FF – The Fate Part. 3

Author : Citra D.K ( @citradewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, casts belong to Masashi Kishimoto, Masashi Kishimoto and I belong to God.

Pair : DeiSaku, SasoSaku.

Cast : akatsuki member, Sakura friend and more

Genre : friendly, romance, angst.

P.s : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T+

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning! Anyway please check this fanfic rate, because I’ve increase become T+, so don’t flame or anything. Thanks ^^

Don’t like, don’t read.
Happy reading ^^

Matahari tidak muncul, awan-awan hitam menahannya untuk tidak menampakan diri. Memberi hutan terkesan kelam.

Terlihat sosok seorang gadis bersurai merah muda tengah terpojokan, namun Ia juga tidak akan bergerak jika bisa, kakinya terasa mati rasa sekejap, detak jantungnya tak terkendali, pupil Emerald nya melebar ketakutan.

Dalam hati Ia terus berkomat-kamit membaca doa, berharap bahwa Kami-Sama sedang berbaik hati dan menolong bocah tidak tahu diri sepertinya.

“Hei Kaomi-san, sedang apa Kau?” seorang rekan prajurit berseragam hitam merah itu memandangi salah satu rekannya heran, “Kau menemukan sesuatu?”

Lelaki bernama Kaomi itu tersentak kaget, apel yang digenggamnya terjatuh cepat, “kufikir memang ada orang disekitar sini,” lelaki itu tampak berfikir seraya memandangi apel-apel yang kulitnya masih terlihat titik-titik air. “Dan orang itu baru saja kemari.”

Hyuuuung…

Rasanya gadis itu benar-benar ingin menjatuhkan dirinya kerumput dibawah kakinya dan berteriak minta tolong, sayangnya sistem sarafnya tidak berfungsi dengan baik saat ini.

kami-Sama, seseorang to—

Who’s there, un?!” dari balik pohon tua muncul seseorang berjubah putih panjangnya dengan rambut pirang panjang. Aquamarine Lelaki itu menatap tajam 3 manusia yang berani menjejakan kakinya dipekarangan rumahnya.

Ano, apakah ini … Tempat tinggalmu?” Tanya seorang prajurit seraya menegakan tubuhnya. 2 teman lainnya sontak memandang lawan bicaranya dan berjalan mendekati rekannya satu itu.

yeah. What’s matter? Mmmm” Deidara melangkah maju Tanpa membuka caping yang menutupi wajahnya karena berbayang.

“langsung saja, No-san

“Hm baiklah. Apakah Kau melihat seorang gadis berciri memiliki surai merah muda yang memiliki iris berwarna Emerald?”

Gadis yang tengah bersembunyi itu kembali bergetar ketakutan, digigitnya bibir bawah sekuat-kuatnya, berusaha menahan jeritan frustasinya. ‘kenapa manusia bodoh itu mencariku sampai sini, lagipula siapa mereka?

Deidara terdiam sesaat, tentu saja Ia melihat bahkan cukup mengenal bocah kepala merah muda keras kepala itu, namun keraguan menyelimutinya.

Ia kembali memandangi 3 orang dihadapannya Dan cepat-cepat menilai, “gadis bermanik Emerald? Siapa dia?”

“Ia tuan puteri Konoha yang menghilang lus—”

“Sudah jawab saja, Kau lihat Apa tidak!”

“Mmm maaf tuan-tuan, tapi sepertinya aku tak mengenal puteri manja konoha itu,” Deidara menyeringai seraya memainkan lidahnya sekilas, Ia mengangkat sebelah capingnya hingga mata Kanannya Terekspos, “Dan segeralah menyingkir dari tempatku, manusia-manusia baka mmm”

Salah satu dari 3 prajurit itu naik pitam, “Jaga bicaramu, anak muda! Sini kupenggal Kau!”

“sabar Rei-san, ini bukan wilayah kita” lelaki bernama Kaomi tadi menahan bahu rekannya, “baiklah, tapi jika Kau menemukannya Kau bisa bekerja sama dengan kami. Akan kami beri imbalan”

Deidara Hanya mengeluarkan seringaian mengerikannya sementara sang gadis dibalik pohon itu hanya bisa meringis dalam diam.

*** CDK_The Fate ***

“Mmm… Kira-kira berapa Ryo yang bisa mereka berikan padaku ya, jika ku lempar kau ke istana?” Deidara mengaduk Kareenya santai seraya memandangi Sakura meremehkan.

Kuso, Kau mau ku hukum mati, huh?!”

“Mmmm coba saja nona konyol, ternyata benar kalau para Puteri itu menyusahkan saja. Kenapa Kau kabur kemari, bocah?”

“aku bukan bocah, baka! Alasan aku kemari kan sudah kukatakan waktu pertama kali bertemu,” ketus si gadis. “omong-omong Kau kemana saja, sih? Selalu pergi” gadis Emerald itu memandangi pemilik surai pirang itu ketus.

“tapi Kau tolol seperti bocah, mmmm. Alasan mu kurang pintar.” pemuda itu menyuapkan sepotong telur kemulutnya, “itu urusanku, outsider” ujarnya tak peduli yang dihadiahi jitakan maut sang gadis bertenaga monster itu.

“ADAW!”

“Berhenti memanggilku outsider, baka!”

*** CDK_The Fate ***

“Jadi, Konoha berniat menyerang Suna dari dalam, begitu maksudmu, Yakushi Kabuto?”

Sesosok lelaki berkacamata bersimpuh seraya membenarkan letak posisi kacamatanya, “begitulah, Sasori-Sama

Lelaki itu terdiam sesaat, “terus lakukan tugasmu”

Sasori berbalik dan melangkah keluar ruang pertemuan pribadinya diikuti 2 penasihat negara, tak ada seorang pun yang dapat membaca ekspresi wajahnya, hanya kepalan tangan yang begitu kuat yang dapat diartikan bahwa Ia sedang tidak tenang. Setelah sampai diruangannya, Ia berbalik dan memandangi kedua penasihat tua itu, “Apa yang harus kulakukan?”

“hum, ternyata Konoha benar-benar licik, sama saja seperti dahulu.” sang penasihat wanita, Chiyo.

“Benar, sepertinya perjanjian haruslah dibatalkan, nak Sasori,” Penasihat tua yang bernama Ebizo mengiyakan.

“Tidak, aku tetap ingin Sakura.” dahi semulus porselennya sedikit mengkerut tidak Suka.

“huh, sungguh keras kepala sekali kau, Sasori,” Chiyo memandangi sang pemimpin negara angin itu dengan dahi yang agak mengkerut, walaupun kerutannya tersamarkan oleh kerutan asli penunjuk usia diwajahnya.

“Bagaimana kalau kita ubah rencana?”

*** CDK_The Fate ***

Lelaki itu terlihat tak tenang, berkali-kali Ia mengubah posisi tidurnya namun tak menemukan posisi nyamannya. Diputuskannya untuk duduk dan memandangi jendela kecil didekatnya. Aquamarinenya menjelajahi benda langit terang yang terpampang dibalik sang jendela.

Matanya sekali-kali terlihat tidak fokus, sel-sel otaknya tercurah pada ingatan-ingatannya, masa lalunya. Kenangan demi kenangan terus berputar seperti rol film, terus bermain—dari masa lalu—kenangan semasa kecilnya. Namun, ingatannya berhenti pada seorang gadis, gadis berperawakan manis dengan surai coklat nyaris hitam hangatnya yang pendek.

Kilatan sangar mengobar dari dalam matanya, kerutan dikeningnya mulai muncul. Cepat-cepat Ia menghela nafas mendengus kasar. Diputuskannya berdiri dan berjalan keluar, mencari udara malam yang dingin untuk mencuci otaknya.

Walaupun angin malam berhembus hingga membuat orang biasa menggigil, lelaki itu sama sekali tidak melakukan gerak perubahan, hanya surai panjangnya yang terhempas kebelakang dan bergoyang.

Suasana hutan terlihat damai, daun-daun bergesekan ketika angin berhembus, binatang kecil malam mulai muncul dan berbunyi. Aquamarine milik lelaki itu menjelajah pemandangan yang ada disekitar gubuknya sampai Ia melihat sebuah bangunan kecil, Kandang Kuda.

Sekilas ekspresinya menimbang-nimbang, namun pada akhirnya Ia tetap menghampiri kandang usang itu. Dipandanginya pintu ‘rumah singgah’ sang puteri Konohagakure itu. Seberkas ekspresi mengejek hinggap diwajahnya. ‘harus izini ya?’

“un, knock, knock, knock, hei bocah?”

Hening, hanya suara hewan malam dan gesekan daun yang mengisi suasana. Dengan gerakan ragu, Ia membuka pintu tipis itu. Deidara terdiam untuk sesaat, dilihatnya sesosok gadis tengah terlelap disudut ruangan sempit itu. Surai merah muda itu sedikit berantakan, namun itulah pemicu untuk sipemuda sampai lancang masuk Tanpa seizin gadis itu.

Dilihatnya dari dekat wajah Haruno Sakura yang terlelap dengan nyenyak untuk pertama kali. Sesaat lelaki bersurai pirang itu dibuat terpesona, surai yang berantakan terlihat menarik baginya, perlahan Ia berjongkok dan memandangi wajah gadis itu intens.

Disentuhnya dahi lebar gadis itu dengan jari telunjuk, pemuda itu tersenyum lebar, “lebar sekali Kau, bocah.” pemuda itu kembali memandangi wajah keseluruhannya dan tersadar, ‘cantik‘. Lelaki itu tergelak ketika Ia baru menyadari, dari mulut gadis itu terdengar suara dengkuran yang tak bisa disebut Halus tetapi juga bukan dengkuran berat. ‘Kau kelelahan ya, bocah?

Perlahan Sakura membuka mata, berusaha melihat siapa apa yang mengganggu tidurnya. Gadis itu terlonjak ketika mendapati pemuda yang Ia kenali sedang tertawa seraya memandanginya.

“Apa yang Kau lakukan ditempatku, BAKA?!”. Dengan cepat gadis bermanik Emerald itu mundur seraya menarik kain yang dijadikan selimutnya, dengan berusaha keras mengumpulkan nyawanya yang masih tercecer dan belum bersatu.

Pemuda itu berkonsentrasi untuk menghentikan tawanya dan berkata, “Hahaha, I just was curious. You’re snored, un!” pemuda itu tembali tergelak.

Sontak saja warna wajah gadis itu berubah menjadi lebih merah daripada warna rambutnya, “kuso, Sekarang kau PERGI!” dengan cepat Ia langsung berdiri, mengambil ancang-ancang bersiap untuk menghajar wajah Deidara—yang menurutnya ialah wajah tolol menyebalkan—yang membuatnya malu setengah mati. Bagaimana bisa rahasia yang Ia jaga dari orang-orang terbongkar dengan mudahnya, dan sialnya kenapa orang itu yang harus tahu duluan?

Sesaat Ia agak limbung ketika berusaha berdiri,—dengan gerakan yang terlalu cepat Ia berdiri dan menginjak Yukatanya sendiri, membuat kekehan terdengar dari mulut Deidara—Segera Ia berusaha mengimbangi tubuhnya. Kembali Ia pandangi wajah Deidara yang mengejek itu dan berancang-ancang.

Pemuda itu memiringkan kepalanya, “mmm… Kali ini akan kutangkis tinjumu itu. Aku belum mau pergi.” Pemilik manik Aquamarine itu juga mengambil ancang-ancang untuk menahan serangan gadis bertenaga monster itu. Cukup sudah kepalanya dijitak berkali-kali.

Sakura menggeram kesal memandangi ekspresi menyebalkan orang dihadapannya itu, dengan cepat Ia merapihkan pakaiannya dan berjalan keluar, sepertinya Ia tidak ingin berada diruang yang sempit itu bersama dengan orang yang sikapnya sungguh menyebalkan. Deidara yang memandanginya hanya tersenyum enteng seraya mengikuti gadis itu.

“Kenapa Kau mengikutiku, Baka?” Emeraldnya menuding kedua iris Aquamarine dengan tajam.

“mengapa? Tentu saja terserah aku, un” laki-laki itu mengabaikan tatapan sigadis bersurai panjang. Dengan santai Ia duduk dan bersandar di salah satu batang pohon dengan diameter yang bisa disebut lumayan, kedua tangannya terlipat dibelakang kepala, “Apa Kau seorang puteri dulunya? Omonganmu tidak lebih baik daripada tukang ikan dipasar mmmm.”

Perkataannya sukses membuat 4 sudut siku-siku nampak dijidat lebar Sakura, “ucapanmu itu lebih menyebalkan daripada tukang rawat kuda! Kau-menyebalkan-sekali, BAKA!” Haruno Sakura membuat pout-an kecil dibibirnya.

Deidara terdiam sesaat, matanya kembali menunjukan kilatan misterius yang samar memandang waja gadis itu, “Kau puteri yang aneh, mmmm. Apa kau tahu siapa yang akan menikahimu?”

Sakura yang merasakan perubahan suasana langsung melirik, “uh? Kau ngomong apa sih tiba-tiba?” gadis itu mengadah ke langit, “aku tidak ingin menikah dulu… Kau fikir aku sudah kelihatan tua?!” terlihat sekali Ia sedang berusaha mencairkan suasana.

Sukses, Deidara mendengus, “lebih baik Kau cepat-cepat menikah, karena aku ingin…” lelaki itu terdiam, entah kenapa sel otaknya mengatakan bahwa tak perlu Ia terangkan hal-hal yang ada dipikirannya. “huh, tak ada.”

Sakura memandang kearah Deidara dengan tatapan sebal miliknya, “Kau ingin apa, Baka?”

“ingin memakanmu!”, ujar lelaki itu ketus.

“Aku serius! Oh ya, hampir saja lupa,” Sakura langsung memalingkan wajahnya memandangi rumput-rumput dibawahnya, “yang sore itu,” digigitnya bibir lembut miliknya, tatapannya agak kurang yakin mengucapkannya, “a-arigatou ne” ujarnya pelan, tak lama kemudian Ia mendengus ketus, ‘menyebalkan, ini bodoh dan memalukan

“un? Kau bilang apa? Repeat again, mm”

“A- a- tungguh, untuk apa, Baka?!”

“tentu saja untuk didengar, jidat”

“Tidak mau, Lagi pula Kau barusan bicara apa, HAH?!” Tanpa segan-segan gadis itu menunjukan glare-nya diselingi wajahnya yang memerah.

Sontak saja itu memancing gelak tawa milik lelaki bersurai panjang itu, baginya sungguh menyenangkan melighat gadis cantik itu merona. Perlahan Ia memandangi dahi sang gadis “Kau, gadis pemilik dahi lebar, apakah tidak pernah diajari cara berterima kasih yang baik?”

Perlahan gadis itu berdiri, lalu berjalan perlahan kearah sang pemuda, hawa-hawa tidak enak berkeliaran disekeliling tubuh gadis itu, sontak saja menarik perhatian Deidara. Pemuda itu langsung duduk Tegak dan memandangi Sakura bingung seraya mengangkat sebelah alisnya, “un?”

“Kau laki-laki menyebalkan,” gadis itu berujar lembut dengan kedua mata yang tertutup dan tersenyum manis yang memikat, dan duduk dipangkuan sang pemuda. Deidara sesaat meneguk ludah, merasakan perasaan tak enak seraya mengkerutkan kening.

Telapak tangan kiri Sakura meremas leher Yukata Deidara. Walaupun senyum gadis itu memabukan,—tapi yang membuat Deidara menjadi siaga karena jelas Ia tahu bahwa itu hanyalah senyum palsu,—jelas terlihat 4 sudut siku-siku bertengger di dahi gadis itu, tak lama Ia membuka matanya dan tersenyum kesal, “SHANAROOO

Buughh…

“Aaarrrghhh hoy!”

*** CDK_The Fate ***

Lelaki bersurai gelap itu membaca tulisan yang terlampir disurat gulungan yang baru diantarkan oleh Kimtaku—merpati pengirim surat tercepat dari Sunagakure. Segera ia berbalik dan memandangi para prajurit berseragam hitam merah itu. “Pencarian dihentikan, esok hari Akasuna-sama akan sampai disini dan memimpin langsung pencarian. Kalian boleh istirahat. Bubar”

Prajurit-prajurit itu memberikan salam lalu mulai membubarkan diri. Ia kembali mengahadap kearah jendela yang terbuka, merasakan angin malam yang menghempaskan helai-helai surai hitamnya. Iris onyxnya yang tajam tengah menyadari gerak-gerik ganjil disekitar semak-semak yang tersaji dihadapannya. Dengan gerakan cepat tanpa merubah mimik wajahnya, ia melempar cepat sebuah Kunai yang dipegangnya sedari tadi tanpa bergerak boros.

Zlebb…

Kunai itu tepat menusuk batang pohon, tepat 5cm dibawahnya terdapat seorang bocah lelaki yang tengah bergetar hebat. Ditatapnya ngeri sosok Itachi dari jarak yang tak terlalu jauh itu, “T—t—ternyata benar, kalian penjahat! Kalian mencurigakan dan membawa senjata!” Bocah lelaki bersurai hitam acak-acakan itu memandang ngeri—yang berusaha ia ubah menjadi berani—wajah Itachi yang diterangi bulan.

“Sedang apa kau disini?” suaranya tentu saja terkesan datar khas ditemani dengan iris hitam pekat yang misterius kepunyaan Uchiha.

“A—aku… Aku akan beri tahu penjaga bahwa kalian menyusup ke Rumah ini! Kalian akan dihukum mati! oleh karena itu jangan dekati pemukiman didekat sini!”

Sang Uchiha itu melembutkan tatapannya, “anak kecil dilarang keluar malam karena berbahaya.” Lelaki itu berbalik dan berkata, “lekaslah kembali sebelum terjadi sesuatu.” Itachi kembali berjalan menjauhi tempat favoritnya itu. Sesosok bocah lelaki kecil muncul dan bermain-main dipikirannya. Ya, lelaki dengan surai biru gelap dan mata yang persis dengan miliknya tengah mengukir senyuman.

*** CDK_The Fate ***

Pemuda itu terus-terusan memaki seraya memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri sedangkan sang pelaku kini tengah duduk nyaman ditempat semulanya seraya mengeluarkan senyum puas.

Tak lama Deidara terdiam, rasanya lelah juga memaki selama bermenit-menit. Dirabanya kepala bagian belakang yang terantuk batang pohon dibelakangnya itu, terdapat benjolan yang perih jika disentuh. “KUSO kau Forehead!

“Hoho, jangan anggap remeh wanita” tanpa rasa bersalah ia tertawa mengerikan layaknya Tsunade-shishou—guru khususnya yang bertenaga monster.

Iris Aquamarine itu memandangi awan-awan samar dilangit, berusaha meredakan emosi yang tak bisa dilontarkan kearah wanita ‘gila’ itu. Beberapa bintang berkelap-kelip, sesaat pemuda itu tercenung dan bernostalgia. Raut menyedihkan muncul diwajahnya ketika kembali mengingat sesosok gadis yang sama dikenangnya tadi.

Pandangan semu itu terarah kearah bintang yang bersinar tak cukup terang, membuat gadis Emerald itu sedikit bingung. “Kau kenapa? Sarafmu putus?”

“Adakah orang yang kau rindukan?” Tapi dengan cepat ia mengelak ketika gadis bersurai merah muda itu memandang heran kearahnya, ‘bodoh‘ “maksudku, kau kan sejenis puteri manja, dan sekarang bukan daerahmu, mungkin saja kau merindukan sesuatu. Ya—yah, tak penting sih.” Dalam hati ia mengumpat kasar, bisa-bisa menjadi kikuk layaknya orang bodoh barusan.

Sakura hanya memandang heran lelaki itu, tapi tak berlangsung lama. Gadis remaja itu memandangi langit sunyi itu dan tersenyum hangat, “tentu saja ada. Dia Kaa-sama

Baka, kalau rindu ibumu untuk apa kabur dari rumah, wanita memang sulit dimengerti” lelaki itu menguap dan memutar bola matanya bosan.

“Mmm? Kau yang baka! Aku hidup tanpa Kaa-sama sejak umur tujuh tahun, sejak saat itu Suaminya jadi berubah, ia terkesan pososif akan limpahan tanah jajahan dan sifat penyanangnya menguap entah kemana.” Gadis itu menutupi manik Emeraldnya dengan kelopak mata, sekilas bibirnya mengkerut, menghasilkan ekspresi sedih, cepat-cepat ia membuka matanya dan merengut kesal, “lagipula aku kan belum pernah dididik Kaa-sama agar menjadi Puteri yang anggun sepertinya, mana mau aku mendengar kata-kata penashiat tua disana.”

Lelaki itu menyimak perkataan si gadis, tapi ada bagian yang membuat dahinya mengkerut, “kau bilang, ‘Suaminya’? Bukankah laki-laki tua itu Otousan-mu, mmmm?”

“Bukan! Dia Raja, lagipula kufikir ia tidak pernah memikirkanku dan kaa-sama lagi selain cara memperluas daerahnya.” Gadis itu berdiri dan merenggangkan ototnya. Ketika Ia mengangkat kedua tangannya ditengah perenggangan, dipandanginya kedua tangannya, lalu Yukata yang ia kenakan. Ia kembali mengingat-ingat, bahwa Yukata dan jubah yang ia kenakan saat kabur itu tengah digantung didekat kandang kudanya karena belum kering sehabis dicuci. “Hei, apa dulu kau juga tinggal dengan seorang wanita disini?”

“Un? Tidak, kenapa?”

“Dapat dari mana Yukata ini? Dari ukuran ini Yukata untuk perempuan” gadis itu memandangi pakaiannya, Yukata berwarna biru muda.

“Oh, ketika aku berjalan-jalan di Kota aku melihat Okiya—tempat tinggal para Geisha—dan langsung teringat kau”

Sakura terdiam, merasakan hangat pada kedua pipinya, diam-diam Emeraldnya mencuri pandang kearah lelaki bersurai panjang itu, ‘apa dia memikirkanku—tunggu!’ “Apa maksudmu? Kau lihat tempat sejenis itu dan teringat padaku? Kau fikir aku wanita sejenis Geisha?!”

“Mmm aku tidak bilang ya, lagipula aku kenal salah satu Geiko* disana, jadi aku mampir sebentar,” lelaki itu berhenti sebentar untuk memandang wajah gadis cantik dihadapannya ini dan mencibir, “untuk meminta Yukata karena seorang gadis yang terancam kena penyakit kulit karena memakai pakaiannya selama 3 hari berturut-turut” lelaki itu mengernyit.

Sakura menahan malunya dan mendesis, dengan ketus ia mengucapkan, “Arigatou” yang hanya dibalas dengan tatapan sinis si lelaki.

Gadis itu menjadi kikuk ketika merasakan getaran diperutnya, pelan-pelan ia kembali menatap Deidara, “I—itu, apa disini tidak ada dimakan lagi? Aku lapar~” dengan mimik kikuknya ia memegangi perutnya dan berjongkok menahan sakit.

“Un? Kau manja sekali, cari sendiri saja—” lelaki itu meringis ketika memandangi wajah memelas lawan bicaranya itu.

*** CDK_The Fate ***

Dengan lihainya seorang pemuda memainkan boneka kayu dihadapannya, benang tipis yang dililitkan dijemarinya menjadi penghubung antara sang pemain dan sang boneka—manusia miliknya.

Boneka yang indah, begitu tertera jelas seni yang terukir disana, ukiran-ukirannya, serta kulitnya yang semulus porselen itu mengilap kala cahaya lampu minyak yang tergantung diruangan itu meneranginya. Boneka seukuran tubuh manusia itu dilengkapi dengan surai palsu sewarna dengan bunga kebanggaan Jepang, serta Kimono kerajaan yang berharga sangat tinggi.

Boneka itu berkali-kali bergerak. Tak lama sang telapak tangan memegang bahu sang pemain, perlahan tapi pasti, sang boneka terus mempersempit jarak antara ia dengan sang pemuda.

Pemuda yang menunjukan raut rapuh diwajahnya hanya bisa memejamkan mata kala sang boneka memeluk tubuhnya. Tak tahan, dagunya disandarkan ke bahu sang boneka, sebisa mungkin ia mencari kehangatan atas pelukan mereka, tapi ia sadar. Itu hanya. Boneka.

Dilepasnya benang-benang yang melilit dan menyimpan boneka kesayangannya itu diatas sebuah ranjang dengan perlahan, seolah sang boneka akan menangis kala jika pemilik memperlakukannya kasar.

Dengan tatapan sendu ia memandangi Puteri boneka yang tak bernyawa, di elusnya perlahan helaian surai panjang dengan tatapan hampa. Apapun yang ia lakukan terhadap karyanya yang satu itu, seindah apapun hasil yang ia buat, sebesar apapun perlakuan lembutnya, tak akan sama dengan yang ia harapkan.

Tradisi rahasia tiap malam sebelum tidur inilah yang selalu Akasuna Sasori lakukan, hal yang sangat bodoh. Tapi apa yang ia bisa lakukan untuk mengisi hatinya kembali? Banyak hal yang telah ia usahakan hingga ia masih memiliki kesempatan sekarang, walau ia harus bersabar sepertinya.

“Selamat tidur, sayang. Tidur yang nyaman.” Disentuhkannya bibir lembutnya keukiran bibir sang boneka, bukan kehangatan, hanya rasa dingin yang menyeruak. Menghasilkan pemandangan pilu sang Pangeran muda yang rapuh, diruang rahasia bawah tanah kesayangannya.

*** CDK_The Fate ***

Lelaki itu memandangi dengan mimik bosan, bukankah ia sudah berbaik hati ingin menemani gadis pemelas dihadapannya ini? “Sudahlah, hanya buah saja yang ada.”

“Kenapa harus aku yang naik, pohon yang ini tinggi!” Suara melengking khas wanita mengisi keheningan hutan.

Tanpa basa-basi yang sering dilakukannya, Deidara memegang pinggang kecil gadis itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, “cepat injak dahannya, jangan sampai jatuh, un”

“Y-Yaaaaa~ baka” dengan menahan rasa gugup dan malunya, ia berusaha memanjat ke dahan besar pohon itu, berharap bahwa lelaki dibawahnya tidak berfikir macam-macam setelah melihat kaki mulus nan jenjang miliknya disaat Yukatanya tersingkap, namun sayangnya harapannya tidak terkabul.

Sreeek….

Kuso!” Umpat gadis itu reflek. Benar saja, bahkan ini lebih dari yang ia fikirkan, Yukata gadis itu tersobek dibagian bawah bawah hingga 5 cm diatas lutut ketika tersangkut disalah-satu dahan pendek yang sedikit lancip, entah bagaimana cara Gadis itu menariknya.

Dibawah, lelaki itu menikmati pemandangan gratis yang bisa dibilang ‘menyenangkan’ untuknya seraya tergelak. Seolah ingin membuat gadis yang tak mau jujur itu kesal, ia terus-terusan mengejeknya, walau sesungguhnya ia juga sebagai lelaki normal menyukai pemandangan itu.

Cepat-cepat ia memetik apel-apel yang dapat dijangkaunya. 3 apel ia dapatkan dan cepat-cepat dioper kearah ‘patner’nya itu. Ia berusaha kembali memanjat kedahan yang lain seraya merapatkan bagian pakaiannya yang sobek. Tapi tak lama ia terdiam, dirasakannya ada sesuatu yang menggelitik dibawah kakinya membuat detak jantungnya terpompa cepat.

MU-MUSHI” jeritnya dan langsung menutup kedua matanya cepat. Dengan bodoh ia langsung melompat dari dahan yang sadar tak sadar setinggi 2 setengah meter itu seraya memekik kencang.

Duk!—Bruk…

Kedua suara itu terdengar bersamaan, Deidara lah yang menanggung rasa sakit yang tidak mengenakan kala sebuah benda besar yang bermassa tidak bisa dibilang enteng itu terjatuh dengan kecepatan 0,5 detik langsung menghempas jatuh tubuhnya. Tak beruntungnya, siku kanan Sakura yang sukses menghantam keras wajah lelaki malang tersebut. Malang sekali untuknya yang tak bisa menghindari kecelakaan maut itu, bisa bayangkan rasa sakit yang dialami dahi Deidara?

“ADAAAAAAAAW!”

*** CDK_The Fate ***

Sesosok lelaki berjubah putih dengan corak garis merah itu bersimpuh dihadapan sang Raja Kizashi, “apa yang bisa saya lakukan untuk anda, tuan?”

“Huh Kabuto, buka topengmu, ada yang ingin kutanyakan.”

Sosok itu membuka topeng berwarna dasar abu-abu yang memiliki beberapa corak, menampakan wajah yang terbilang muda itu. Tangannya bergerak memakai kacamata yang diambilnya dari dalam jubahnya. Ialah Yakushi Kabuto “ada apa, tuan?”

“Kudengar, kau beberapa kali melakukan survei di Suna, jadi apa mereka melakukan kegiatan rahasia?” Kizashi memandang serius salah satu orang kepercayaannya, seorang informan rahasia sekaligus seorang Anbu—pasukan militer yang langsung diketuai oleh pemimpin negara.

Lelaki itu membenarkan letak posisi kacamatanya dengan telunjuknya, menghasilkan kilatan pada lensa kacamatanya, “tidak tuan, mereka belum tahu rencana kita” ujarnya mulus diakhiri senyumannya.

“Bagus, kau akan memimpin tim informan, aku percaya kemampuanmu. Kau boleh pergi” Lelaki tua itu tersenyum senang, dan dibalas oleh kilatan senyum misterius milik Kabuto.

“Baik tuan.” Lelaki itu kembali melepas dan mengenakan topeng Anbunya, dan memberi bungkukan hormat sebelum meninggalkan ruangan itu.

Senyum misterius itu terus terpancar diwajahnya yang tertutupi oleh topeng, dengan pelan ia berjalan dilorong tak berminat terburu-buru.

“Yakushi” Kabuto berhenti, tentu saja ia mengenali suara berat khas ini. Seringaiannya melebar sebelum ia berbalik.

“Ya, Danzo-sama</b>?”

Penasihat tua itu memandangi wajah Kabuto dengan dingin, mencari sesuatu yang salah dari kilatan mata Kabuto yang terlihat. “Kau, menjadi orang kepercayaan Kizashi-sama setelah kami, tapi aku masih tak percaya denganmu” mata kiri Danzou memandang tajam kearah Kabuto, “jangan coba melakukan hal mencurigakan.”

Perkataan Lelaki tua itu hanya dibalas anggukan. Dengan perlahan, sang penasihat tua itu berjalan kembali dengan tongkat miliknya. Meninggalkan sang pemuda yang bergumam pelan, “tentu saja. Danzo”

*** CDK_The Fate ***

“Adaw pelan-pelan, boca—aaaah!” Lelaki itu kembali meringis ketika kain basah yang digunakan Sakura untuk membersihkan darah dihidungnya mengenai tulang hidungnya.

“Tahan! Kau cerewet” wanita itu kembali mencelupkan kain kecil itu ke air hangat yang baru saja ia masak. Ditatapnya nanar wajah bengkak Deidara. “Gomen, tadi benar-benar tak sengaja.” raut penyesalan terukir diwajahnya.

Deidara ingin sekali mengoceh panjang lebar, tetapi sadar sudut bibirnya sedikit bengkak karena terjangan kuat itu sehingga hanya bisa diam tak banyak omong. Wajahnya menunjukan raut kesal dan terus mengabaikan gadis yang mencoba meminta maaf kepadanya.

“Y—Yaaa, aku kan sudah minta maaf, tadi ada Mushi—ulat—menggelikan!” Gadis itu meringis membayangkan rangsangan yang dibeli sang ulat pada kaki telanjangnya.

“…”

“Kau dengar tidak, sih?”

“…”

“Baka! Aku lelah menunggumu bicara!”

“…” Lelaki itu menarik sebelah tangan sang gadis kencang yang mau tak mau menubruk tubuh telentangnya, “adaw! Bisakah wajahmu jatuh ditempat yang benar?!” Lelaki itu kembari meringis kesekian kalinya ketika merasa hantaman dahi gadis mungil itu di tulang hidungnya yang melebam. Membatalkan kata-kata yang sudah susah ia rangkai, seperti ‘aku lelah mendengarmu berteriak dan ingin tidur’

B-Baka! Kau mau apa?!” Gadis itu memegangi bahu Deidara dengan geram, nafasnya memburu disertai memerahnya wajah akibat malu dan kesal yang menjadi-jadi, ia memandangi wajah sang lelaki dibawahnya dengan geram, “cepat lepaskan tanganmu!” Dengan gelisah ia bergerak-gerak, berharap lelaki itu mau melepaskan pelukan Deidara dari pinggangnya.

Lelaki itu memutar bola matanya bosan dan menguap, telapak kirinya menepuk bokong Sakura secara tiba-tiba, membuat gadis itu bergerak-gerak semakin gelisah, mengetahui ini adalah posisi berbahaya.

“Lepaskaaaaaaan!” Entah saking malunya atau sebangsanya—ia tak tahu, apa penyebabnya—tenaga monsternya hilang entah kemana, tak terfikir olehnya untuk meninju tulang hidung Deidara sampai retak atau sebangsanya, yang jelas ia hanya mengerang bertubi-tubi dan bergerak-gerak gelisah diatas tubuh si lelaki yang menikmati kelakuan gadis ini.

Perlahan seringaian khasnya mulai bermain-main diwajahnya, “hmmmm, sedang apa, Puteri Haruno?” Lelaki itu menyeringai nakal sekaligus jahil, ditatapnya Iris Emeraldnya yang tak fokus itu.

“A-Aku ngantuk, se-sekarang lepaskan tanganmu, aku ingin tidur” gadis itu mengalihkan tatapannya, rasanya gugup memandangi lakilaki yang sedang memandangnya aneh dari dekat. Ia tahu bahwa pipinya merona, merasakan panas disekitar kulitnya itu.

“Mmm aku juga mengantuk.” Dengan cepat lelaki itu memiringkan tubuh, membuat gadis diatasnya ikut terbanting pelan ke Futon miliknya. Dipandangi wajah puteri itu dari dekat, indra pendengarannya mendengar jelas tarikan nafas tak normal milik gadis yang tak mau memandanginya itu.

Yang jelas sekarang lelaki itu berusaha menahan hasrat kotor yang bergentayangan tiba-tiba difikirannya. Dieratkannya pelukan di pinggang gadis itu, dan berusaha mempersempit jarak antara mereka, membuat Deidara tersenyum lebar mendapati rasa hangat dan lembut dari tubuh gadis itu.

“D-d-d-Dei~”gumamnya yang lebih mirip erangan, entah sejak kapan Sakura menjadi gagap seperti Hinata. Tubuhnya mengeliat kecil merasakan sensasi aneh itu.

“Un?” Tentu saja lelaki itu senang merasakan perlawanan gadis itu menipis. Setidaknya tubuhnya tak akan merasakan rasa sakit akibat serangan dari Sakura sejak tadi.

“K-kenapa kau tiba-tiba m-memelukku di<b>futonmu? B-bukankah waktu pertama kali aku datang, kau bilang aku tak boleh tidur disini?” Gadis itu merasakan pipinya menghangat kembali, betapa anehnya sensasi yang ia rasakan. Pipinya yang berulang-kali memanas, jantungnya yang berdetak tidak normal, dan rasa ingin tapi tidak—karena malu—menerpa tubuhnya. ‘Sial! Ini kenapaaa~

Lelaki itu menyeringai dan memandangi wajah Sakura yang merah tak mengerti, “aku tak bisa tidur dari tadi, sepertinya butuh teman tidur,” sesaat matanya mengerling nakal, membuat tubuh gadis itu memanas, “yang lama lupakan saja.” Dengan tanpa dosa ia memeluk erat tubuh mungil Sakura, yang sekarang hanya bisa diam karena lemas mendadak.

“D-d-deii~” ‘aku merasa bodoh sekarang‘, perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dan berusaha agar tidak merona dan berkata pelan, “a-aku ingin tidur ditempatku s-saja. Bisa lepaskan tangannmmu?”

Deidara memandangi gadis yang tingginya se-dagu dirinya, wajahnya yang merona, tatapan innocent yang benar-benar membuat setan dalam tubuh Deidara lepas dari tali kekangnya, lelaki itu diam memandangi bibir penuh yang merah milik si gadis, tanpa pikir panjang ia langsung menempelkan bibirnya diatas bibir Sakura.

Hal yang membuat Deidara tersadar atas kelakuannya ialah karena gadis disampingnya sama sekali tidak bergerak, dengan perasaan yang bercampur aduk ia berusaha melihat ekspresi gadis itu.

Wajahnya memerah, matanya terbelalak, serta nafasnya yang sedari tadi ia tahan jadi memburu. Tak lama ia memegangi bibirnya dengan jari telunjuk dan tengah, menggusapnya kala teringat bibir bawahnya yang jadi ssaran oleh lelaki disampingnya. Tak lama pandangan cemasnya mengarah langsung kearah iris Aquamarine milik pencuri kecupan disampingnya.

“Itu tadi namanya apa?” Emeraldnya benar-benar melebar sekarang, memancarkan tatapan innocent yang tak terduga.

Lelaki itu terdiam sesaat, memikirkan hal yang selanjutnya akan terjadi, “un…sebut saja hukuman.” Aquamarinenya memandang gadis itu hati-hati, berharap tidak terkena Shanaro gadis itu yang … Sangat menyakitkan itu.

“Untuk apa?” Gadis itu membalas dengan cepat, tanpa disadari tubuhnya telah sepenuhnya mengarah kearah Deidara.

“Eh? Untuk… Tentu saja untuk menghukummu melakukan pemukulan terhadapku seharian.”

Gadis itu terdiam sesaat, Emeraldnya kehilangan fokus, membuat pemilik Aquamarine itu jadi siaga, “kau, baik-baik saja?”

“Uh? Ya—mungkin,” gadis itu menunduk sebentar lalu tak lama memandang wajah Deidara dengan tatapan mengernyit kesal, “tidak adil!”

“Eh?”

“Aku juga ingin menghukummu!” Ucapan gadis itu benar-benar berada diluar perkiraan Deidara, bahkan di list paling akhir dari segala kemungkinan yang ada, kalimat itu juga sama sekali tak terpikirkan.

Gadis itu langsung bangkit terduduk seraya mengarah kearah pemuda itu, tanpa aba-aba ia menempelkan bibirnya kebibir Deidara, yang sukses dibuatnya terbelalak.

Gadis itu kembali menghirup udara, lalu menabrakan bibirnya dengan lelaki itu, lalu kembali menghirup udara, “kau telah mengejekku bocah!”, 1 lagi ciuman mendarat dibibir lelaki yang nyaris kehilangan akal sehatnya. “Emh hah.. Hah… Kau mengejekku outsider!” 1 lagi kecupan, “dan… Hah.. Hah… Kau—”

Pemuda itu dengan cepat duduk, memegangi kepala belakang gadis itu dan menekannya duluan, membuat bibir mereka bersatu, “cukup kau buat aku gila! Hhh…” Ia mendesis ditengah penyatuan bibir mereka.

Sakura merasakan tubuhnya terangkat, lalu duduk dipanguan Deidara, lelaki itu tanpa ampun memberikan Cium—uhm—hukuman padanya. Merasakan bibirnya dikulum seperti lollipop membuatnya merinding, ‘aku tak akan kalah, ganbatte watashi!!’ Dengan tekat kuat membara didalam hati Sakura, gadis itu memegangi kepala bagian belakang Deidara dan menahannya, tak mau kalah ia terus balas mencium.

Kasihan ya, Sakura.

Sepertinya orang-orang di Istana belum sempat mengajarkan apa itu ciuman dan artinya. Tapi karena tiba-tiba merasakan sesuatu seperti <b>Deja vu, ketika bibirnya menyentuh bibir Deidara mengingatkannya pada masa kecilnya dulu, ia melakukannya lagi.

Singkatnya, Deidara bukanlah orang pertama yang menyentuh bibir si innocent Sakura.

Tak terasa sudah beberapa belas detik terlewatkan, lelaki itu melepas hukuman panasnya, tanpa mereka sadari tubuh mereka sudah menempel sejak tadi, tapi sepertinya mereka belum mempermasalahkan ini. Kepala Sakura terkulai lemas di dada Deidara. Nafasnya benar-benar memburu, mungkin disaat kecil tidak seburuk ini.

Beru saja ia merasakan udara segar, lelaki ini kembali membuat Sakura jengkel, seenaknya ia mengatur posisi tangan Sakura sehingga menggantung di lehernya, lagi, ia membungkuk dan mengecupi bibir yang makin memerah itu.

Kali ini Sakura diam, memikirkan kenapa Deidara menghukumnya lama sekali, dan kenapa wajahnya menunjukan raut KENIKMATAN yang MESUM, gadis itu segera mendorong tubuh yang menempel padanya itu, gadis itu reflek membuka mulutnya ketika ingin berteriak. Sepertinya dia lupa sedang apa.

Kecerobohannya dimanfaatkan oleh Deidara, entah sadar atau tidak ia memasukan lidahnya. Tersadar, Sakura malu sekali dan merasa tidak enak, cepat-cepat ia mengepalkan tangannya dan menghempaskan dengan kencang tenaganya yang entah kenapa tiba-tiba pulih.

Shanaro

Buakh…

To be continue

Geiko : sejenis Geisha namun tingkatannya masih dibawah Geisha.

Yoo~ saya kembali dengan bawa banyak permintaan maaf karena gak bisa update cepet. Otak saya buntu kemarin-kemarin, bahkan awalnya gak nyangka bakal sebanyak ini, perkiraan saya sih part. 3 ini lebih panjang dari part sebelumnya.

Yang sequel Nakushite Shimata diundur dulu ya, idenya udah muncul tapi lagi gak mood ngetiknya ._.

Lalu buat bagian-bagian diatas yang sedikit kurang berkenan, dari awal saya kan sudah tulis bahwa Teenagernya berubah jadi Teenager +. Buat yang nanya, tiap part kedepan ada kayak gininya gak? Itu tergantung ya, tergantung mood saya xD

Jadi intinya, besok-besok liat ratingnya aja, gak sering-sering kok diubah jadi T+

Okay, thanks for enjoy reading my anime fanfic, please leave me a comment, ’cause your comment is power for me to continue this fanfic :p😀

Selamat, anda telah membaca 4884 huruf yang tercetak disini.

Regard,

Citra D. Kania

P.s : special pict : Uchiha’s brother (Itachi and Sasuke), untuk Itachi yang pictnya warna matanya merah itu krn lagi aktifin sharingan, jadi yg belum tahu, warna asli matanya hitam spt yg saya deskribtifkan disini.

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s