FF – The Chance of 49 Days Part. 1-a

A Chance of 49 Days

Penulis awal cerita : So Hyun-kyung

Ditulis ulang oleh : Citra D. Kania

Main cast : – Haruno Sakura
– Hyuuga Hinata
– Uchiha Sasuke
– Akasuna Sasori
-and the other

Pair : SasuSaku, SasoSaku, SasuHina, SasoHina.

Warning : standard warn applied

Rate : T

P.s : ini adalah sebuah kisah yang pernah ditulis oleh seorang penulis berbakat, fanfic ini saya buat dengan mengenakan alurnya dengan sedikit perubahan serta cara penulisan saya yang berbeda, juga mengenakan character anime dari Naruto 🙂

If you don’t care or disliked that, please don’t read this anime fanfic and flame or anything ^^

***

Bumi, tempat berbagai makhluk dapat tinggal. Banyak sekali makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang hidup disana, salah satunya bernama manusia. Bumi, tempat dimana habitat mereka dapat hidup mencukupi kebutuhan hidupnya. Ditempat itu, begitu banyaklah kejadian yang terjadi, mulai dari hal yang logis sampai diluar perhitungan para Manusia. Hidup, dan mati ialah salah satu dari sekian banyak contoh kejadian-kejadian itu.

Tokyo, salah satu Ibukota yang terkenal di Dunia. Pasti kalian mengetahui Nama Negara yang ber Ibukota Tokyo, bukan? Ya, Jepang. Negeri Bunga Sakura itu. Negeri yang maju pesat itu tentunya tidak lah terlihat senggang, Gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan kokoh, pabrik-pabrik terlihat dibeberapa tempat, jalanan yang tak pernah sepi, serta pejalan kaki Yang terus melintas. Beribu-ribu manusia yang menjejakan kakinya di Negeri Bunga yang dipakai untuk lambang kepolisian itu terlihat sibuk disiang maupun malam hari, walaupun beberapa dari mereka terlihat beberapa turis dan anak-anak.

Detik ini juga, akan kubawa kalian melihat sebuah kisah. Kisah seorang manusia yang menarik perhatianku diantara beribu-ribu orang lainnya. Aku tak bisa menjamin, apakah kisah ini menarik untuk kalian, ataupun akhir kisah ini akan seperti kisah dongeng dan cerita-cerita seperti di Film lainnya, jawaban itu hanya aku dan Tuhanlah yang tahu, karena aku hanyalah…

Waktu yang terus berjalan.

***

Jalanan tak seperti biasanya, sebuah kecelakaan kecil membuat antrean kendaraan beroda empat menjadi panjang. Berkali-kali orang-orang itu membuat gaduh dengan suara Klakson mobilnya yang memekakan telinga, beberapa protesan dan cemoohan begitu banyak terlontarkan. Mereka, orang-orang itu menyalahkan kebodohan kaumnya sendiri serta memaki-makinya. Yah, itulah manusia.

Kulihat sebuah Mobil keluaran Mercedes berwarna Hitam mengkilat, kaca jendela kendaraan itu terbuka semua, berbeda dengan mayoritas kendaraan disana yang lebih memilih menutup kaca jendelanya demi menghindari suhu Panas. Didalamnya terlihat empat orang anak manusia. 1 sejenis Adam dengan memakai balutan pakaian formal, 1 sejenis Hawa yang berbalutkan gaun manis yang terkesan anggun berwarna putih dengan sedikit tambahan soft pink dibagian dada, dan sisanya sejenis dengan perempuan bergaun itu, namun sepertinya mereka hanyalah Wali, tercermin dari pakaian mereka yang hanya memakai pakaian pesta tak semenarik gadis bergaun putih itu.

Mereka terlihat kebingungan, bahkan seorang gadis berbersurai pirang panjang keluar dari kendaraan dan melihat keadaan disekelilingnya. Gadis itu berkata, “kita tidak akan sampai jika menunggu ini usai. Sakura-Chan, tenten-Chan ayo turun!”

Gadis bersurai merah muda yang mengenakan gaun tadi memandangi gadis yang baru keluar itu tak percaya, “Aaaaa maksudmu apa, Ino-Chan?” ia mengigit pelan kuku jempolnya, wajahnya memelas kini, ” Aah~ otousan, bagaimana ini?” Emeraldnya memandangi frustasi jalanan diluar sana seraya merengek.

“Sakura-Chan, hey Sakura-Chan?! Berhentilah merusak make-up mu! Ayo, kita kesana Tanpa kendaraan!”, mata gadis itu membesar seolah meyakinkan temannya.

Kedua gadis yang masih didalam mobil itu saling berpandangan. Kenapa hanya membuang waktunya?

***

[Au Pov]

Sesosok lelaki bersurai merah darah tengah membolak balik sebuah buku—yang tampaknya—berisi hasil desain-desain miliknya. Bentuk kerangka-kerangka ataupun model bangunan yang terlihat berkelas serta berseni tinggi. Terpampang ekspresi yang bisa disebut bangga diwajah porselennya.

Tak lama tiba seorang lelaki yang terlihat lebih tua darinya, “Sasori, apa Kau lupa bahwa Hari ini ada acara pertunangan? Kenapa bersantai saja!”

Iris Hazelnya memandang malas kearah lawan bicaranya, “apa harus hadir? Lagipula—”

“Kau bicara apa? Bukankah Uchiha Sasuke itu sudah Kau anggap sebagai seniormu? Masa’ Kau tidak ingin hadir.” lelaki itu memprotes, disodorkannya sebuah tuxedo, “pakai ini dan cepatlah, Kau ingin terlambat?”

Iris lelaki muda itu memandangi wajah dihadapannya lalu berganti memandangi benda yang dibawa lelaki itu disusul dengan helaan nafas berat.

***

“Ayolah Sakura-chan, percepat langkahmu, ayo ganbatte!” seorang gadis itu terus mengoceh ditengah kesibukan berjalan cepatnya seraya memegangi gaun panjang milik gadis dengan surai merah muda agar tidak menyentuh jalanan.

“Iya, ayo cepatlah, Saku-chan, kita tak boleh terlambat diacara penting ini” gadis berambut coklat hangat ikut menyahuti. Ditangannya ada beberapa benda yang sepertinya milik sigadis yang sedari tadi diserukan namanya.

“Aaah~ Ahahahaha~” dengan wajah Tanpa dosa Ia tertawa disela-sela jalan cepatnya, membuat teman-temannya heran sekaligus kesal.

“kenapa disaat seperti ini Kau bisa tertawa, Heh?!”

“Ahaha~ habis ini menyenangkan! Bukankah seperti yang ada di film-film? Iya kan?” gadis itu berkata riang hingga tanpa sadar kaki High-heelsnya tersangkut di lubang kecil untuk saluran air disekitar jalan. Sontak Ia oleng dan hampir terjatuh jika kedua temannya tidak memeganginya. “I..Ino-chan, sepertinya ada yang aneh dengan sepatu kulitku” gadis itu berkata takut-takut.

Dengan cepat gadis bersurai panjang itu berjongkok dan mencopot sebelah high-heels yang bermasalah tadi. “celaka! Kaki-nya patah!” mata Aquamarine miliknya memandangi shock sepatu itu.

“Aaaaaa~ bagaimana ini? Otousan~” kembali gadis itu merengek, membuat waktu mereka kembali terbuang percuma.

Dengan sigap Ino melepas sepatu flat hitam miliknya, “Ini, pakailah! Kita tak punya banyak waktu!” gadis itu memakaikan sepatu miliknya, membuat Sakura memandanginya seraya meminta maaf.

Mereka kembali Bergerak, bahkan berlari demi mengimbangi waktu. Sekilas, sungguh sangat mencolok bahwa ada 3 gadis yang berlari-lari sambil memakai gaun yang rumit, terlebih lagi salah satu dari mereka hanya memakai stoking hitam panjangnya tanpa mengenakan alas dihari yang tidak bisa disebut sejuk ini.

*** CDK_49 Days ***

Sasori menghentikan mobilnya di pintu masuk gedung pertemuan, perlahan Ia turun dan memberikan kunci mobilnya para pelayan yang sudah bersiap untuk memarkirkan mobil para tamu. Dilihatnya lagi sekilas penampilannya sebelum memasuki gedung itu, tentu saja dengan ekspresi datar kesayangan miliknya.

*** CDK_49 Days ***

Suara alunan instrumental mengalun lembut, terpusatlah dua anak manusia diruangan itu yang tengah memakaikan cincin satu-sama lain. Tak lama, ruangan itu dipenuhi oleh suara tepuk tangan oleh para tamu.

Gadis bersurai merah muda yang disanggul dengan cantiknya tersenyum bahagia kearah lelaki tegap yang berada disampingnya, lalu melempar tatapan senang yang membuncah kearah para tamu.

Emeraldnya memandangi kedua belah pihak orang tua yang duduk di meja paling dekat, lalu dua sahabatnya. Sedikit rasa bersalah menyelinap ditatapannya ketika memandangi Ino yang baru saja selesai memakai sepatu dan tersenyum memandanginya. Sedikit tersirat tatapan malunya yang Ia tutupi, mengingat menghadiri acara seformal ini tanpa alas kaki.

“ya, baru saja kita melihat acara pertunangan yang di laksanakan oleh Saudara Uchiha Sasuke dengan Haruno Sakura, oleh karena itu, bisa beri tepuk tangan untuk mereka?” suara MC memenuhi ruangan itu yang disambut dengan tepuk tangan tamu.

“Baiklah, sekarang adalah kesempatan untuk tuan Haruno Kizashi untuk berbicara”

Lelaki paruh baya itu berjalan ke tempat MC berada dan memandangi Puterinya sebelum mulai berbicara, “pertama-tama Saya ingin mengucapkan terima kasih, karena telah bersedia hadir diacara pertunangan anak saya—”

Pintu diruangan itu terbuka, membuat perhatian tercurah pada lelaki bersurai merah yang baru saja tiba. Lelaki itu sempat memandangi bingung, apa yang terjadi sampai orang-orang memandanginya dan ruangan yang begitu sepi. Tapi Ia langsung sadar ketika tahu bahwa Ia masuk disaat yang kurang tepat. Dipandanginya wajah kedua orang yang baru saja bertukar cincinnya, sedikit wajah shock terlintas cepat diwajahnya, lalu dipandangi wajah Mr. Haruno.

“Sasori, hey” salah seorang sahabat Sakura itu memanggilnya pelan dan menggerak-gerakkan tangannya sebagai code, ‘join us!’.

Dengan segera lelaki itu membungkuk hormat seraya permintaan maaf dan berjalan kikuk menuju meja teman-temannya itu.

*** CDK_49 Days ***

“Hey, Saso-kun~ orang yang tidak ingin menunggu sepertimu juga bisa datang terlambat?” Gadis ber Iris Emerald itu memandangi Sasori dengan mata yang menyiratkan polos kesalnya, “tidak bisa dipercaya”

“Kenapa Kau telat, Hn?” onyx lelaki itu memandangi wajah temannya heran.

“a..ah tidak ada apa-apa. Lagipula, Kau tak pernah memberi tahu jika ingin bertunangan dengan gadis ini” sorot hazelnya terlihat enggan menjawab, Ia menyesap aroma anggur yang menguar dari gelasnya.

“Hn, kufikir ini kejutan, Sasori. Ternyata kau mengenalinya”

“tentu saja kami saling kenal—” suara gadis itu perlahan menghilang ketika menyadari bahwa sedang ditatap tajam oleh lelaki beriris Hazel itu, ia menggegus sebal. Manik Emerald milik gadis itu berulang kali memandangi kedua lelaki didekatnya itu, wajah bingung dan kesal muncul bergantian diwajahnya, ‘huh mereka sama-sama se-type, Apa bisa akrab?’

“hey, Saso-kun, Kau bahkan belum mengucapkan selamat pada kami!” gadis itu menuding dengan tatapan sinis matanya.

“Oh, brother, selamat”, dengan enggan lelaki itu menjawab, sebelum mulutnya terhalangi oleh gelas karena meneguk anggurnya, membuat gadis mungil itu merengut kesal.

Nampak Haruno Kizashi menepuk bahu lelaki bermata onyx itu, lalu tersenyum. “Sasuke, bisa bicara sebentar?”

“tentu saja, Sir. Oh Sasori, bisa tolong pegangi gaun bagian bawah miliknya jika Ia ingin bergerak?”

Dengan cepat lelaki itu meletakan gelasnya dan memandangi Sakura dengan wajah yang sulit dituliskan maknanya, “U.. Untuk apa—maksudku, apakah Ia mau?” nada suaranya kembali enggan.

“Tak perlu, aku bisa sendiri” gadis itu mengangkat gaunnya tak acuh dan berjalan kearah tamu-tamu lain, wajah kesalnya berubah ramah ketika menyapa tamu ayahnya yang hadir. Hazelnya hanya diam memandangi.

Kizashi memperhatikan kelakuan Sasori. Bersamaan dengan Ia dan Sasuke yang berjalan menjauh dari dua anak itu, Kizashi membuka mulutnya. “Apakah dia temanmu?”

“Ya, Pak. Namanya Akasuna Sasori. Walau terlihat sedikit arrogant, sebenarnya Ia tipe orang yang bisa diajak kerja sama dan berbakat. Dia juga orang baik.”

“jadi kemampuannya?”

“membuat disain-disain bangunan, belum lama Ia mendapatkan penghargaan di Amerika atas karyanya, membuat Design Museum dengan seni tinggi.”

Lelaki paruh baya itu menyimak dengan baik seraya menganggukan sedikit kepalanya sebagai kebiasaan yang sering dilakukannya. Suara ringtone handphone terdengar disela-sela pembicaraan, “Kau bisa duluan.” yang disambut anggukan dari putera bungsu keluarga Uchiha itu.

“Moshi-moshi?”

“Ya, tidak apa-apa, saya mengerti janji dengan pasien-pasien anda tidak bisa di cancel, toh keselamatan nyawa orang lain lebih penting daripada harus datang menghadiri pesta untuk anakku” lelaki tua itu tergelak.

“Eh? Harus sekarang? Tidak bisa diundur saja? Tapi—,” lelaki itu terdiam begitu mendengarkan lawan bicaranya berbicara, “Hh, baiklah saya segera kesana.”

Lelaki tua itu sekilas memandangi anak tunggalnya sebelum berkata pada istrinya bahwa ia harus meninggalkan gedung itu sekarang.

*** CDK_49 Days ***

Nampak seorang gadis bersurai Indigo kusut duduk ditengah-tengah ruangan sempitnya, dilahapnya perlahan mie ramen cup-an yang ada dihadapannya. Tatapan matanya kosong, Ia memandangi sebuah kalender dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

*** CDK_49 Days ***

“chichi, dari mana saja? Disaat pesta anakmu Kau malah pergi entah kemana,” tampak seorang Wanita berumur itu menyambut suaminya diiringi ocehan, namun diabaikan suaminya yang terus berjalan masuk kedalam rumah. “hey, kau mau kemana?”

“melihat Sakura”

Lelaki paruh baya itu meninggalkan istrinya yang mendengus pasrah dan memasuki kamar anak tunggal mereka. Diperhatikan anaknya yang tengah terlelap karena lelah seraya mengelus kepalanya, Ia memandangi anaknya dengan tatapan yang entah apa artinya, hanya terlihat kesedihan diwajahnya.

Kedua sahabatnya hari ini tidur dikamar tamu karena ingin membiarkan sahabat merah mudanya ini tidur dengan leluasa dikasur king sizenya.

*** CDK_49 Days ***

“maksud otousan? Semalam kita kan baru bertunangan, bagaimana bisa langsung menikah?” gadis berambut merah muda itu meringis. Lelaki disampingnya hanya mengusap-usap bahu sang gadis.

“Benar, Pak. Mengapa ada memberikan waktu sesingkat ini?”

“Tunggu, Kau tidak ingin menikahi Puteriku?” dahi lelaki tua itu mengkerut bingung, sedikit tersinggung sebenarnya.

Uchiha bungsu itu langsung menegapkan tubuhnya, “tentu saja akan menikahi Puteri anda, Mr. Haruno. Hanya saja waktu 1 minggu, kami belum melakukan persiapan.” onyxnya memandang lawan bicaranya serius, layaknya sedang melakukan meeting pembahasan saham.

“urusan itu mudah, biar aku yang mengurusnya, dan untukmu Sakura, untuk apa Kau selama ini bersama-sama menjadi sekertaris dan berpacaran dengannya kalau tidak ingin menikah?”

Gadis itu hanya merengut pasrah seraya memandang sang pasangan, memberinya tatapan menggerutunya sedangkan pemuda itu memberikan senyuman menawan yang menenangkannya.

** CDK_49 Days ***

“Sudahlah, Kau turuti saja kemauan Otousanmu, baginya itu Kau yang paling penting.” nyonya Haruno berceramah, matanya memandangi anak tunggalnya menasihati.

“paling penting bagaimana? Otousan menyuruhku cepat menikah, kaa-san” gadis itu merengek-rengek sambil mengkerut-keruti ujung rok yang Ia kenakan. “Otousan kan tidak pernah memaksa selama ini.”

“Haruno Sakura, dengar ya. Yang terpenting untuk hidupnya cuma 3, pertama itu Kau, lalu aku, Baru perusahaan. Setidaknya buatlah Ia senang”

“Huh, iya iya. Oh Kaa-san! Untuk gaun biar aku dan teman-teman yang mengurus, yaaa~?” gadis itu mengeluarkan Puppy eyesnya yang dihadiahi anggukan luluh sang Ibu. Bibir tipisnya melengkung sempurna, mencetakan senyuman cerianya yang biasa. Childish.

*** CDK_49 Days ***

“Waaah kalian sudah sampai ya” gadis bermanik Emerald itu menatap Ino dan Teten yang telah duduk dimeja pesanan mereka, gadis itu melangkah riang dan duduk disamping Tenten, diikuti oleh lelaki beriris onyx datar. Lelaki itu menolehkan wajah Sakura agar memandang kearah seorang paman yang sedang menyiapkan pasta kesukaannya sambil tersenyum padanya. Dengan riang Ia menyapa paman itu dan kembali bercengkrama riang dengan dua teman lainnya. Tanpa Ia sadari kehadiran lelaki bermanik Hazel tengah memandangi punggungnya.

Dua waitress mendatangi meja itu dan memberikan Pasta untuk mereka. Makan malam berlangsung tak begitu lama, mereka mengobrol setelah menghabiskan makanannya, except Sakura yang memakan dua porsi besar Pasta. Dengan lahapnya Ia makan, sungguh tidak tercermin bahwa gadis itu punya selera makan yang besar jika dilihat dari tubuh mungilnya.

Setelah gadis itu berhasil menghabiskan porsi keduanya terkecuali daun salam yang tertinggal dipiring, Ia memandangi dua temannya yang memandangi ngeri. “Ahahaha~ pastanya enak, lagipula aku lapar, iya kan, Sasuke-kun?” gadis itu memandangi pemuda disampingnya dengan senyum cerianya.

Lelaki itu hanya tertawa pelan, membuat gadis itu berasa diatas awan dan menujurkan lidahnya kearah teman-temannya itu. Sasori melipat kedua tangannya dan bersandar dimeja kasir tanpa lelah mengarahkan Hazel hangatnya kearah si gadis tak peka itu.

“aah~ kalian membuatku iri, jadi bisakah kalian ceritakan pertemuan pertama kalian?” Tenten memandangi kedua anak manusia dihadapannya dengan tatapan antusias yang dihadiahi anggukan stoic Ino. Sesaat pandangan lelaki Hazel itu risih, dipincingkan tajam matanyanya.

“Aaaah~ jadi saat itu…” mata gadis itu menerawang, ingatannya berputar kembali ke satu tahun yang lalu.

[Flashback]

Nampak sesosok gadis bersurai merah muda tengah menarik-narik tangan seseorang dibelakangnya seraya berlari, “Ayo Ino-chan, kita tidak boleh berlama-lama”. Kedua gadis itu tengah berpakaian lengkap untuk Hiking, kali ini bukit yang biasa mereka kunjungi yang terletak di Osaka.

Mereka mendaki bukit itu bersama, saling menolong ketika beberapa akar pohon yang besar membuat laju mereka tertahan, tertawa hingga makan bersama ketika sampai diatas bukit. “Sayang sekali tenten-chan tidak bisa datang, ya?” gadis itu berbicara sembari memasukan mie ramen cup kemulutnya. Gadis bermana Ino itu hanya menggangguk dan melanjutkan makannya. “Ino-chan lihat! Sudah mau turun hujan!” gadis mungil itu menunjuk kelangit yang menampakan awan hitam disana sini, membuat Ino meliriknya waswas.

Kedua gadis itu turun bukit berdua, namun sayangnya hujan turun terlebih dahulu, membuat jalan turunan itu menjadi semakin licin, membuat mereka harus berhenti berlari dan melanjutkan dengan berjalan perlahan. Perjalanan itu dipimpin oleh Ino.

Emeraldnya terus memandangi jalanan yang Ia pijak agar menghindari jatuh terpeleset, tapi tak lama Ia tak lagi mendengar suara langkah kaki didekatnya, segera Ia berhenti, dan memandangi sekelilingnya. Rasa takut merambati dirinya ketika Ia mendapati dirinya tengah sendirian berada ditengah hutan. Sepertinya gadis itu tepisah, dan tersesat. Perlahan Ia melangkah lagi sembari berteriak nama temannya itu, tapi tak satupun teriakannya disahuti.

Gadis itu semakin bergemetar karena suhu menurun drastis, Ia merogoh tasnya, dan jaket untuk mencari handphonenya, namun entah mengapa tidak berada ditempatnya, terlebih lagi Ia membawa dua handphone untuk berjaga-jaga yang simpannya disaku mantel, dan tas hikingnya.

Akhirnya Ia berjalan pelan, wajahnya ketakutan dan putus asa. Ia berjongkok dibawah pohon oak besar didekatnya. Wajahnya mengkerut-kerut sedih, berkali-kali Ia melontarkan nama Ino dan ayahnya dengan suara gemetar.

Pencahayaan disana semakin gelap, gadis itu menangis pasrah, mungkin Ia akan mati menggigil atau dimakan hewan buas yang ada disana. Sepercik harapan timbul dari dalam dadanya ketika melihat sinar senter mengarah kepadanya. Ia segera berdiri, dan melambai-lambaikan tangannya. Tak lama seorang lelaki mendekatinya, “Kau tersesat?” suara baritone lelaki itu membuat harapan Sakura semakin besar.

Gadis itu langsung menangis dan mengangguk, tubuhnya bergetar ketakutan, hanya lelaki itu satu-satunya harapan agar Ia bisa keluar dari hutan ini. Lelaki itu memerintahkan sang gadis untuk membuang tasnya, Ia lalu menggendong Sakura dipunggungnya dan berjalan menuruni bukit.

Haruno muda itu memeluk lelaki itu erat dan tanpa sadar tertidur. Ketika Ia sadar, Ia telah duduk di pos para pendaki, lelaki itu tersenyum hangat dan memegang pucuk kepala sang gadis sambil berkata bahwa gadis itu demam, namun Ia sudah tidak apa-apa. Sakura terdiam begitu menyadari bahwa penolongnya bukanlah lelaki yang telah berumur banyak. Tak lama sebuah taxi yang telah dipanggil sang pemuda datang dan membawa gadis itu untuk pulang.

“Arigatou, kalau tidak ada kau aku pasti sudah celaka.”

Lelaki itu tersenyum, perlahan ia memapah gadis itu untuk pergi dengan Taxi yang telah dipanggilnya.

[Finished of Flashback]

“benar-benar seperti Pangeran di Negeri dongeng kan? Aaah kalau tidak ada Sasuke-kun aku pasti sudah tidak bernyawa.” semua orang yang hadir disana tertawa, minus Sasori yang memandangi kedua pasangan itu bosan.

*** CDK_49 Days ***

“Sakura-chan, hati-hati kalau berdiri, nanti gaunmu rusak!” Ino memandangi ngeri gaun yang dipakai gadis itu.

“Aah Kau benar Ino-chan” tangannya mengusap-usap belakang lehernya seraya tersenyum lebar, ” tenten-chan apa menurutmu ini pas?” gadis itu berputar-putar perlahan.

“tentu saja! Lihat, betapa cantiknya nanti Kau saat pakai gaun itu!” seperti biasanya tatapan Tenten begitu antusias menyemangati sahabatnya itu, “Iya kan, Ino-chan?” iris mata kopi susu tenten memandangi Ino seraya meminta persetujuan, Ino hanya mengangguk seraya tersenyum kecil.

“Ah! Bagaimana kalau kalian juga pakai ini? Kita pakai gaun yang sama dan kagetkan orang-orang! Ah Sakura-Chan Kau pintar.” gadis itu mengutarakan Isi pikirannya dengan tawa bahagianya, seolah-olah baru saja mendapat sepeti permata.

Tenten hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa sedangkan Ino tersenyum kaku, kembali memandangi list persiapan pernikahan yang tertulis di Notenya.

*** CDK_49 Days ***

Jarum jam tengah menunjukan pukul 11 malam. Minimarket 24 jam itu terkesan sepi. Nampak hanya seorang pegawai muda bersurai Indigo yang menjaganya.

Gadis itu diam, tak ada cahaya hidup dimatanya, hanya sebuah sorotan Ungu lavender yang hampa.

Tak lama, seseorang pelanggan memasuki minimarket itu. Lelaki dengan kulit pucat khas albinonya itu memandangi sang pegawai sesaat sebelum menunjuk kearah deretan Rokok dan menyebutkan merk seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.

Pegawai itu hanya diam seraya mengambil pesanan sang Pembeli, diletakannya rokok bersama Struk belanjaannya, “25 Ryo”

Lelaki itu menyerahkan uang pas, tetap ditatapnya wajah gadis itu intens, berharap gadis itu akan mengatakan hal lain.

Gadis yang lelah dipandangi itu akhirnya mengangkat kepalanya dan memandang lurus-lurus ke Mata onyx sang pembeli, “Arigatou Gozaimasu” berkata pelan seraya menundukan tubuhnya sedikit.

Lelaki yang baru sadar itu langsung pergi membawa kantung plastic yang ia bawa, ‘mungkin ia mengantuk’.

Waktu berjalan tanpa berhenti, diiringi oleh dentangan jarum jam yang masih setia. Gadis itu perlahan berjalan mengelilingi toko itu dan mengecek kala mengisi kekosongannya.

Entah apa yang dilakukan oleh pemilik toko itu, memperkerjakan hanya seorang gadis dijam malam. Mungkinkah penghematan?

Tak lama, bel yang dipasangi dipintu berbunyi, menandakan ada orang lain yang memasuki toko itu. Gadis itu membungkukan badannya sedikit, namun cepat-cepat ditarik oleh sosok yang baru saja memasuki toko itu.

Ditempelkannya pisau lipat diperut gadis Lavender itu, “Cepat keluarkan uangnya!” ditatapnya tajam seraya sedikit menekan pisau itu. Temannya yang bersama masuk itu hanya menunggu didekat pintu.

Gadis itu tak menunjukan perubahan di raut wajahnya, hanya wajah datar yang hampa. “Bunuh saja.” suara lembutnya penuh dengan kekosongan, Tanpa intonasi ataupun logat daerah.

“sialan Kau!” Tanpa melihat keadan Korban yang hanya seorang gadis, lelaki itu mendorongnya kearah konter, membuat gagang telpon itu terlepas dari tempatnya. “cepat keluarkan uangnya!” pencuri minimarket itu sepertinya masih amatir membiarkan alat telepon yang berbahaya bagi para pencuri itu terjulur. Tanpa menyadari bahwa gadis itu telah menekan tombol saar terdorong tadi ‘1’.

Gadis itu hanya menutupi lavender pucatnya dengan kelopak putih pucatnya dan berpasrah diri, berharap benda runcing itu cepat-cepat membobol tubuhnya.

Sepertinya harapan sang gadis untuk mati belum disetujui tuhan, sirine Mobil Polisi tiba-tiba berbunyi tiba-tiba dengan suara yang terasa begitu dekat. Entah apakah para polisi itu diam-diam telah hadir dan baru menghidupkannya atau apalah, yang jelas gadis itu hanya mendesah kecewa.

Gadis itu hanya pasrah ketika diminta datang kekantor polisi dan dimintai keterangan berjam-jam. Tak sekalipun ekspresinya berubah ketika ditanyai, bahkan ketika ditanya, “apakah nona terguncang?” gadis itu hanya menggelengkan kepala, memandangi dengan lavender yang datar.

Ia melangkah menjauhi bangunan itu tepat pukul 4 pagi, dipandanginya langit yang masih gelap itu dengan tatapan sendu. Entah apa yang difikirkan gadis yang dipenuhi oleh selubung bayangan ini.

*** CDK_49 Days ***

Disisi lain, sesosok gadis cantik dengan surai panjangnya itu tengah berbaring dalam diam, sekelebat bayangan hitam terlihat samar dibawah matanya. Sepertinya gadis itu sulit untuk memejamkan Aquamarinenya.

Perlahan ia duduk dan memandangi dua sahabat cantiknya yang kini tengah terlelap pulas, wajah gadis itu sekilas merengut sedih ketika memandangi wajah Tanpa dosa Sakura. Tak lama ia memutuskan untuk kembali membaringkan diri dan memunggungi kedua sahabatnya itu, menutupi wajahnya dengan selimut lembut.

*** CDK_49 Days ***

Sosok dua pemuda tampan itu tengah menikmati makan siangnya selepas dari gym. Obrolan-obrolan kecil terlontar dari mulut penuh mereka, sesekali mereka tertawa ketika obrolan mereka terkesan terlalu konyol dan menggelitik perut. Terpampang jelas bahwa hubungan mereka mereka sangat akrab.

“jadi, sejak kapan Kau kenal Sakura?” onyxnya memandangi hazel itu serius.

“Uh? Kami teman sekolah dulu” jelas sekali pandangan enggannya memandangi sushinya ketika ia menjawab.

“Hn, sepertinya Kau tak senang dengannya.” lelaki dengan surai biru dongkernya itu hanya bergumam santai.

Sasori hanya diam tak menjawab, walaupun dalam hati ia meringis, ‘tak senang?’. “lagipula, kenapa Kau tidak bilang bertunangan dengan bocah itu?” Hazelnya memandangi kesal orang yang sudah dianggapnya senior itu.

“surprise hn.”

“hn.” dengan wajah kesalnya ia meniru gumaman khas ambigu milik Uchiha itu.

“Hal yang lebih penting, Kau bilang ingin kenalkan aku dengan gadis mu. Jadi, mana dia?” Onyxnya memandangi Sasori santai, tak mengerti suasana hati lawan bicaranya yang sedang kusut tiba-tiba.

“dia, sepertinya aku terlambat pulang. Ia sudah dapat pasangan untuk hidupnya nanti” lelaki itu bergumam pelan, memandangi jalanan dari dalam restoran langgananya itu dengan Hazel yang fokusnya sedang berkelana entah kemana.

*** CDK_49 Days ***

“jadi, restoran pasta kemarin itu milik Saso-kun?” Sakura memiringkan kepalanya, kerutan di dahi lebarnya muncul.

“Ya, Kau itu terlalu asik bercerita sampai mengabaikan kehadirannya.” Ino hanya tertawa mendengar ucapannya sendiri, membuat kerutan bi bibir gadis Emerald itu.

Cklek..

“nah, ayoo—” ajak Tenten ketika pintu toko Rotinya terbuka, tapi cepat-cepat ditunjuknya Wajah seseorang dibelakang 2 temannya itu. “Sasori-kun!”

Sakura sontak memutar tubuh, memandang lurus kearah Hazel lelaki itu. “Saso-kun!”

Lelaki itu cepat-cepat berjalan dan menaiki tangga yang mengarah ke restoran pastanya yang cukup kebetulan tak jauh dari restoran itu, berusaha tidak acuh atas panggilan gadis cerewet itu.

Sakura hanya memberi kode ‘maaf’ pada temannya dan langsung mengikuti lelaki itu, terus-terusan memanggil dan bertanya apa yang salah dari dirinya hingga lelaki itu menjadi seperti itu padanya.

“bisakah Kau diam dan pulang?” kalimat dingin itu keluar dari bibir sang seniman itu. Ia memutar tubuhnya dan memandangi tubuh mungil itu kesal, “untuk apa Kau kesini.”

Sakura merasakan dingin dipunggungnya, “aah~ apa saso-kun masih marah karena yang waktu itu? Tapi kenapa? Aku saja sudah memaafkanmu. Itukan sudah sangat lama” gadis itu terus berusaha agar bisa mendapatkan pernyataan dari orang dihadapannya. “La-lagipula, dendam kan dilarang—”

“kubilang pergi. Aku bosan melihat kebodohanmu.” gumaman pelannya membuat tbuh gadis itu kaku, pelan-pelan Sakura menatap wajah Sasori dengan Emerald yang basah, remasan diujung roknya menguat.

Lelaki itu diam ketika melihat Sakura perlahan berbalik dengan bahu yang terlihat lemah seraya menunduk. Perlahan, ditutupinya Hazel hangat miliknya dengan tangan dan mencoba menenangkan hatinya.

*** CDK_49 Days ***

Gadis itu berjalan lesu, kedua temannya memandanginya cemas, “Sakura-Chan, kenapa Kau?”

“apa Sasori-kun berkata sesuatu yang jahat?” Tenten langsung menunjukan kerutan yang jelas didahinya.

“uhm? Tidak, sepertinya ia sedang lelah saja.” gadis itu berusaha tersenyum, meredakan suasana hatinya dan terus berfikir positive, mengingat Sasori baru pulang saat Hari pertunangannya.

“lagipula, bukankah Kau ada pertemuan dengan Sasuke hari ini?” Ino berusaha mengingatkan gadis pelupa dihadapannya.

Gadis itu hanya menepuk kepalanya dan pamit. Berusaha agar tidak telat menyerahkan beberapa barang kepada tunangan sekaligus rekan kerjanya itu.

*** CDK_49 Days ***

“ini, stempel, buku tabungan, dan surat tanah—”gadis itu menyerahkan sebuaha amplop coklat besar, “jadi, Saso-kun yang membuat designnya kan?” gadis itu menatap tunangannya dengan tatapan berbinar.

“hum Bagus.” lelaki itu bergumam setelah mengintip amplop itu, “ya. Nanti kita temui dia, Kau tinggal bilang mau yang seperti apa.” Lelaki itu memegangi kepala gadis itu dan mengelusnya perlahan.

“uuh~ Sasuke-kun, Kau selalu memperlakukanku seperti anak kecil!” ditepisnya tangan kekar itu dari kepalanya Dan menggerutu.

Tak lama bibirnya berhenti memproduksi gerutuan ketika merasakan benda lembut yang hangat menempel dibibirnya. Wajahnya memerah Ketika tahu bahwa lelaki itu mengulum bibirnya sebentar. Dengan kecupan singkat, lelaki itu melepaskan pangutannya dan memandangi wajah calon istrinya itu dan tersenyum jahil. “Lagi?”

“Y-Yak! Apa-apan itu?!”

*** CDK_49 Days ***

“tapi Pak, apakah tidak apa-apa? Saya juga punya tanah, tak perlu memakai miliknya.”

“aku yang memintanya. Lagipula Sakura pasti lebih senang menggunakan tanah miliknya sebagai bakal rumah untuk kalian.” lelaki itu meminum sebentar kopi miliknya, “lagipula, setelah kalian menikah aku akan pensiun dan mempercayakan ini semua pada kalian.”

Uchiha muda itu hanya bungkam dan tak punya alasan untuk menyanggah perkataan calon ayah mertuanya itu. “Pak, Hari ini ada rapat saham, sudah waktunya”

“tentu saja”, lelaki paruh baya itu berdiri dan berjalan keluar ruangannya, diikuti oleh sang Bungsu Uchiha.

Sang sekertaris Direktur Utama itu membungkuk dan mengucapkan salam ketika melihat Haruno Kizashi keluar dari ruangannya. Kizashi tersenyum ramah pada Yamanaka Ino, disusul dengan anggukan Uchiha Sasuke dibelakangnya. Sekilas, Ino menatap Sasuke dan tersenyum hangat.

*** CDK_49 Days ***

Gadis dengan surai merah muda itu kini tengah mengenakan gaun manis berwarna soft pink selutut dengan kerah besar yang terlihat lucu, diputarkannya tubuh seraya memandangi tubuh idealnya dari segala sisi. Dengan senyuman manisnya ia menatap designer langganannya.

Ditangan kanannya terdapat gaun hitam dengan potongan yang lebih menantang dibeberapa bagiannya. Ia kembali menatap dirinya pada bayangan cermin dan mencocokan tubuhnya dengan gaun hitam itu, “lebih Bagus yang mana untuk Ino? Manis atau sexy?” kepalanya dimiringkan sedikit, kebiasaannya ketika bingung.

“kenapa tidak tunjukan langsung saja padanya?” wanita bernama Shizune itu tersenyum hangat pada Sakura, membuat gadis itu kembali tersenyum.

Tak lama ia keluar dengan membawa 3 kantung kertas besar yang jelas isinya adalah beberapa gaun yang ia pilih tuntuk sahabat femininnya satu itu tanpa mengganti gaun selutut yang tadi ia kenakan, sepertinya ia menyukainya juga. Sedangkan untuk Tenten, ia telah menemukan gaun untuknya kemarin.

Ditelakannya kantung-kantung belanjaan itu dikursi penumpang belakang Mobil Audi TT couple kesayangannya, tak lama ia menutup pintu dan memasukan kunci ditempatnya. Dipakainya Seatbelt sebelum memutar kunci mobilnya.

*** CDK_49 Days ***

Gadis lavender itu duduk seraya memeluk lututnya, dipandang lurus-lurus kalender dihadapannya. Terlingkari sebuah tanggal dengan lengkaran berwarna merah, angka 15.

Perlahan ia bangkit dan berjalan perlahan kearah pojok kontrakan sebesar 2,5 petak miliknya. Ia menyingkap kain yang menutupi sebuah kotak cukup besar, dengan perlahan ia membuka kotak yang tak pernah dibukanya selama kejadian ‘itu’.

Diambilnya sebuah pakaian rajut Oranye, dari ukurannya dapat ditebak bahwa itu milik seorang lelaki. Lavender pucatnya menatap pakaian ditangannya dengan pilu, ekspresi yang sangat jarang wanita minim ekspresi itu tunjukan.

Dilipatnya kembali dan diletakannya pelan-pelan, ia membatu ketika memandangi salah satu sisi kotak itu. Dengan tangan gemetar, diambilnya sebatang mawar yang telah layu nan kering kering itu.

Dipeluknya perlahan—takut akan sang kelopak mawar yang rapuh akan tercerai berai—bibir merah gadis itu bergetar, mengucapkan sesuatu yang tak dapat ditangkap oleh Indra pendengaran manusia.

Setetes air mata turun dipipinya yang tak selapis pun dihias bedak atau sebangsanya. Wajah gadis manis itu terlihat rapuh bagaikan kelopak mawar. Wajahnya yang mengkerut dikala bersedih itu membuat waktu—sang penonton—pun ikut bersedih.

*** CDK_49 Days ***

Lelaki bermanik Onyx itu memandangi handphonenya, tak lama ia menuliskan e-mail, ‘ok’ dan mengirimnya. Sesaat kemudian, ia keluar dari gadung pencakar langit itu dan memasuki parkir basement. Dikeluarkannya Porsche hitam miliknya dengan laju rata-rata.

*** CDK_49 Days ***

Surai indigonya diikat seperti biasa, jarang ia gerai walaupun dikontrakannya sekalipun. Dengan jaket lusuh warna hitamnya, dan kaos ungu pucat serta sepatu flat usang yang ia kenakan, ia berjalan menjauhi terminal Bus, tanpa menyadari seseorang yang mengikutinya dari belakang.

Ia berjalan tanpa mengindahkan orang yang berlalu lalang, ditangannya sebatang mawar ia genggam dan ditempelkannya didada. Matanya yang terus menerawang tak pernah fokus atas lalu lalangnya para kendaraan yang melewatinya.

Sesosok pemuda yang mengenakan Helm hitam melesat kencang melewati sang lavender dengan motor sportnya, bagai efek slow motion saat mereka berpapasan, tapi tak seorangpun melirik, mereka hanya memandang kedepan. Pemuda itu makin menjauh, bahkan lavender itu tidak sama sekali menatap punggung pemuda bermotor itu.

*** CDK_49 Days ***

Pemuda itu berhenti dipinggir jalan, diparkirnya motor dan melepaskan Helmnya. Surai kuningnya mencuat kala helm hitam itu berhenti menutupinya. Diletakannya helm itu dan bersandar pada motornya seraya memandang kekiri dan kanan jalanan cukup padat dihadapannya.

Tak lama pemuda berkulit kuning kecoklatan itu melihat kearah handphone yang dipegangnya, ‘Hideyuki Otsu. 10 menit lagi’ ia kembali meletakan Handphone itu disaku mantelnya dan mengenakan earphone yang tergantung dilehernya.

*** CDK_49 Days ***

Gadis ber manik Lavender itu memandangi jalan dihadapannya, perlahan ia berjongkok dan memeluk lututnya. Ditatapnya sendu aspal dihadapannya itu. Kenangannya kembali berputar kewaktu lampau. Sorotan seorang gadis dengan surai indigo halus dengan hiasan dirambutnya, menambahkan kesan manis pada dirinya. Namun sayang, gadis manis itu tengah berjongkok sembari menangisi sebuah Aspal yang terdapat noda darah yang mengering, dengan tanda sejenis garis putih berbentuk tubuh manusia disana.

Ia kembali tersadar ketika sebuah klakson Mobil berbunyi dihadapannya. Perlahan ia berdiri dan memandangi kekanan dan kekiri. Melihat adanya sebuah truk pengangkut tengah melaju kencang, tanpa babibu ia langsung berlari ketengah jalanan.

Ditatapnya truk yang menghampirinya, matanya tertutup, menunggu rasa sakit menghantam dirinya Tanpa mengindahkan bunyi klaksonan truk itu.

Lelaki berkulit albino itu terkejut ketika melihatnya, langsung saja ia menarik tubuh itu dan melemparkan tubuh mereka berdua kepinggir jalan tanpa lupa melindungi kepala gadis itu didekapannya. Nyaris saja tubuh gadis itu terpelanting jauh, jika truk itu berhasil menubruknya.

Disebrang mereka, lelaki bersurai Kuning itu melotot melihat kejadian bodoh dihadapannya. Truk itu berusaha mengerem mendadak dan membantingkan stir kearah samping kiri berusaha menghindari gadis itu.

Truk yang terlalu tajam menikung itu akhirnya berputar-putar dan memasuki alur lawan arah yang tak dibatasi dengan pembatas jalan itu nyaris terbalik dan benabrak sebuah Mobil cevrolet hitam yang terpental menabrak pembatas jalan. Sang supir Truk itu mengumpat dan tak sempat memindahkan truknya karena selang beberapa detik sebuah sedan menabraknya dan berputar-putar, menyebabkan sedan malang itu menabrak mini bus yang sedang melintas.

Dibelakangnya Mobil lain terlalu dibuat kaget hingga menghentakan gas kuat-kuat dan membanting stirnya, membuat mobil itu terbalik.

Mobil bus sekolah yang berjalan berpapasan itu akhirnya kaget karena Mobil disebelahnya meningkatkan laju yang seharusnya berhenti itu akhirnya memutar dan mengarahkan busnya putar balik, nyaris menabrak motor yang tengah melintas.

Tak lama percikan mulai keluar dari Mobil yang terbalik itu. Supir truk yang salah alur itu mulai panik dan mencoba keluar dari Mobil-Mobil yang penyok body disekitarnya, Tanpa sadar ia menyenggol Mobil yang terbalik tadi.

Dengan cepat orang didalam sedan yang terbalik itu berhasil keluar melewati pintu belakang, dan berusaha Mengikhlaskan ketika api mulai menyelimuti tubuh mobilnya.

Kemacetan panjang mulai menunjukan aksi kompak ‘tekan klakson’. Beberapa orang disekitar sana mulai panik, dan menggunakan telepon untuk memanggil beberapa service, seperti polisi dan ambulans, serta pemadam kebakaran.

Sakura yang kini tengah mengendarai Audinya itu tengah gelisah, akhirnya ia melirik ponselnya dan berusaha mengambilnya. Sialnya ponsel itu terjatuh didekat kendali gas, rem, mobilnya.

Di standarkannya kecepatan mobilnya dan melepaskan seatbelt guna memungut ponselnya. Ia terlonjak—begitu kembali duduk tegak setelah mendapatkan ponselnya—mendapati sebuah motor pengangkut surat tengah oleng dan terjatuh sejauh 5 meter didepannya.

Dengan cepat, ia mencari rem dan membelokan stirnya. Hari sial untuknya, ketika mendapati gas yang ia pijak. Dengan cepat ia menatap kedepan, ia sedang meluncur kearah bokong truk yang tengah berhenti dengan kecepatan 40km/jam.

Tanpa pikir panjang, ia banting stirnya kekiri karena kosong, sayangnya hanya setengah mobilnya bisa selamat. Setengah bagian mobilnya menghantam keras truk itu.

Ia yang tanpa pengaman itu akhirnya merasa terlempar dari mobilnya lewat kaca depan dan terkapar diaspal yang panas, ditengah kecelakaan massal itu.

Pemuda berambut kuning itu mendecak kesal melihat gadis itu lalu kembali memandangi seorang lelaki paruh baya yang kini terjebak macet dihadapannya.

Lelaki itu tak lama memegangi dada kirinya dan mengernyit kesakitan, nafasnya sedikit tersengal dan tak lama kemudian tak sadarkan diri.

*** CDK_49 Days ***

“maaf terlambat, aku harus menemui seseorang tadi.”

“tak apa-apa, jadi apa Kau bawa itu?” salah seorang dari lelaki berkacamata dihadapannya tersenyum tenang.

“tentu.” tangan putih itu menyerahkan amplop coklat besar. “stempel, buku tabungan, surat tanah.” suara baritonenya rendah.

“baiklah.” salah seorang lelaki itu mengambil amplob besarnya. “kudengar, Kau akan menikah, ya?”

“tak perlu pikirkan, yang penting dibicarakan hanya masalah bisnis, bukan?”

“khukhu, Kau tetap dingin ya, Uchiha.” sosok lelaki berambut lurus panjang itu tersenyum menatap tatapan dingin sang Uchiha.

*** CDK_49 Days ***

Gadis Emerald itu tersadar dan bangkit, disekelilingnya orang-orang berteriak dan menangis. Nyaris seperti di film-film action, dimana matanya menyisir Mobil-Mobil yang penyok dan terbakar dihadapannya.

Tak lama ia memandangi sebuah Mobil yang mirip dengan milik—Mobil miliknya. Wajah cantiknya menunjukan raut heran dan cemas ketika banyak orang yang mengerubungi mobilnya seraya berteriak cemas.

Berusaha untuk mengintip, akhirnya ia terlonjak ketika mendapati seseorang tengah berada didalam dengan kepala yang basah oleh darah segar.

Sontak ia membelalak kaget, sedetik kemudian ia mencoba menyelinap orang-orang yang menghadangi jalanannya itu. Tapi kejadian janggal terjadi, tubuhnya sama sekali tidak dapat menyentuh orang-orang disekitarnya.

Ketakutan yang bercampur bingung menyatu diwajah gadis mungil itu. Tangannya bergemetar kencang, dan langsung menarik kasar rambutnya, ‘apa? Apa ini? Apa yang salah?!’ Geraman frustasinya ia teriakan jelas, tapi tak satupun orang-orang disekeliling memandangnya.

Tentu saja ia kebingungan, pertama ia tak bisa menyentuh orang-orang disekitarnya. Kedua, tak seorangpun yang menyadari kehadirannya. Dan, yang ketiga, hal yang paling mustahil.

Jelas tubuhnya yang berada didalam mobil, dengan darah mengucur deras dari kepalanya yang terhempas kearah stir.

Dikala kebingungannya, ia mencoba memandang kearah kiri dan kanan, berharap ada seseorang yang melihatnya.

Diam, sempat ia terdiam ketika Emeraldnya menemukan sosok berjaket kulit dan jeans hitam tengah memandanginya gelisah dan mengumpat. Sakura cepat-cepat memandang kebelakang ataupun sebelahnya, tidak ada. Jelas lelaki itu memandangnya. ‘Dia bisa melihatku!’

Niat akan berlari kearah pemuda bersurai jabrik kuning itu terhenti ketika melihat tubuhnya yang tengah diderek dan ditaikan keatas ambulance. Gadis itu sempat dilema untuk kearah yang mana, tapi cepat-cepat diputuskannya untuk ikut menaiki ambulance ketika ia tidak lagi melihat Pemuda dan motor Sportnya dalam hitungan detik.

*** CDK_49 Days ***

Next part 1-b :

“Aku dimana?”

“Apa yang terjadi dengan padanya?!”

“Sesungguhnya, kau sebangsa dengan orang yang sudah mati.”

“Kesempatan 49… Hari?”

***

YOSH, I’m come back dengan selingan dramafic ini. Yoo, bagi yg suka/tau tentang Drama dari negara ginseng yang berjudul 49Days, pasti sudah sangat hapal dong.

Tapi, saya merasa stress dan tiba-tiba ingin menceritakan juga kehidupan para Character Anime ini kalau dimasukan dengan alur cerita 49days.

Masalah alur, saya juga akan ada sedikit adegan dan plot sih, jadi gak bakal terlalu mirip, walau mesti diakui, ini bukanlah fic yang dapat sepenuhnya dibanggakan karena penulis asli sang cerita bukan saya, CDK.

Ohya, karena saya sedang tidak ada waktu untuk mengedit fanfic ini, jadi mohon maaf jika tidak ada bold and italic untuk kosakata lain, juga beberapa typo yang bertebaran, anda bisa sebut saya miss. Typo mungkin _-_)/

Bonus pict :

Yamanaka Ino, and Tenten

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

4 Responses to FF – The Chance of 49 Days Part. 1-a

  1. netirosma says:

    Woaaah, 49days versi manga >//< penasaran deh sm schedulernya, tp sepertinya deidara ya.__. keep writing! Jgn hiatus lama2! Fighting! Kkk

    • CDK world :) says:

      Ahaha iya 8D arigatou udh menjejakan kaki disini :p
      Siapa yaaa, coba dilihat di next chap, lagi on going nih, ganbaroo watashi 8D)9
      Okesip, makasih commentnya neti :B

  2. Hanarin No Himeko says:

    aaaaa…. lanjut!!!!!~
    ceritanya keren!!!!~~~~ /walaupun udah pernah nonton dramanya/ *plak*
    penulisannya juga udah bagus, selamat berjuang author-san! Ganbatte~

    • CDK world :) says:

      Ah oke, oke, jadi tambah semangat nih abis baca comment ini😀
      Hihi, iya waktu saya tonton juga tiba-tiba keppingin buat versi animenya xD
      Arigatou Hanarin-san, silahkan tunggu yaa ^.^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s