FF – The Mission Part. 1

Let’s reading~!

Malam yang meriah, beralunan tepuk tangan meriah, dan musik instrumental yang manis sebagai back sound. Upacara pertunangan sang Yamanaka Ino berlangsung meriah.

Para tamu tengah menyantap hidangan pesanan. Dilantai 5 itu, berpuluh-puluh orang mengisi sebuah ruangan, berbalutkan dress kelas atas, dan sepasang jas serta tuxedo.

Sesosok gadis remaja tengah berusaha agar tidak kehilangan kesadaran kala melihat sesosok pria gagah dengan balutan jas hitam formalnya. Pipinya tengah memerah, bibir penuh semerah cherrynya tengah terbuka sedikit, berusaha memasok udara dengan baik.

Puk…

Sebuah tepukan pada bahunya membuat gadis mungil itu berbalik, dan tersenyum hangat, “Otanjoubi ne, Ino-chan.”

Gadis bertubuh bak model itu tersenyum gembira, “tentu. Kau harus menyusul ya, nata-chan” diselipkannya kedipan jahil yang terbalaskan dengan pipi merah Hinata.

Ino sang bintang pada malam itu pun berlalu, menyisakan Hinata yang kembali melirik sosok pemuda itu dibalik poni ratanya. Jus jeruk ditangannya nyaris saja tumpah ketika tatapan diam-diamnya dibalas.

Pemuda berkulit >tan itu tersenyum bersemangat, dan berjalan menghampirinya, “Hei Hinata-chan! Kau sendiri?”

Gadis itu mencoba meletakan gelasnya disalah satu meja bundar didepannya tanpa bergemetar—well, sayangnya gagal. “Na-N-Naruto-kun, ti-tidak. Ada N-neji-nii.”

Inilah kebiasaan puteri sulung Hyuuga Hiashi. Kebiasaan yang memalukan baginya ialah harus terbata-bata begitu merasakan gugup.

Sapaan canggung—yang sebenarnya hanya dirasakan oleh gadis itu—membuahkan obrolan-obrolan ringan. Pemuda yang ceria dengan gadis pemalu.

Tanpa mereka berdua sadari, tatapan intimidasi tengah dilemparkan oleh sesosok pemuda disudut ruangan. Berbalutkan bayangan, pemuda itu meneguk anggur merahnya tanpa berhenti menatap gadis berbalut gaun azure elegan.

“Mulailah tugasmu sekarang.” Sosok pemuda bermata Pearl itu menepuk pundak pemuda itu seraya memandangi obyek yang sama.

“Hn.”

Pemuda itu perlahan meninggalkan tempatnya, meletakan gelasnya diatas sebuah meja, dan memegangi benda kecil yang tertempel ditelinga kirinya seraya berucap. “Now.

Klap…

Lampu ruangan itu serempak berhenti menyinari. Kegelapan itu disusul dengan teriakan-teriakan nyaring, dan protesan para tamu. Yang tanpa mereka sadari, sesosok gadis diantara mereka tengah menghilang.

*** CDK_The Mission ***

Author : Citra D.K ( @CitraDewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, all of casts belong to Masashi Kishimoto.

Cast : Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Shimura Sai, Haruno Sakura, and another casts.

Pair : SasuHina, slight KakaSaku, SaiSaku

Genre : romance, angst, shonen.

Warning : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T+.

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning!

P.s : action yang tak terlalu mendominasi cerita, kurang bisa disebut hard action karena ini juga mengandung bagian romance para insan.

*** CDK_The Mission ***

Kelopak mata gadis itu bergetar dan akhirnya terbuka secara perlahan, mempertontonkan sang iris Pearl yang sayu. Beberapa kali kedua bola mata itu mengerjab untuk menyesuaikan keadaan remang ruangan itu.

Perlahan ia mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya menjadi terduduk. Ia tersadar tengah duduk disebuah kasur queen size yang nyaman dengan selimut yang melindunginya.

Diedarkan tatapannya keseluruh penjuru ruangan yang dapat ia tangkap. Tak 1 pun lampu yang menyala, cahaya yang masuk hanya berasal dari jendela besar yang terbuka tirainya, terletak disebelah kanan dari ranjang yang terletak diantara sisi kanan dan kiri.

Ia bukanlah gadis yang pemberani, namun karena itu tempat asing, dan masih ada cahaya samar disisinya dari sebuah jendela membuatnya untuk berpikir dua kali akan menjerit, atau tidak

Gadis itu memiringkan sedikit kepalanya kala mendapati sosok pria dengan tubuh tegap tengah memunggunginya. Pria itu berdiri dihadapan jendela setinggi kepalanya, memandangi langit malam, dan beberapa pencakar langit yang memancarkan cahaya samar.

Berbalutkan kemeja putih yang bagian lengannya dilipat hingga siku serta celana hitam, beberapa rambutnya mencuat keatas dan kebelakang rapi.

Perlahan ia mengangkat tangan kirinya—sepertinya menempelkan gelas dibibirnya—tak lama diturunkan lagi tangannya, menampakan volume air yang ada digelas itu berkurang. “Istirahatlah.”

Gadis itu sedikit terlonjak mendengar suara pria itu, tak menyangka bahwa pergerakan tanpa suaranya akan disadari oleh pemuda yang—bahkan—membelakanginya.

Pemuda itu perlahan berbalik, diletakan gelas kaca itu disebuah meja kecil yang menampung sebuah botol Bourboun dengan isinya, dan sebuah benda besi yang belum ia lihat sepenuhnya. Ia berjalan perlahan, dengan caranya yang membelakangi satu-satunya sumber cahaya, menghasilkan wajahnya yang berbayang.

“S-siapa? Gomenassai, aku ada dimana?” Jari-jari mungil itu meremas selimut tebal itu perlahan. Lehernya mulai basah oleh keringat dingin.

“Haido hotel.” Pria itu berjalan kearah sofa panjang didekat jendela itu, dan membuka case cukup panjang. Gadis itu sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu melihat isi case itu

Case of gun.

Pearl gadis itu membelalak dan terkesiap ketika melihat sebuah XM107/M107—salah satu sniper rifle kelas atas—ditangan pria itu. Jantungnya berdetak tak biasa, berhayal seandainya scope gun berbahaya itu mengarah padanya sebagai obyek.

Walau cahaya remang, gadis itu dapat menyadari bahwa itu adalah gun dari bentuknya, serta warnanya yang sedikit mengilap ketika bertabrakan dengan cahaya samar.

Ia ingat bahwa kakak sepupunya, Neji pernah memakai alat sejenis itu untuk berburu. Well, Neji juga menyukai jenis-jenis sniper rifle, sebagai pajangan dan beberapa ia pakai untuk berburu, hal menyenangkan yang akan ia lakukan ketika penat.

Pemuda itu kembali berbisik dingin, “tidur, dan pakai selimutmu.” Tak lama, ia terlihat memutar sesuatu. Gadis itu cepat-cepat menuruti perintah sang pria. Tangannya mencengkram erat selimut itu, walau matanya tengah mengamati apa yang pemuda itu lakukan.

Ia kembali berjalan kearah jendela,tangan kanannya memegang scope gunnya. Sepertinya ia tengah melepaskan scopenya tadi sedangkan riflenya masih tertidur nyaman di casenya.

Pria itu mendekatkan mata kanannya dengan bibir scope. Seringaian senangnya muncul kala mendapati sesosok pria berbalutkan jubah hitam tengah mengeker scope kearahnya, dengan sniper rifle yang tengah siap ditangannya.

Tangan kirinnya bergerak, mengambil benda besi yang ternyata pistol. Browning, produk Belgia itu tengah terpasang peredam. Tak lama ia mengarahkan Browning kearah sniper pirang itu.

Seringaian itu makin lebar ketika ia mundur 3 langkah dan menghempaskan 3 tembakan cepat. Kaca jendela itu retak, dengan 3 lingkaran kecil yang berderet dengan rapi.

Seringaiannya berubah menjadi kekehan kecil ketika mendapati pria yang distancenya kurang lebih 350 meter itu mendecih, mendapati kaca -kaca jendela dilantai tertinggi itu pecah. Cepat-cepat ia membereskan gunnya, dan turun dari atap gedung itu.

Tanpa pemuda itu sadari, gadis dibelakangnya tengah nyaris berteriak histeris seraya membulatkan mata melihat adegan cepat tadi.

*** CDK_The Mission ***

Pearlnya mengerjap perlahan, cahaya mentari telah menyinari sebagian ruangan itu. Perlahan ia terduduk, dan menggaruk tenggkuknya. Seulas senyuman tersungging dibibirnya ketika mengendus aroma pancake.

Cepat-cepat ia turun dari ranjang, dan berjalan kearah sumber aroma berasal dari ruang makan. Matanya berbinar melihat tumpukan kue berbentuk lingkaran itu, mengingat bahwa kemarin ia hanya mengisi perutnya pada siang hari.

“Makan.”

Gadis itu terlonjak saking kagetnya, padahal ia sama sekali tidak mendengar suara derap langkah atau sebangsanya. Cepat-cepat ia berbalik, dan mendongak, menatap pemuda tinggi dihadapannya tengah menatap datar. “N-ne?”

Pemuda itu memutar dan duduk disalah satu kursi, dengan tenang ia mengambil sebuah waffle, dan mengunyahnya perlahan, ekspresinya sama sekali tidak terdeteksi ingin mengulang ucapannya.

Melihat tak ada perubahan pergerakan, pemuda itu mendongak, “apa?”

“E-eh.. P-pancake itu bu-buatku?”

“Hn.” Tanpa ingin melanjutkan lagi, pemuda itu meneguk secangkir coffee dihadapannya.

Tak mau berperang terlalu lama dengan asam lambung, gadis itu perlahan duduk.

Suasana hanya diisi oleh bunyi dentingan alat makan, dan kunyahan waffle yang samar. Gadis itu berusaha makan dengan tenang, mengingat bahwa ia tengah sarapan dengan pemuda asing berbahaya.

Pearlnya memandangi piring yang tengah kosong dihadapannya takut, sedangkan pemuda itu telah menyelesaikann sarapannya sejak tadi hanya duduk diam dikursinya. Entah apa yang harus gadis mungil itu lakukan.

A-ano, kau siapa s-sebenarnya?”

“…”

O-onamae w-wa?”

“…”

“… K-kenapa aku b-bisa berad-da disini?”

“…”

“Ha-halo, kau dengar?”

“Hn.”

“K-kumohon jawab p-pertanaanku.” Gadis itu menunduk makin dalam. Rasanya, tekadnya terlalu ciut untuk merasa marah atau kesal. Kedua jari telunjuknya saling ditautkan, lalu dilepas, lalu diputar-putar, dan kembali disentuh-sentuhkan sesama ujungnya, tanda ia tengah merasa canggung—dan terintimidasi.

“Uchiha Sasuke. Anggap saja aku menculikmu.” Pemuda itu berdiri, dan meninggalkan ruangan itu, sedangkan gadis yang tengah menunduk itu mendesah lega.

Tapi kembali ia merasakan ketakutan. ‘Diculik? Dengan pemuda bersenjata? Ini gila, bahkan bagaimana bisa ia menggunakan pistol, dan scope untuk menembak dengan tepat?! Pahadal setahunya peluru pistol tak sebagus rifle untuk menembak dari jarak jauh

Otaknya bekerja dengan cepat, ia memikirkan situasi, serta tanggapan para keluarganya begitu mengetahui ia menghilang. Apa orang yang nyaris ditembak pemuda asing ini suruhan ayahnya untuk menyelamatkannya? Apa suruhan itu tertembak?

Tapi, kenapa tempat sanderaan di Haido hotel. Ia semalam pesta diwilayah Gunma. Tapi Haido tak terlalu jauh dengan Tokyo. Kenapa pemuda ini begitu cari mati?

Perlahan ia mencoba mengintip kekamarnya. Ia tercengang begitu melihat tas berukuran sedang pemuda itu. Ia bahkan memiki Bareta, dan Tokalev lengkap dengan isinya. ‘Pedagang senjata?

Tanpa sadar gadis itu berjalan perlahan memasuki kamar, dan berusaha melihat lebih isi bawaan tas itu.

“Lihat apa?”

Lagi-lagi gadis itu terlonjak. Cepat-cepat ia berlari kesudut kamar, dan berjongkok. “A-anata, apa kau m-mau me-membunuh ku? A-atau keluarga k-ku?” Teriakan histeris keluar begitu saja.

Pearlnya membelalak, ia berusaha merapatkan diri pada dinding ketika mendapati pemuda tegap itu dengan Bareta ditangannya. Cahaya mentari yang cukup terang membuat gadis itu dapat melihat jelas wajah sang pemuda yang.

Tampan.

Tapi cepat-cepat ia menggigit bibir bawahnya kala menatap mata hitam pekat milik sang pemuda, terlihat berbahaya dan melelehkan.

Dengan irama tak teratur ia meremas ujung gaun selututnya yang menghasilkan kerutan-kerutan. Bahkan, gadis itu tak menyadari bahwa tangannya telah basah oleh keringat. Yang hanya ada diipikirannya sekarang, pemuda asing berbahaya ini akan melesatkan peluru kepelipisnya.

Pemuda itu mencoba berjongkok untuk mengimbangi tingginya, dan mencoba untuk balas menatap pearl cantik itu, “baka.” Tak lama ia kembali berdiri dan membelakangi gadis yang nyaris kehilangan kesadarannya karena takut berlebihan.

*** CDK_The Mission ***

“Kakashi, kenapa kau undur-undur?”

“Mungkin lebih baik cari hari yang tepat.”

“Aku tak perduli, lakukan sekarang.”

“Yah, terserah kau saja.”

*** CDK_The Mission ***

Gadis itu terduduk tegap diranjangnya, menatap horror punggung besar pemuda yang tengah membelakanginya memandangi jendela. Kaca jendela itu telah diganti, karena tadi siang pemuda bernama Sasuke itu telah menghancurkannya dengan tendangan super keras darinya.

<b>Well, hotel berbintang selalu memberikan pelayanan ekstra.

“Tidurlah.”

“T-tidak mau!”

Pemuda itu berbalik, dan menatap datar gadis itu.

“K-katakan padaku, siapa yang menugaskanmu?! What’s your goal?!”

Its a secrets

H-how dare you! Tell me, n-now!” Desisan keluar dari bibir mungilnya.

I can’t.”

I said, you-must-tell-me!

I don’t care

“Sasuke!” Entah setan apa yang membisikan sampai ia berteriak. Pemuda itu mendesah, dan berjalan mendekat.

W-what do you want?” Gadis itu semakin mundur kala pemuda itu mulai menaiki ranjang.

Shut-up.” pemuda itu berbisik, dan menatap dalam-dalam pearl yang tengah dilanda kemarahan itu, dahinya sedikit mengernyit begitu mendapati setetes air mata jatuh dipipi chubby sang gadis.

“K-kumohon, jika k-kau pelahap maut, bunuh a-a-aku saja, jangan keluargak-ku.” Kelopak matanya sengaja ia turunkan, menutupi bola matanya yang terasa panas. Perlahan, ia mencoba untuk menarik nafas dalam-dalam, “ayo bunuh s-saja. Jangan s-sulitkan o-orang tuaku.”

Baka.” Pemuda itu bergeser, dan bersandar pada kepala ranjang, menatap sekilas jam yang menunjukan 23:01. “tidurlah.”

Gadis itu menoleh sebentar, “Anata, selama ini tidur d-dimana?” Diteguk salivanya ketika sekelebat pemikiran negative muncul diotaknya.

Sofa

“K-kalau begitu cepatlah pindah” sesaat ia bersyukur karena pencahayaan ruangan yang minim itu membuat pipinya yang memerah jadi tersamarkan.

Pemuda itu menoleh, reaksi yang diterimanya ialah sang gadis berwajah merah—yang jelas dapat ia lihat dengan penglihatannya yang tajam—tengah duduk tegak dengan kikuk walau tak lama gadis itu juga menoleh padanya.

Pemuda Uchiha itu terus memperhatikan iris Pearl Hyuuga yang sembab yang juga tengah menatap iris Onyx kebanggaannya. Ia makin mempertajam mata elangnya ketika melihat sebesit rona pada pipi gadis itu, juga bibirnya yang semerah cherry tak tertutup sepenuhnya.

Tentu saja iris Pearl itu takjub menatap wajah rupawan pemuda berbahaya itu, tak lama ia teringat sebuah novel luar berjenis fiksi yang telah meraih bestseller, “apa kau sejenis vampire?”

Oh yeah, pertanyaan bodoh itu menginterupsi pemuda yang tengah menjelajahi wajahnya, cepat-cepat ia menggigit bibirnya ketika melihat kerutan didahi sang Uchiha.

Baka. Itu irasional.”

“E-eh, tapi mungkin saja kan? Seperti Cullen’s family, mereka para vampire menggunakan pesoleknya untuk memikat korban. Kau juga begitu, kan?” Gadis itu mencoba mengingat-ngingat novel karangan Meyer itu.

“Tidurlah.” Pemuda itu bangkit, dan berjalan keluar kamar, sedangkan sang Hyuuga yang tengah asik dalam dunia fantasi, membayangkan bahwa ia, dan pemuda asing itu hidup didalam novel itu.

*** CDK_The Mission ***

Sosok dengan rambut panjang merah muda sepinggang itu tengah duduk dibalkon kamarnya. Disebelahnya tergeletak sebuah shotgun kesayangannya.

Iris Emeraldnya yang terkesan hampa itu tengah memandangi sang satelit bumi yang terlihat kecil itu. Tubuh mungil yang berisi itu hanya berbalutkan jubah tidur, tidak mengacuhkan angin malam yang bersimilir menusuk tulang.

“Apa yang kau lakukan?” Tanpa pergerakan sedikitpun, wanita itu dapat menyadari hawa orang lain didekatnya. Namun, ia tetap pada posisinya, sama sekali tak perduli dengan pengganggu barunya.

Dibelakangnya, sesosok lelaki tinggi bersandar pada kusen pintu, “kau sendiri?”

“Menyendiri. Pergilah.”

Lelaki itu mendesah, dan berjongkok. Ditatapnya dalam diam punggung wanita itu sebelum melingkarkan kedua tangan kekarnya mengelilingi bahu kecil itu. “Sudah tengah malam, istirahatlah.”

Gadis—wanita itu tetap stay dengan ekspresi hampanya itu, “belum lelah, jangan ganggu aku.”

“Biar aku yang berjaga, tidurlah.” Entah sadar atau tidak, lelaki itu menempelkan batang hidungnya pada leher jenjang wanita itu.

Wanita itu mendesah lelah, “bisakah menjauh? Kau menggangguku, Kakashi. Ambil maskermu dan menjauhlah”

“Hmmmm” yang jelas, sang lelaki itu tetap bertahan, bahkan menggerak-gerakan wajahnya naik turun, menjelajahi leher wanita itu.

“Err… Stay away from me, you’re so disgusted” tapi itu hanya sebuah kalimat hampa, dalam dirinya, ia tengah menahan rasa yang baginya sangatlah menjijikan yang bergejolak, menohoknya agar mendesah.

Hum? I bet you’ll like it” lelaki berambut perak itu mulai mengangkat rambut wanita itu yang menghalangi pemandangannya.

What the f*ck!” Dengan sigap wanita itu menempelkan sikunya pada perut sang lelaki, bersiap menohoknya, “I give up. Feeling not good, I’m sleepy.

Yup, lelaki itu mendesah berat, dan mengalah. Cepat-cepat ia lepaskan wanita itu dan mundur, membiarkannya menenteng benda besi kesayangannya, dan melewati dirinya tanpa acuh.

*** CDK_The Mission ***

Lagi-lagi gadis itu tertidur seperti buffalo, ia mendesah sebal begitu melihat jam digital di nakas samping tempat tidurnya menunjukan pukul 07:58.

Cepat-cepat ia bangkit, dan berjalan perlahan menuju bathroom. Ia terdiam begitu melihat sesosok pemuda berambut basah tengah keluar dari pintu yang ia tuju.

Dengan setelan kesukaan pemuda itu—kemeja putih lengan panjang yang bagian lengannya terlipat sengaja dikeluarkan, dan celana jeans hitam—dan rambutnya yang basah saja membuat Hinata harus sungguh-sungguh menahan pipinya yang merona.

Tanpa basa-basi, pemuda itu melewati gadis yang tengah tersipu itu tak acuh layaknya hanya melihat halusinasi, membuat gadis itu berdecak kesal dan mengembungkan pipi chubbynya—Kebiasaan kecilnya. Tak lama, gadis itu memasuki bathroom.

Seperkian menit, akhirnya gadis itu keluar dengan baju handuknya, helaian rambut Indigonya, serta beberapa bagian tubuhnya yang masih basah.

Gadis itu menghampiri pemuda yang tengah menggerak-gerakan pan yang didalamnya terdapat beribu-ribu butir nasi yang tengah bergulat. Pemuda itu terdiam sesaat ketika mencium aroma shampoo yang menguar.

“Hei, a-aku tak punya baju.” Sejujurnya, sangat memalukan berkata seperti itu, terlebih pada seorang pria. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Memakai pakaian yang sama selama 3 hari berturut-turut?

“Pakai kaosku saja.”

Dan tanpa mengeluarkan sepatah kata, gadis itu langsung berjalan cepat kearah kamar.

*** CDK_The Mission ***

Hajimemashite, Shimura Sai desu, dozo yoroshiku ne, senpai.” Pemuda itu tersenyum dengan kedua mata yang tertutupi kelopaknya, sedangkan pemuda berambut raven itu tetap menatap datar layar kecil pada interkom kamarnya.

“Divisi?”

“Awalnya pencari informasi, namun karena bakatku bisa dibilang excellent aku dipindahkan langsung kedivisi I”

Pemuda itu terdiam sesaat, diliriknya sekilas pintu kamar sebelum pada akhirnya membukakan pintu, dan memberikan sambutan pasifnya. “Make sure, I can’t trust you.”

Pemuda albino itu kembali tersenyum, tak lama ia memberikan sebuah file yang diambilnya dari tas dipunggungnya. “Apa aku boleh masuk, senpai?”

Setelah selesai menelisir file dengan seksama, Uchiha itu kembali menatap pemuda dihadapannya, “code name?”

“Aires”

Uchiha itu akhirnya melepas rantai pintu, dan mundur untuk memberikan jalan agar pemuda bernama Sai itu dapat masuk, mengingat ia bahkan belum melepas rantai pintu saat berkomunikasi—menginterogasi singkat sosok yang mengklaim sebagai juniornya itu.

“Uchiha senpai, kau sudah dengar rencana akan pindah kemana?” Si albino itu kembali tersenyum seraya menyembunyikan kedua iris onyx miliknya dengan kelopak mata.

Kaki kanan Uchiha itu menekan pintu agar tertutup, tangan kirinya dengan cepat terangkat, menempelkan bibir Bareta kesayangannya pada pelipis pemuda albino itu, “fake smile is prohibited.”

Sai melirik benda besi cantik itu yang menempel dipelipisnya, “Baik—”

“A-apa yang kau lakukan?!”

Dua pasang onyx itu menatap obyek baru yang menginterupsi a little conversation mereka, gadis beriris Pearl yang tengah terbelalak.

“K-kau Sasuke, j-jangan macam-macam.”

Pemuda itu menurunkan benda kesayangannya, dan menatap gadis itu datar. “Dari mana celana itu?” Dipandanginya obyek itu dari atas sampai bawah dengan pergerakan hemat onyxnya. Rambut kusut yang lembab, dengan kaos putih kebesaran, dan celana pendek yang nyaris tertutup oleh kaos.

Gadis itu terdiam sesaat, diliriknya celana pendek ketat setengah pahanya yang ia kenakan, rona merah menjuluri pipinya, “i-ini aku pakai k-kemarin,” ia memberi jeda dengan menarik nafas panjang, ” yang lebih penting, kenapa kau menodong orang lain!”

Ohayou, pretty girl. Kau terlihat manis, dan sexy” baru saja pemuda itu ingin mengeluarkan fake smilenya lagi, tapi tertahan begitu mendapati tinjuan kencang pada belakang kepalanya.

BAKA!” Suara kasar pemuda, dan lengkingan gadis itu menyatu begitu mengatakan hal yang sama, menghasilkan keduanya saling menatap awkward.

*** CDK_The Mission ***

Sarapan itu berlangsung tak begitu lama, Sasuke yang seperti biasa mengisi perutnya dengan secangkir coffee, dan waffle, Hinata dengan nasi goreng buatan Sasuke, sedangkan Sai memilih untuk hanya duduk dimeja makan dengan alasan tak biasa makan pagi.

“30 menit lagi pesawat berangkat, senpai.”

“Sudah diurus?”

Excellent, sampai barang bawaan tak perlu dicemaskan.”

“Tunggu! Maksud kalian… A-apa?”

Pemuda berambut biru kehitaman itu berdiri, “siap-siap. 10 menit lagi kita berangkat.” Dengan langkah lebarnya ia meninggalkan ruang makan.

“Haa?” Dengan gaya dramatisnya, gadis itu menjatuhkan spoon dari tangannya, cepat-cepat ia bangkit, dan mengikuti pemuda itu dengan lontaran protes.

Well, sayang sekali, gadis itu tetap harus mengikuti perintah. Sedangkan Sai menatap punggung Hinata sesaat sebelum akhirnya membuang muka.

*** CDK_The Mission ***

Duduk manis dikursi belakang mobil Aston Martin one-77, bukankah seharusnya sangat menyenangkan? Namun, perasaan berbeda berus saja menguar dari gadis itu.

Kejadian malang ini berawal dari hadirnya ia di acara pertunangan sahabatnya, lalu ia dibius, dan diculik saat listrik padam. Mengetahui bahwa penculik ini ternyata gila, dan punya tiga senjata sekaligus. Tujuannya masih rahasia. Ia diawasi 24 jam oleh pemuda gila itu, dan yang terakhir,

Membawanya ke Osaka.

Tidak ada ekspresi kegembiraan kala melintasi jalanan Osaka itu, well, meski sekarang sepi karena melintasi desa kecil. Ia hanya melipat kedua tangannya, dan menatap tajam bergantian dua orang pemuda dikursi depan secara bergantian.

Pemuda albino itu mengambil geretan, dan cigarette case, lalu membukanya, “a smoke, senpai?” Diambilnya sebatang, dan menyalakan geretan, dan membakarnya.

I don’t smoke.

Pemuda itu mengangkat bahunya, “I only smoke rarely myself” menghisap rokoknya sesaat sebelum meniupkan asap dalam mulutnya.

Did you stress?” Uchiha itu melirik singkat junior disebelahnya.

Yeah, a little.” Onyx datarnya tak pernah berpaling dari spion mobil itu. Dalam diam, ia memandangi mobil Porsche 918 Spyder silver sejauh 10 meter dibelakang itu. Dihisapnya dalam-dalam lagi rokoknya, seraya mencoba melihat pengemudi mobil itu.

*** CDK_The Mission ***

Uh? Jadi sekarang uang kalian habis untuk menyewa hotel berbintang?” Gadis itu bergumam remeh seraya memandang sekelilingnya, sebuah kamar penginapan.

“Masuk, dan jangan keluar.” Pemuda bermata onyx itu menatap punggung gadis dihadapannya, tentu dengan bisikan intimidasinya.

Gadis itu melihat sebuah ranjang, dan tersenyum. ‘Mungkin istirahat sebentar‘. Tak lama ia berbalik menatap pemuda tinggi itu, “kalau aku keluar bagaimana?”

Uchiha itu menatap datar , “sebuah peluru akan tembus kepahamu.” Tanpa babibu, ia keluar, dan menutup pintu kamar itu, mengabaikan protesan kesal si gadis.

Tak lama ia menghampiri ruang tamu, dan langsung duduk dihadapan juniornya, “kenapa harus disini?”

Boss bilang lebih baik membawanya kedaerah yang terisolisir.”

“Kenapa dia mengirimmu?”

“Dia terlalu cemas, lagipula bukankah 2 orang hebat lebih baik dari 1?”

Onyx, dan onyx saling beradu pandang.

“Divisi lain?”

“Dia akan datang esok hari bersama beberapa orang dari divisi I.”

“Apa situasi disana baik-baik saja?”

“Yup, selama perselisihan masih berlanjut, boss bilang lebih baik membawanya menjauh dulu.” Pemuda itu terdiam sesaat, “kenapa? Bukankah seharusnya kau terus berkordinasi langsung dengannya, senpai?”

“Aku menemukan alat penyadap biologis. Alat itu akan lenyap sendirinya setelah 24 jam.”

“… Hmp,” pemuda dengan rambut klimiks itu menunduk, “khukhukhu…”

“Apa yang kau kekehkan, Shimura?”

Mendengar nada mengancam seniornya, mau tak mau pemuda itu menahannya, “well, kau orang nomor 1 di divisi I, senpai. Tak kusangka, kau gampang lengah.” Seringaian bermain dibibir Sai.

Uchiha itu menyeringai, “jangan banyak bicara, bocah.”

“Baik, baik. Lagipula, kita harus menyusun rencana. Aku sudah merasakan mereka sejak kita keluar hotel.”

Porsche silver, chevrolet hitam. Tempat inap mereka berjarak 350 m di Timur hotel.” Kedua sikunya diletakan diatas lutut, kedua jarinya saling bertaut, menutupi hidung, dan bibirnya.

“Yah, jangan lengah. Aku telah lama mencari informasi, kelompok itu dipimpin oleh Hatake Kakashi, buronan dari Kyoto, juga bandar senjata. Mereka menyewakan jasa dengan harga yang fantastis”

“Aku tahu, aku punya banyak sumber informasi terpercaya, dan melakukan pengumpulan sendiri.”

“Kau terlalu introvert, senpai.” Pemuda itu menatap bosan lawan bicaranya.

Whatever. Bagaimanapun, aku masih meragukanmu.” Uchiha itu berdiri, dan berjalan kearah jendela, diintipnya sedikit keadaan diluar sana.

“Hei, hei! Aku tidak akan berhianat, sumpahku pada lambang bunga sakura. Lagipula, apa yang kau takutkan, Uchiha senpai?”

Pemuda berambut biru gelap itu berbalik, dan bersandar pada dinding disebelah jendela, “hn, Haruno Sakura, perhaps.” Onyxnya menatap dingin pemuda yang tengah terdiam kaku.

Rahangnya mengeras, tapi cepat-cepat ia mendesah berat, dan menatap onyx milik seniornya serius, “aku akan menghancurkan mereka, karena dia. Lagipula, kau boleh bidik kepalaku kalau aku berani melanggar sumpahku.”

Uchiha itu menyeringai, “dengan senang hati.”

*** CDK_The Mission ***

“Sakura, biar Tenten saja yang memulai—.”

“Tidak perlu. Kau meremehkanku?” Wanita itu tengah mengikat rambutnya menjadi ponytail, dan merapikan blazernya.

Lelaki itu terdiam sesaat, “tidak. Tapi—.”

“Berhenti berbicara omong kosong, Kakashi. Aku bergabung sebagai anggota, bukan peliharaanmu!”

Pet?”

“Ya! Kau selalu melarangku ini itu, dan banyak mengatur! Aku bukan hewan peliharaanmu.” Wanita itu mendesis tajam seraya menatap tajam lelaki bermasker itu.

Lelaki itu membalas tatapan tajam itu dengan sesuatu… Yang sulit dijelaskan. Perlahan ia melangkah mendekati wanita dihadapannya, “kau tidak ikut misi penculikan. Tugasmu hanya mengurusnya setelah ia sampai dimarkas.”

“Sudah kubilang—”

“Ini perintah, kau bilang kau seorang pion, kan?”

Wanita itu menggertakkan giginya kesal, dengan cepat ia memutar tubuhnya, dan berjalan meninggalkan lelaki itu. Sesaat ia berhenti begitu ingin membuka pintu. “Up to you. However, I’m not weak. Menyebutku sebagai pion terlalu semberono.”

Brak!

Sebuah bantingan kasar terdengar memekakan telinga. Lelaki itu mendesah, sedangkan soorang lagi diruangan itu tersentak, “kenapa dengan Saku-chan, chief? Belakangan ini dia lebih emosional, dan makin introvert saja.”

“Hm. Tenten, lakukan sesuai strategi tadi. Masalah Sakura biar aku yang urus.”

Gadis itu mengangguk, dan meninggalkannya sendiri. Lelaki berambut perak itu menatap serat-serat kayu pada pintu itu seksama, walau sebenarnya otaknya tengah mengolah hal lain.

Tak lama ia putuskan untuk pergi menghampiri wanita cantik itu dikamarnya. Sepertinya Haruno Sakura harus memikirkan cara lain selain mengunci kamarnya secara manual, karena lelaki itu memiliki seluruh kunci kamar penginapan itu.

Lelaki itu melepas maskernya, dan menghampiri gadis yang tengah bersandar dikepala ranjang itu.

“Mau apa kau?!”

Lelaki itu terus berjalan, dan menaiki ranjang tanpa peduli dengan protesan, dan makian yang keluar dari bibir wanita itu.

Dengan sekali tarikan para kedua pergelangan kaki, wanita itu langsung berada pada posisi terbaring, sedangkan lelaki itu tengah mengambil posisi baru.

Kedua lengan kekarnya bagai jerat di sisi kanan, dan kiri tubuh mungil namun berlekuk indah wanita itu.

Wanita itu menggeram, dan menatap langsung mata lelaki diatasnya tajam, “menjauh, Kakashi!”

Tanpa babibu, dalam hitungan detik tipis mungil wanita itu telah bersentuhan dengan bibir lelaki bernama Kakashi itu. Tanpa mengindahkan rontaan wanita dibawahnya, ia terus menekan, dan menekan bibirnya.

Beberapa kali ia melumat bibir manis itu, dan menggigitnya. Wanita itu sendiri paham niat awal Kakashi hanya untuk berdamai, dan menenangkan wanita itu. Tapi inilah keburukan Kakashi.

Lelaki itu bahkan menjadi bersemangat menyerang dirinya, bukan menenangkan, bahkan setelah wanita itu berhenti meronta agar pemuda itu berhenti, hasilnya nihil.

Ia berusaha agar tidak kalah, mencoba menahan erangan, dan desah yang meluncur dari bibirnya itu, juga menahan gerak tubuhnya agar pemuda diatasnya tidak melakukan lebih.

Sayang sekali, wanita itu tak bisa memungkiri bahwa tangan-tangan kekar lelaki itu lebih berkuasa sekarang, dan mulai menjelajahinya. Sepertinya, ia harus mengalah, dan pasrah.

Kakashi sudah diluar kendalinya. Kala laki-laki itu melepaskan pangutan bibirnya, dan melakukan hal lebih. Wanita itu hanya bisa pasrah, dan mengeluarkan suara nafas tak beraturan, serta desah kala mendapati perlakuan pemimpinnya itu.

*** CDK_The Mission ***

“Sasuke, apa aku sudah boleh keluar?” Gadis itu berjongkok lemas disebelah pintu itu seraya lemas. Jam telah menunjukan 02.58 sedangkan perutnya telah berbunyi.

Pemuda itu berhenti mengelap Magnumnya, dan menjawab santai, “terserah.”

“Tidak ditembak, kan?”

Pemuda albino yang mendengarnya pun tergelak, dan berbisik, “bukankah kemarin ia minta di eksekusi mati? Mengapa takut ditembak.”

Sedangkan pemuda itu hanya mengangkat bahu seraya membalas pertanyaan gadis itu dengan kosakata kesukaannya, “Hn.”

*** CDK_The Mission ***

Kakashi tersenyum puas melihat wanita yang kini tengah berjelajah ke dunia mimpi disampingnya. Dengan kepala yang bersandar dilengannya, sedangkan diatas perutnya terulur lengan mungil yang tengah memeluknya.

Mungkin ia terlalu kejam, membiarkan wanita itu kalah telak—bahkan menyiksanya sampai tak bertenaga, dan terlelap begitu cepat—, namun hal inilah yang ia dapatkan setelah melakukan ritualnya.

Perlahan, ia meletakan kepala wanita itu pada lengan kiri atasnya, dan melingkarkan lengan panjangnya itu pada bahu wanita cantik itu, dan mengecup dahinya.

Tak lama, ia mencoba menutup kedua matanya, dan menyusul wanita itu dalam dunia mimpi.

*** CDK_The Mission ***

Pemuda bernama Sai itu menyesap rokoknya sekali, dan menghembuskan asapnya lewat mulut. Tak lama ia menekan rokok yang sudah memendek itu pada asbak diatas meja.

Onyxnya berkelana memandangi ruang depan itu. Didalam pikirannya tengah membuat strategi excellent yang akan ia sampaikan pada seniornya.

Ting tong…
Ting tong…

Pemuda itu terdiam sesaat sebelum akhirnya membukakan pintu. Tak ada siapapun disana, hanya ada seberkas amplop coklat besar yang entah isinya apa.

Otak geniusnya dengan cepat bekerja. Ini hanya sebuah rumah sewaan, dan pasti yang menginap orang yang berbeda-beda. Thereby, pasti amplop besar itu diperuntukan untuk mereka.

Sebelum ia memungut, dipastikan sekelilingnya dengan pergerakan onyx yang tak mencolok. Mata elangnya menyapu jalanan dihadapannya, dan beberapa rumah penginapan lain.

Cepat-cepat ia memungut, dan kembali memasuki penginapan.

Ia membeku begitu melihat amplop besar itu. Secarik kertas penuh degan tulisan tangan yang belum ia baca, dan sebuah foto ukuran besar seseorang.

Haruno Sakura.

Sosok wanita yang terpotret dengan senyuman hangat yang terpatri dibibirnya. Kembali ia merasakan dadanya sesak yang aneh.

Cepat-cepat ia membaca surat itu.

Kalian,
Hadapi aku sekarang di taman dekat penginapan kalian sekarang
Jangan lupa bawa senjata kesayangan kalian
Jangan datang sendirian
Kita tuntaskan saja

xxx malaikat bermahkota terang yang cinta darah.

Pemuda itu menunjukan kerutan setelah membaca surat yang ditulis dengan pena merah itu. Dipijatnya sebentar pelipisnya, jelas pengirim ini seorang wanita.

Tapi satu yang terus terlintas dikepalanya, ini adalah tulisan tangan Sakura. Ya, ia sangatlah hafal.

Tanpa menunggu waktu lama, ia cepat-cepat menyimpan amplop itu dalam saku mantelnya, dan menyiapkan pistol beserta pelurunya.

Lebih baik tadang sendiri, persetan dengan isi surat itu, toh bisa-bisa jebakan. Lagipula, setidaknya ia bisa bertemu dulu dengan wanita itu, sebelum akhirnya melakukan tugasnya.

Walau tak sepenuhnya yakin, ia mencoba meyakinkan diri, bisa saja mereka hanya menjual nama wanita itu—walau kemungkinan ini kecil—, dan meminta seseorang berbakat untuk menyamai tulisan tangan wanita itu.

Ia perlu memastikan, sesuatu yang mengganjal pikiran, dan perhitungannya sejak tadi.

Lagipula, ia telah berunding strategi tadi.

*** CDK_The Mission ***

Lelaki itu terbangun begitu merasakan pergerakan pada lengan kirinya. Matanya memandangi sosok yang baru saja merenggangkan tubuhnya.

Wanita itu tetap terdiam, tidak menghempaskan tangan kekar yang memeluknya, atau memprotes lelaki yang masih ia peluk dengan lemah itu.

Yang jelas, tak ada cahaya pada matanya. Hanya tatapan hampa sang Emerald yang tengah memadangi langit-langit kamar. Kakashi meendesah, mengapa selalu tatapan itu yang ia tunjukan padanya?

Mengapa pandangan tak berdaya itu yang selalu ia berikan setelah penyatuan tubuh dua insan itu. Mengapa tak sepercik pun ada ekspresi senang atau bahkan senyuman tipis. Mengapa?

Bahkan, lelaki itu lebih memilih wanita itu berteriak marah padanya, setidaknya percikan emosi mengisi kekosongan Emeraldnya. Namun sekarang, ia hanya terdiam tanpa adanya gerangan ingin bergerak ataupun berbicara.

“Maaf aku menyakitimu lagi,” sesaat lelaki itu meringis dalam hati, “bagaimana perasaanmu?”

“Aku… Tidak tahu.” Lagi, hanya gumaman tanpa penekanan dimana-mana. Begitu meyakitkan bagi lelaki itu.

“Kupikir, dengan seperti ini kau mau mendengarkanku bicara.”

“…”

“Masih sakit?”

“…”

Are you sleepy?”

“…”

“Kau mau marah?”

“…”

Lelaki itu membuang muka pada akhirnya, kesal, dan bingung, serta kecewa melanda hatinya begitu perkataannya tak pernah dibalas dengan baik, dan ini selalu terjadi.

“Katakan padaku apa yang kau inginkan?” Dengan cepat ia menarik dagu wanita itu, dan menatap dalam-dalam Emeraldnya.

“Aku… Ingin bahagia.”

“Katakan padaku, apa yang bisa kulakukan?” Dengan cepat lelaki itu membalas, mengingat jarang sekali wanita itu mau berbicara setelah berhubungan.

“…” Tak lama, setetes air mata menuruni pipinya. Membuat kerutan didahi lelaki itu makin dalam.

“Apa? Kau mau shotgun baru? Atau ingin mengoleksinya? Katakan, akan kuberikan untukmu.”

“…” Wanita itu hanya menatap hampa bola mata lawannnya.

“Apa? Uang? Kau ingin berbelanja? Atau kasih sayang? Aku bisa lebih memberi perhatian untukmu, atau apa?”

“…”

“Kumohon ucapkan sesuatu.”

“Kakashi,”

“Ya?”

“Ambilkan shotgunku, …. dan tempelkan mulutnya didada kiriku.” Tanpa perubahan mimik wajah, ataupun penekanan nada ia berujar.

“Baik, tapi untuk apa?”

“Jangan lupa tarik pemicunya, dan hempaskan isiny—”

“Kau gila?!” Lelaki itu bahkan meneriaki dihadapan wajah wanita itu, “itu yang kau sebut bahagia? Huh?! Too much silly.” Matanya berkilat marah menatap Emerald kosong itu.

Wanita itu mendesah perlahan, dan mencoba untuk terduduk. Lelaki itu melepaskan lilitan tangannya, dan membiarkan kemauan wanita itu.

Ditatapnya punggung polos wanita yang tengah memeluk erat selimut, menutupi tubuhnya yang terbuka seluruhnya. Beberapa bekas seperti goretan, dan cengkraman menghiasi beberapa bagian pada punggung mungilnya yang tak terlindungi rambut panjang acak-acakannya.

Warna merah, dan bagian lengan atasnya yang nyaris biru membentuk cengkraman terlihat jelas. Lagi-lagi ia harus menyalahkan diri begitu mengetahui ia menyiksa wanita itu lagi—meski banyak orang berujar bahwa bekas seperti itu wajar.

Ia bingung, terlalu bingung, rasanya ia membenci dirinya sendiri, tapi ia juga kesal pada wanita itu. Bahkan, sifat menggelikan itu muncul hanya untuk wanita itu.

Entah, ia sendiri tak tahu mengapa itu terjadi.

Suara isak samar mulai terdengar dikamar itu. Lagi, isakan yang membuat dirinya semakin depresi. Cepat-cepat ia duduk, dan memeluknya.

Oh apa yang akan kalian lakukan jika menjadi Sakura?

Yang jelas kebisuan wanita itu membuat sosok laki-laki itu frustasi. Ia mencoba menangkupkan kedua tangannya pada pipi wanita itu lalu menatap lurus kearah Emerald itu.

Sorry, I’m so sorry,” suara beratnya mengalun begitu saja, “tunggu, aku ambilkan pakaianmu.”

Tanpa mengacuhkan dirinya yang benar-benar polos, lelaki itu memunguti pakaian wanita itu, dan meletakannya pada keranjang pakaian kotor.

Segera ia mengenakan baju handuk, dan mengambil sebuah gaun tidur, dan pakaian lainnya. Diletakkannya pakaian itu dihadapan sang wanita.

“Pakailah.”

“…”

Dengan desahan berat, ia mulai bergerak, dan mengenakan pakaiannya. Wanita itu hanya membisu. Layaknya seorang pemilik dengan bonekanya—mungkin ini mirip dengan kisah cinta sang pengrajin boneka Sasori dengan karya bonekanya.

Lelaki itu mengelus pucuk kepala Sakura. “Kau lapar? Kupesankan makanan, ya?”

Sesaat ekspresi wanita itu berubah, seperti memikirkan sesuatu yang tiba-tiba melintas dipikirannya. Semakin lama, matanya makin tidak fokus, dan berusaha mengingat lebih dalam.

Lelaki dihadapannya mengernyit cemas melihat tatapan tak fokus yang jarang ia lihat, jangan bilang wanita ini jadi depresi karena ulahnya. “Sakura—?!”

Ia terdiam begitu Emerald wanita itu menatap wajahnya seksama, terus, dan semakin intens. Nyaris ia tersentak begitu dengan perlahan wanita itu mengangkat, dan menempelkan telapak tangan hangat pada pipinya.

Ia sedikit memiringkan kepala, dan membuka mulutnya, “Kakashi?”

“…ya?”

“Kenapa… Kau berbuat baik padaku?”

*** CDK_The Mission ***

“Sasuke, uangmu benar-benar habis?”

“Hn?”

“Aku bosan makan dirumah,” gumaman pelan meluncur dibibirnya, pipi kirinya yang chubby sampai sekarang masih mencium meja makan kayu itu. “Tak bisa makan yang lain?”

Pemuda itu mematikan stove. “Mau makan apa?”

“Pasta.” Yah, dalam pikirannya sekarang, hanya sepiring pasta yang terlihat menggiurkan.

“Sai saja yang pesan.” Pemuda itu berjalan keruang depan, tapi tak nampak batang hidung pemuda albino itu. Ia terdiam mendapati ruang kosong itu, dan cepat kembali kedapur.

“Uh, ada apa?” Gadis itu memiringkan kepalanya bingung.

Nothing. Makan dirumah saja.”

“Kumohon, aku sedang ingin pasta~”

“Tidak bisa.”

“Ayolah, ayolah, ayolah.” Mungkin gadis itu sedikit gila, mengeluarkan puppy eyes andalannya pada seorang pemuda bengis. Bahkan sampai matanya berkaca-kaca pun pemuda cruel tidak akan peduli.

Yang jelas sekarang pemuda itu terdiam dengan ekspresi aneh melihat tatapan gadis itu.

*** CDK_The Mission ***

Yup, nice shot, Tenten.” Gadis beriris coklat susu itu tersenyum manis begitu melihat jarum bius itu menembus tengkuk pemuda itu, “bukankah sudah dikatakan jangan datang sendiri? Hihihi,biasakan minum alkohol ya?.”

Gadis itu menjentikan jarinya, tak lama 2 pemuda datang.

“Ikat, dan tutup mulutnya. Letakan saja dipekarangan penginapan mereka.”

*** CDK_The Mission ***

Dengan senyuman puas gadis itu meletakan Hashinya, “benar-benar enak!”

Pemuda itu hanya menatap datar, “sudah selesai?”

“Tunggu, kenapa kau tidak makan? Uangnya kurang?” Gadis itu berbisik seraya menatap serius.

“Pesan kalau masih lapar.”

“Aku sudah kenyang!” Bibir penuhnya menggerutu, terlihat sedikit berminyak.

Pemuda itu menatap wajah manis itu selama 3 detik sebelum akhirnya ia bangkit, “lap bibirmu.” dan berjalan kearah kasir.

Hinata cepat-cepat mengelapnya dengan tisu, dan berusaha menahan agar pipinya bisa berhenti memerah.

Gadis itu memandang sekeliling restoran kecil itu, sesaat Pearlnya berhenti begitu mendapati sesosok gadis cantik dengan iris coklat tersenyum bersemangat padanya.

Otaknya tak cukup cepat bekerja, yang jelas pemuda Uchiha telah menggenggam pergelangan tangannya, dan menariknya meninggalkan tempat itu.

*** CDK_The Mission ***

“Sasuke, kenapa sampai sekarang kau belum m-membunuhku?” Gadis itu memelintiri ujung kaosnya gugup.

“…”

“K-kenapa? Bahkan kau malah terus menerus membuatkanku makanan. Kenapa berbuat baik seperti itu? Padahal, penculik-penculik di tv tidak seperti itu.” Gadis itu mencoba mengingat-ingat serial anime yang ia tonton bulan lalu.

“Keluargamu baru bayar setengah.” Nada suaranya benar-benar datar.

“Eh? Mereka sudah memberimu uang? Itu tidak boleh!”

“Berisik—”

Blar!

Cepat-cepat pemuda itu menginjak rem begitu mobil itu melaju berputar mengerikan. Gadis disampingnya kuat-kuat memegangi safety belt yang melinhkari tubuhnya.

‘Ban pecah? Strange.’ “Tunggu disin—”

DOR DOR

Prang!

“Kyaaa~”

Kaca belakang itu pecah begitu mendapati tembakan shotgun.

Shit!” Pemuda itu cepat mengeluarkan Baretanya. Namun, sepertinya terlambat.

Sesosok gadis tengah berdiri didepan mobilnya seraya menodong shotgun kearah wajahnya, dan menyeringai. Ia berteriak lantang, “berikan dia padaku, atau kupecahkan kepalamu.”

Situasi menyusahkan, jika ia tembak langsung dada kiri wanita itu, kaca depan akan pecah, kemungkinan terluka gadis disampingnya cukup besar. Lalu bagaimana bisa ia meninggalkan seonggok mayat, atau bagaimana cara ia pergi dari tempat itu dengan santai kalau ban depan mobilnya pecah.

Dalam waktu seperkian detik pemuda itu melepaskan lock kunci. “Kau, ikuti dia.”

“E-eh… Ti-tidak mau.” Air mata gadis itu meleleh.

“Cepat atau kau akan melihat headshot spektakuler sebuah shotgun.”

“A-a-aaah. T-tapi.. Hiks” tangan gadis itu bergetar memegangi pintu.

“Keluar. Kujemput nanti.” Bisikan tenang itu mengalun sedikit menenangkan perasaan kacau yang gadis itu rasakan, entah kenapa pemuda itu bisa berbisik dengan tenang sedari tadi.

“K-kau h-harus—hiks, janji.” Tangannya yang gemetar hebat itu bergerak, membuka pintu.

“Hn.”

Come on lady, time is money.” Wajah cantiknya tersenyum senang, dan melirik sedikit pada sosok yang tengah bergetar hebat itu.

“T-t-tunggu—hiks. J-jangan temb-bak. K-kalau kau t-tembak, a-aku—aku, a-akan bunuh diri!” Kalimat sesegukannya diakhiri dengan teriakan histeris.

Gadis itu terdiam, dan kembali tersenyum. “Baik, aku tak akan tembak.”

Gadis berambut coklat itu menarik pergelangan tangan Hinata, dan membawanya pergi dengan jaguar yang berada disamping kiri mobil pemuda itu. Sedangkan sang pemuda tengah mengamati tiap pergerakan mereka berdua hingga mobil itu menjauh.

‘Sudah, berarti tinggal…’

Dzing! Dzing!

Clak! Clak!

Benar, tinggal sniper yang tengah menembaki sebuah titik berbahaya, tangki bensin. Dalam seperkian detik mobil idaman para manusia itu telah diselimuti kobaran oranye terang diiringi bunyi ledakan keras sebagai pembuka.

*** CDK_The Mission ***

Kenapa… Kau berbuat baik padaku?

Lelaki berusia 29 tahun itu masih terdiam diruangannya seraya memejamkan mata. Benar, mengapa aku berbuat semua itu padanya?

“Kenapa… Kau berbuat baik padaku?”

‘Aku…tidak tahu.”

Wanita itu terdiam, dan menurunkan tangannya.

“T-tunggu, beri aku waktu untuk berfikir.”

“Tapi, aku tidak ingin mendengarnya.”

“Pasti aku akan menjawab pertanyaanmu. Kau bertanya kau juga yang harus dengarkan jawabannya.”

Sesaat iris wanita itu bertemu dengan milik Kakashi, walau selanjutnya wanita itu memutuskan kontaknya.

“Hhh, menggelikan.”

Tok tok

“Masuk.”

Lelaki itu tersenyum tipis dibalik maskernya begitu melihat sosok wanita cantik dihadapannya tengah tersenyum senang, “mission complete

“Hm, dimana gadis itu?”

“Kuberikan pada Saku-chan, chief.”

Well done, Tenten.” Pemuda itu berdiri, dan membuka laci mejanya. Dikeluarkan tas tenteng kecil, dan memberikannya pada wanita itu. “Itu gift. Kau boleh berbagi dengan Lee”

Gadis itu terseyum cerah begitu melihat tumpukan uang didalamnya, “Arigatou gozaimasu, chief. Anyway, Lee belum kembali, mungkin sebentar lagi”

*** CDK_The Mission ***

“Tidak ada kabar dari dua orang itu?” Pemuda itu berkerut stress.

“Ya, tapi bersabarlah. Sasuke memang sedikit sulit dihubungi karena penyadapan kemarin, tapi Sai baru-baru ini saja.” Pemuda dengan rambut hitam yang diikat keatas

“Cepat cari kabar! Ini tak bisa dibiarkan.”

“Tenang sedikit, Neji. Malam ini beberapa rekan dari divisi I, dan II akan dikirim.”

“Kau ikut?”

“Aku masih mempertimbangkan beberapa hal.”

“Kalau kau tak ikut biar aku saja!”

“Mendokudasai. Baik, biar aku yang pergi.”

Next Part :

“Berhenti atau kutembak.”

“L-lalu?”

“Kau belum pernah menceritakan sejarahmu padaku.”

“Berhenti menatapku dengan tatapan menggelikan.”

“Kau juga membunuh orang yang ia sayang. Kau jahat, Kakashi.” Lambat-laun volume suara wanita itu sedikit meninggi.

“Itu tidak adil!”

***

Yosh, saya come back dengan fanfic baru lagi #kicked
Awalnya, saya mau buat fanfic ini bertema hard action, tapi semakin saya baca ulang malah mengarah kemasalah percintaan _ _)
Jadi, action disini untuk bumbu pelengkap saja,

Anyway, saya kurang bisa buat ‘next part’ jadi kalau absurd dimaklum saja yah 8D

Leave comment please, komentar readers adalah support yang dibutuhkan untuk proses penulisan sebuah cerita :’)
Ganbatte!

Regard,

Citra D. Kania

ps : bonus pict

1. Uchiha Sasuke
2. Hyuuga Hinata
3. Haruno Sakura
4. Hatake Kakashi
5. Shimura Sai

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s