan tulang-belulang manusia di pojok ruangan yang sesekali terlihat bergerak karena binatang-binatang kecil yang bersarang di dalamnya. Satu-satunya hal yang bisa disebut kenyamanan hanyalah sebuah tempat tidur kayu yang keras dengan bantal yang agak bersih dan sebuah selimut yang masih terlipat rapi di atasnya.

Sakura Haruno memandang berkeliling dan terlihat menggeram kesal, tak ada tanda-tanda ia memiliki peluang untuk melarikan diri, Kunoichi cantik ini merasakan adanya chakra kuat yang melapisi pintu ruangan, akan sia-sia saja meninjunya dengan chakranya yang sudah habis dan rasanya tali yang mengikatnya membuat tubuhnya semakin lama semakin melemah. Ia memandang dirinya sendiri, keadaannya saat ini benar-benar payah, ia terduduk di lantai dingin dan bersandar pada tembok yang dingin, kedua tangannya diikat kencang ke belakang sehingga rasanya tali ini seperti menyumbat aliran darahnya dan kedua kaki jenjangnya diikat dengan tali chakra yang sama. Baju merah tanpa lengan yang dipakainya sudah sobek-sobek, sayatan-sayatan dalam memenuhi tangan dan kakinya, tak ketinggalan lebam-lebam yang memenuhi wajah cantiknya.

Sakura sudah menghabiskan chakranya untuk melawan Sasori dan Deidara sebelumnya, mereka bertarung di tengah misi Tim 7 untuk menghalau Akatsuki yang menculik Gaara dan berniat mengambil monster di dalam tubuh Gaara, Sakura bersama Kakashi, Naruto dan nenek Chiyo bertarung dengan para anggota Akatsuki, ia tidak tahu bagaimana akhirnya, yang ia tahu Sasori sudah menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya dan membuatnya pingsan selama beberapa jam, -ia tidak tahu berapa tepatnya. Entah kenapa racun itu tidak membunuhnya, dan untuk apa Akatsuki membawa tubuhnya kemari? Entahlah, yang ia yakini sekarang ini adalah bahwa ia tengah berada di markas penjahat kelas-S yang paling berbahaya, Akatsuki.

YYY

Sakura membuka sedikit-sedikit matanya dengan berat, ia tidur dengan memposisikan kepalanya di atas kedua lututnya, rambut pink sebahunya menutupi wajahnya dan samar-samar ia mendengar seseorang di dekatnya.

“Hoi Pinky!”

Sakura mendongak dengan gerakan yang sangat cepat dan memandang laki-laki di depannya dengan was-was. Sosoknya yang tinggi langsing berdiri di depannya, ia menunduk dan menatap Sakura dengan mata biru cemerlangnya, tidak tersenyum. Ia malah terlihat masam memandang Sakura.

“Lepaskan aku!” Bentak Sakura, ia memandang Deidara dengan galak, yang dibentak bukan merasa takut, tetapi malah tersenyum mengejek. Mana mungkin ia takut pada seorang gadis manis berambut pink yang chakranya sama sekali lemah dengan tangan dan kaki yang terikat kencang, dan satu-satunya kekuatan yang dimilikinya mungkin hanyalah mata emeraldnya yang tajam menusuk.

“Diam Pinky!”

“Namaku bukan Pinky, aku Sakura Haruno..”

Deidara memutar bola matanya, ia menunduk dan menarik kedua sisi lengan Sakura dan membuat Sakura berdiri, ia kemudian membungkukkan badannya dan serta-merta merangkulkan lengannya ke pinggang dan kaki Sakura.

“M.. Mau apa kau? Hey..!”

Sakura merasa tubuhnya terangkat, perutnya menekan bahu kiri Deidara, kepalanya tampak menggantung ke bawah dan yang bisa ia lihat hanya punggung Deidara dan rambut pirang panjangnya yang sesekali berkibar menyentuh wajahnya, kedua kakinya yang terikat menggantung lemah dan dipegang erat oleh Deidara.

“Bisakah kau membawaku dengan cara yang lebih baik, bodoh!”

“Tidak! Pinky!”

“Berhenti memanggilku Pinky!”

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Kau tahu namaku!”

“Aku lebih suka memanggilmu Pinky!”

Sakura menggeram kesal dan menggerak-gerakkan tubuhnya dan mencoba melepaskan tali yang mengikat tangannya, Deidara memutar bola matanya.

“Diam atau aku akan meledakkanmu!”

“Ledakkan saja kalau kau mau! Aku tidak akan menyesal kalau mati.”

“Baiklah Pinky..” Kata Deidara, ia menepuk-nepuk pantat Sakura, seketika tubuh Sakura mengejang dan wajahnya merah padam, entah karena kesal atau malu.

“Singkirkan tanganmu dari pantatku!”

“Kalau kau tidak diam aku akan terus melakukannya, mungkin lebih ekstrim..”

“Kau..!”

Deidara menyeringai, merasa senang bisa mengerjai Kunoichi berambut pink ini. Dan caranya yang satu ini ternyata berhasil membuatnya diam dan tidak rewel, ia terus diam ketika Deidara membawanya melewati sebuah lorong panjang yang sempit, di sepanjang lorong gelap itu terdapat ruangan dan kamar-kamar yang berjejer, semua kamar itu tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda bahwa ada penghuni di dalamnya. Sakura menduga ruangan-ruangan itu adalah kamar pribadi para anggota Akatsuki.

Ketika Deidara telah sampai di ujung lorong, ia berbelok ke kiri dan menendang pintu yang ada di depannya. Sakura dibawa memasuki ruangan yang cukup lebar, penerangan hanya berupa lilin yang redup, dan ruangan ini benar-benar suram dan jauh dari gambaran seragam Akatsuki yang bercorak awan merah yang indah, meskipun ruangan ini sunyi, Sakura bisa merasakan bermacam-macam chakra di dalamnya.

Sedetik kemudian ia merasakan tangan Deidara di pinggangnya, ia sudah berada pada posisi didudukkan dengan paksa di atas kursi keras yang berbau anyir, ia menjerit tertahan menahan tubuhnya yang rasanya remuk lebam, ia mendelik pada Deidara.

Deidara mengacuhkannya dan memutuskan untuk berbalik memandang orang selain Sakura, Sakura refleks mengikuti Deidara, ia menatap pemandangan yang paling tidak ingin dilihatnya untuk saat ini.

Di depan Sakura, berkumpul seluruh anggota Akatsuki yang memandangnya dengan tertarik, mereka duduk di belakang meja panjang dan tampak sedang mengikuti rapat besar. Sakura berusaha sekuat tenaga untuk tidak menelan ludah melihat Pein, Itachi, Sasori, Kisame, Konan, Hidan, Kakuzu, Toby dan Zetsu yang memandangnya dengan bernafsu.

“Apa yang kau lakukan terhadapnya Deidara? Dia tampak sangat kesal.” Kata Kisame, laki-laki yang hampir menyerupai ikan hiu ini menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang setajam pisau, ia memandang Sakura dari atas ke bawah, Sakura jadi merasa seperti umpan yang akan dijadikan santapan makan malam.

“Dia susah diatur!” Kata Deidara ikut duduk di kursi di belakang meja panjang, Toby bergeser ke kanan untuk memberi Deidara ruang yang cukup untuk tempat duduk. bagus! Sekarang tinggal Sakura lah satu-satunya objek dan pusat perhatian semua orang.

“Kau seharusnya bisa memperlakukan wanita dengan lebih baik.” Kata Zetsu, nada bicaranya seolah-olah mengatakan bahwa ‘memperlakukan wanita dengan baik adalah dengan cara mengakhiri hidupnya’.

“Deidara-Senpai kan tidak suka cewek! Kalau Toby yang membawanya pasti akan Toby perlakukan dengan lembut.” Kata laki-laki bertopeng aneh dengan suara cemprengnya yang antusias, Sakura tidak menyangka ada karakter seperti Toby di antara anggota lain yang muram dan kaku.

“Ah! Diam kalian! Tidak perlu sok mengajariku! Lagipula siapa bilang aku tidak suka cewek?!” Kata Deidara kesal, ia menaikkan kaki kanannya dan menyandarkan punggungnya, sepertinya sedang melemaskan otot-ototnya yang pegal. Ketika Deidara sudah mengakhiri topik tentang ‘perlakuan terhadap cewek yang benar’ secara sepihak, perhatian semua orang kembali pada Sakura yang mulai berkeringat dingin, ia merasa sangat konyol saat ini, mata-mata itu seperti lampu sorot mercusuar yang tajam sekali, membuatnya tak bisa berkutik dan tak bisa bergerak bebas, seandainya sorot mata itu bisa membunuh, mungkin Sakura sudah mati beberapa saat yang lalu.

Sakura menelan ludahnya, ia memberanikan diri membalas tatapan semua mata yang memandangnya, tak peduli berapa lamapun ia menatap, hal itu tak akan mengubah apapun. Sakura lalu berkata pada salah seorang di antara mereka.

“Apa mau kalian?” Bentak Sakura, lebih kepada Zetsu yang sepertinya sudah ingin mencaploknya semenjak pertama kali Sakura memasuki ruangan. Sakura menatap mereka dengan nafas tersengal-sengal, harus diakui bahwa ia semakin lemah saat ini, pertarungan yang menguras chakra dan tenaga, serta injeksi racun yang disuntikkan Sasori membuatnya tarkungkung dalam kepenatan yang tidak kunjung usai, ditambah lagi ia sedang terluka parah dan tidak mendapat asupan apapun untuk tubuhnya.

Hening, sepertinya tak ada yang berniat menjawab pertanyaan Sakura sekarang, ia tidak heran. Akatsuki memang terkenal dengan sepak terjang di dunia kejahatan selama bertahun-tahun, dan mengabaikan gadis seperti Sakura seperti saat ini sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Meskipun tangan dan kakinya sudah terasa kebas namun Sakura tak gentar, ia menetapkan diri untuk tetap menatap mereka dengan berani, ia sudah siap dengan resiko apapun yang akan terjadi terhadapnya. Meski ia harus mati atau disiksa perlahan-lahan.

“Kami butuh informasi.”

Mata Sakura menatap mata hitam lelaki berambut jingga yang sedari tadi diam saja dan tampak tak tertarik akan kehadirannya. Agak aneh memandang sosok Pein yang tenang, sangat kontras dengan wajahnya yang dipenuhi pierching, -yang menurut pendapat Sakura- orang yang banyak pierching pastilah akan bersikap garang seperti Kisame, namun Pein sama sekali jauh dari gambaran itu, ia lebih kalem dan cool seperti kebanyakan anggota Akatsuki yang lain.

“Bunuh saja aku!”

Sakura mengatakannya dengan keyakinan penuh, ia tidak mengendurkan ekspresi wajahnya yang tegas dan berani, meskipun separo bagian otaknya mengatakan bahwa ia mungkin akan menerima siksaan terlebih dahulu sebelum akhirnya dibunuh, dan impiannya yang masih membentang lebar akan mati begitu saja, banyak sekali impian yang ingin ia capai sebelum ini, impian untuk menjadi ninja medis terbaik di dunia, lalu mempunyai keluarga yang bahagia, sekarang impiannya untuk menikah dengan Sasuke terasa jauh sekali, dan keinginan-keinginan yang ingin ia capai sebelum beranjak tua dan mati, dan hal terakhir yang ia inginkan saat ini adalah berada di markas Akatsuki dengan seluruh anggota yang akan menontonnya disiksa.

“Kami butuh informasi tentang si anak Kyuubi.” Kata Pein lagi, kentara sekali tidak mempedulikan penolakan Sakura, ia masih duduk tenang dan menatap lurus-lurus ke wajah Sakura. Ekspresinya sulit ditebak, ia tidak terlihat menahan marah ataupun hal-hal lain yang bisa disebut ekspresi wajah.

“Kau tuli ya?!” Kata Sakura, ia mendelik ke arahnya. Ia tahu bahwa ia harus bagaimana, kalau ia menjawab tidak tahu, maka Pein akan memancingnya lebih jauh, ia tidak akan memberikan informasi apapun mengenai Naruto dan membahayakan nyawa sahabat terbaiknya, tidak! Lebih baik ia mati disiksa daripada harus menyerahkan nyawa Naruto, ia tidak mau kejadian yang menimpa Sasuke terjadi lagi, ia tidak akan menyerahkan Naruto, setidaknya. Tidak semudah itu.

“Gadis ini keras kepala Pein.” Kata satu-satunya wanita dalam seragam hitam bercorak awan merah, ia berkata lirih di sebelah Pein, meskipun ia wanita, Sakura tidak yakin ia bisa sedikit meringankannya.

Pein tidak menjawab, ia masih menatap Sakura lurus-lurus.

“Aku tidak keberatan untuk menyiksanya terlebih dahulu.” Kata suara lapar laki-laki bercadar, matanya menatap dengan bernafsu ke arah Sakura, ia bahkan sudah berdiri dan terlihat mengambil ancang-ancang untuk mendekati Sakura, matanya berkilat-kilat, cadarnya bergerak sedikit-sedikit, Sakura yakin ia sedang menjilat bibirnya sendiri di balik cadar anehnya.

“Kau bukannya akan membuatnya mati perlahan-lahan tapi malah akan membunuhnya sekali jerat.”

Kata suara yang familiar di telinga Sakura, ia menatap Sasori yang juga tengah menatapnya dengan mata coklatnya yang indah, eksresinya sama saja dengan Pein, stoic..

Tapi toh membuat Kakuzu mundur juga, ia tampaknya takut pada Sasori, entah apa yang membuatnya takut. Ia tidak mungkin takut pada wajahnya yang tampan kan?

Sasori tidak mempedulikan Kakuzu yang menatapnya dengan kesal, Kakuzu menganggap ini sama saja dengan mengambil kesenangannya yang jarang, dan menyiksa Kunoichi dianggapnya sebagai hobi sampingan.

“Sebaiknya dia diapakan?” Tanya Deidara pada Pein, Deidara tidak terlihat kesal menunggu Pein menjawab pertanyaannya, seperti sudah biasa. Pein akan mengambil jeda untuk berfikir dan mengambil kosa kata yang paling tepat untuk ia lontarkan.

“Dia akan bergabung dengan Akatsuki.” Kata Pein tenang, membuat seisi ruangan terkejut dan memprotes, Sakura yakin kalau Deidara mengerang tertahan, Kisame, Kakuzu dan Zetsu mendelik tidak percaya, Toby membuat gerakan untuk menutup mulutnya, Sasori menatap Pein dengan pandangan menilai, sementara Konan dan Itachi tampak tenang-tenang saja, mereka seperti sudah menduga keputusan apa yang akan diambil oleh pemimpin mereka.

Sakura sendiri, terlihat tidak mempercayai indera pendengarannya sendiri, ia menatap semua anggota Akatsuki dengan kebingungan yang sangat kentara, banyak hal di dunia ini yang sangat mungkin terjadi, dan -Sakura pikir- bergabung dengan penjahat level S bertitel Akatsuki adalah kemungkinan terakhir yang dapat terjadi, tidak! Ia tidak percaya.

“Oke Pein!” Deidara menuntut penjelasan. “Apa yang membuatmu berfikir begitu? Apa istimewanya gadis ini sih?”

“Dia Ninja Medis yang hebat, murid Hokage ke 5 dan kita tahu benar Akatsuki membutuhkan tenaga kesehatan yang lebih baik dari sekedar penjahit lengan.” kata Pein dalam satu tarikan nafas, ia tidak mau repot-repot menyembunyikan nada sarkastik dalam suaranya, ini mungkin adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulut Pein hari ini. Deidara tampak tidak puas dengan jawaban Pein, Kakuzu sendiri tampak oke-oke saja disebut sebagai penjahit lengan, ia berfikir ini mungkin lelucon Pein yang langka dan paling ekstrim yang bisa dikeluarkannya.

“Apa tidak terlalu ceroboh merekrut orang sembarangan? Apalagi dia dari Konoha.”

“Dia tidak akan macam-macam.” Kata Itachi untuk pertama kalinya, ia melirik Sakura sebentar, lalu kembali menatap hamparan kosong. “Pein mengambil keputusan yang tepat.”

“Tunggu dulu! Jangan asal memutuskan begitu.. aku tidak sud..”

“Kau tidak punya pilihan.” Kata Konan, ia memandang Sakura dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. “Kau bergabung dengan kami atau memilih melihat teman-temanmu mati?”

“Apa maksudmu?”

“Mudah saja bagi kami membunuh teman-temanmu, Yamanaka, Inuzuka, Nara, Hyuuga, Akimichi, ” Kata Konan tampak menghitung dengan jari-jarinya yang lentik, ia menyeringai. “Lalu yang paling kau sayangi.. Sasuke Uchiha dan Naruto Uzumaki.”

Sakura membeku, ia tahu ini tak sekedar ancaman, Akatsuki senang melakukan kejahatan, walau remeh sekalipun, mereka tak pernah main-main. Mereka.. yeah.. profesional. Mereka tak akan ragu melakukan apa yang mereka janjikan meski itu hanya membunuh Shinobi seperti kami sekalipun, Sakura percaya bahwa mereka mungkin akan kesulitan mengincar Sasuke yang kini bersama Orochimaru, tapi bagaimana dengan Naruto, Ino, Kiba, Hinata, Shikamaru dan yang lainnya? Mereka bisa dengan mudah dipancing dan dibunuh diam-diam. Tidak, ini tidak boleh terjadi.

Sakura tidak bisa membayangkan Ino yang sedang berada di toko bunganya akan kedatangan tanaman aneh seperti Zetsu menyembul di antara bunga-bunga miliknya, lalu mencaploknya dengan sekali lahap. Sekujur tubuh Sakura bergetar hebat, ia tidak bisa menaruh harapan meski pada dirinya sekalipun kalau teman-temannya mati karena penolakannya, tidak. Ia tidak akan menarik mereka ke dalam lubang buaya.

Sakura menetapkan hatinya, ia bertekad tidak akan menunjukkan betapa lemah dirinya, diintimidasi semudah itu. ia lalu mendongak memandang Pein yang ternyata juga tengah menatapnya.

“Aku ingin mengajukan kesepakatan.” Kata Sakura, ia melihat dari sudut matanya Zetsu yang bergerak sedikit dan tampak mengerang.

“Apa yang ingin kau ajukan?”

“Aku ingin..” Sakura melirik anggota Akatsuki yang lain, reaksi mereka tampak berbeda-beda, Deidara masih menyandarkan punggungnya dan memandang dengan masam, Kisame, Toby dan Kakuzu tampak tidak sabar menunggu Sakura berbicara, Zetsu dan Sasori mengerutkan keningnya, tampak berfikir, sementara Konan dan Itachi sama datarnya dengan yang sudah-sudah. Sakura melanjutkan. “Kau berjanji tidak akan membunuh teman-temanku meski mereka menyerangmu sekalipun.”

“Apa?” Deidara tampak memprotes. “Bagaimana mungkin kami tidak boleh membunuh mereka sementara salah satu dari mereka menggilas kami sampai rata dengan tanah?!”

“Dan yang kedua..” Sakura melanjutkan, tanpa melirik sedikitpun pada Deidara. “Aku tidak mau dilibatkan dalam misi menyerang Konoha ataupun melawan Shinobi Konoha, apapun yang terjadi aku tidak akan mau mengkhianati Konoha..”

“Aku tidak terima yang pertama!” Kata Deidara.

“Akan sulit menempatkanmu dalam misi kalau kau pilih-pilih.” Kata Sasori tenang. “Sementara kemampuan medismu lah yang dibutuhkan, kau tidak akan dipaksa untuk ikut bertarung melawan Shinobi dari desamu sendiri.”

“Tidak!” Sakura berkata tegas, ia menatap wajah Sasori yang sehalus porselen. “Sudah kubilang aku tidak mau dilibatkan dalam misi melawan Konoha, aku tidak mau mengkhianati Konoha! Apa itu kurang jelas?!”

“Baiklah.” Kata Pein. “Permintaanmu diterima, kau resmi bagian dari Akatsuki.”

“APA?!” Deidara berdiri dan memandang Pein dengan tidak percaya. “Hey Pein!”

Tapi Pein mengacuhkannya, seketika ruangan yang muram itu berubah berisik.

“WAAA… Toby punya teman baru!”

“Setidaknya ada cewek selain Konan disini..”

“…”

“Padahal kupikir aku bisa dapat sarapan pagi ini.”

“Tidak kusangka siklus pergantian anggota terjadi begitu sering.”

“Sakura-chan! Toby punya teman bernama Sakura-cha.. AWW!”

Toby merengek memegangi kepalanya yang benjol, memandang nelangsa pada Deidara. “Kenapa Deidara-Senpai memukul Toby?”

“Ini bukan saatnya untuk senang tau!”

“Tapi semua anggota yang lain kelihatan senang.. Cuma Deidara-Senpai yang tidak suka wanita saja yang.. AWW!”

“SUDAH KUBILANG AKU BUKAN GAY!”

Deidara terus memukul Toby sampai Toby terjengkang, mau tak mau membuat Sakura geli juga.. ia menahan tawanya memandang kelakuan aneh para anggota Akatsuki yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Bisa dibilang ini adalah sisi lain dari para penjahat kriminal berbahaya yang tidak mungkin diketahui tanpa menjadi salah satu di antara mereka.

“Deidara.” Pein berkata pelan padanya -meskipun setiap suku katanya mengandung nada perintah-. Deidara segera menghentikan kegiatannya memukuli Toby dan memandang lurus pada Pein. “Bawa Sakura ke kamarnya, beri dia semua kebutuhan yang tersedia.”

Deidara tampak akan memprotes tapi diurungkannya begitu melihat mata Pein yang berkilat-kilat. Setelah semua anggota Akatsuki yang lain meninggalkan ruangan sehingga hanya tersisa dirinya dengan Sakura, Deidara berbalik memandang Sakura yang juga tengah menatapnya, menunggunya melakukan sesuatu.

“Halo Pinky!” Kata Deidara basa-basi. “Aku akan langsung membawamu saja ya, biar tidak kelamaan..”

“Hey!” Sakura tidak sempat memprotes karena lagi-lagi tubuhnya dibopong Deidara secara paksa, kedua lengannya yang panjang dan berotot menahan bobot tubuh Sakura, satu lengan menahan punggungnya dan satu lengan pada belakang lututnya, ia merasa enteng saja melakukannya, mengingat tubuh Sakura yang terbilang kecil.

“Setidaknya lepaskan dulu ikatan tanganku!”

“Kau pilih terikat begini saja atau aku akan melepas ikatan tanganmu sekaligus semua pakaianmu?!” Deidara mendelik mengancam Sakura, Sakura refleks mengunci mulutnya, ia paling sebal ketika Deidara mulai mengancam dirinya dengan tindakan tak senonoh semacam itu, dan pilihan yang paling tepat baginya hanyalah menutup mulut, ia memandang sebal pada Deidara, ia baru sadar kalau posisi mereka benar-benar dekat, pipi Sakura menekan kencang pada dada bidang Deidara, kedua lengan Deidara menyentuh bagian tubuhnya yang kedinginan, dan tanpa sadar wajah Sakura menjadi terasa panas.

*TBC*

A/N : Moshi-moshi.. ^_^, saya datang lagiii… *ditimpukin* weleh2.. lagi-lagi saya bikin tanggungan dengan membuat fic berchapter.. *garuk2* Tapi udah lama pengen bikin fic Akatsuki-Sakura dengan genre Romens, fic ini juga sangat melenceng dari aslinya, disini semua anggota Akatsuki masih nafas semua, hehe..

BTW ada yang gak suka sama pairingnya? Please kasih pendapat kalian lewat review yaa… ^o^

Arigatou.. ^o^

***

Nah, itu chapter pertama milik Daniyal Sheva

NOTE : fanfic ini masih on going, namun saya akan tetap menambahkan link chapter selanjutnya jika sang Author telah mempublish fanficnya. So, jangan takut ketinggalan (?) 8D

Regard,

Citra ( @Citradewi__ )

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

2 Responses to FF – Emerald

  1. Ester fine says:

    Whaha, bgus cit. Kalo bsa post crita nya jgn pke nama naruto, gua ga ngertiii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s