FF – The Mission Part. 2

Author : Citra D.K ( @CitraDewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, all of casts belong to Masashi Kishimoto.

Cast : Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Shimura Sai, Haruno Sakura, and another casts.

Pair : SasuHina, slight KakaSaku, SaiSaku

Genre : romance, angst, shonen

Warning : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T+.

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning!

P.s : action yang rata-rata, kurang bisa disebut hard action karena ini juga mengandung bagian romance para insan. Beberapa kosakata kasar sudah diproses ulang agar tak terlalu terlihat merusak kalimat.

don’t read if you don’t like this story, or pairing here,
Happy reading. ^^

“Tidak ada kabar dari dua orang itu?” Pemuda itu berkerut stress.

“Ya, tapi bersabarlah. Sasuke memang sedikit sulit dihubungi karena penyadapan kemarin, tapi Sai baru-baru ini saja.” Pemuda dengan rambut hitam yang diikat keatas

“Cepat cari kabar! Ini tak bisa dibiarkan.”

“Tenang sedikit, Neji. Malam ini beberapa rekan dari divisi I, dan II akan dikirim.”

“Kau ikut?”

“Aku masih mempertimbangkan beberapa hal.”

“Kalau kau tak ikut biar aku saja!”

Mendokudasai. Baik, biar aku yang pergi.”

*** CDK_The Mission ***

Sesosok gadis berambut Indigo itu terduduk disebuah ranjang dengan wajah cemas yang tak sekalipun absen. Diremas-remasnya kaos putih kebesaran yang ia kenakan.

Yang ia pikirkan sekarang, kapan pemuda itu datang, dan menyelamatkannya serta keadaan pemuda itu sekarang.

Diseberangnya, wanita berambut merah muda itu menatap dingin dirinya semenjak tadi. Diperhatikannya tubuh mungil berisi milik Hinata, dan mendecih.

“E-eh?”

“Cara pakai bajumu aneh.”

“I-ini…” Gadis itu terdiam memandangi kaos yang ia kenakan. Gelombang kesedihan muncul begitu mengingat wajah pemuda tadi yang begitu tenang.

Pearlnya menatap wanita dihadapannya yang tengah memainkan jari-jarinya diatas shotgun. Hinata tersenyum getir, mungkin hanya dirinya yang sama sekali tak bisa mengenakan senjata dijaman penuh mafia ini.

Pearlnya menjelajahi wajah wanita cantik itu, ada sesuatu yang ia mengerti dibalik ekspresi dingin itu. Ia menarik nafas, dan mencoba untuk tenang, “ano—”

“Diam.” Emeraldnya menatap tajam Pearl itu, sedangkan gadis itu terus menatap intens sepasang Emerald indah lawan bicaranya itu. Sakura mendengus, dan memutuskan kontak mata, membuang muka.

Dengan segenap keyakinannya, perlahan ia berjalan menuruni ranjang menghampiri wanita cantik itu. Sedangkan wanita itu menatap kesal, dan mengangkat shotgunnya,

“Berhenti atau kutembak.”

Gadis itu terus berjalan, mengabaikan ancaman berbahaya itu hingga bibir shotgun itu menempel pada dadanya. Ia berhenti, dan tersenyum lembut pada wanita itu, “tembak saja, neesan

“Kau bukan imouto-ku, jangan memanggilku sebutan aneh!”

“Tapi, aku ingin punya seorang oneesan dari dulu,” Rona merah menjalari pipi chubbynya. “Neesan, kireina.” Gadis itu tersenyum tulus.

Sakura terdiam, bukan karena pujian itu. Selama ia hidup, pujian cantik selalu menemaninya, tapi senyuman tulus itu…

Hanya kedua orang tua, dan seseorang yang pernah memberikan itu.

Cepat-cepat wanita itu menatap tajam, “kau mau merayuku lalu keluar dari sini? Maaf saja.”

“Tidak,” gadis itu berjalan mundur, dan duduk ditepi ranjang, “aku memang sangat ingin keluar dari tempat asing ini, tapi bukan dengan cara merayu.”

“Maksudmu?”

“Seseorang telah berjanji padaku,” sesaat ia terdiam, Pearl indah itu menerawang. Seulas senyum hangat terukir tanpa ia sadari, “ia bilang akan menjemputku.”

Sakura kembali terdiam, kenapa dengan gadis dihadapannya? Kenapa ia merasakan hawa positive? Awful, bahkan ia sama sekali tidak merasakan hawa benci yang menguar dari gadis dihadapannya.

“Kau terlalu banyak bicara, mungkin waktumu sudah tak lama lagi.”

“Benarkah? Yokkata” gadis itu benar-benar menunjukan ekspresi leganya, dan kembali ketempat semulanya, bersandar dikepala ranjang.

“Kenapa? Kau akan mati, bukan?” Emeraldnya kosong, tak ada penekanan pada gumaman bertanya-nya.

“Kalau aku mati, Otousan tidak akan keluar uang lagi untuk biaya hidup, dan membayar tebusanku. Orang tuaku akan berhenti mencemaskan dimana aku berada,

“Hanabi masih memiliki Neji-nii, setidaknya ia tak perlu merasa kehilangan aku. Juga… Sasuke, dan Sai-kun, mereka tak perlu mencari mati demi aku.” Pearlnya menerawang, rasanya ia ingin sekali berteriak begitu merasakan dadanya yang sesak yang aneh begitu mengingat wajah pemuda stoic itu.

Ekspresi wanita itu langsung berubah menjadi keterkejutan begitu mendengar gadis itu menyebutkan nama orang itu, namun tak bertahan lama.

Ekspresinya kosong, dadanya makin sakit begitu gadis lavender ini menyebutkan nama sosok itu, ia tahu benar bahwa didunia ini ada milyaran orang, dan peluang bernama sama itu besar.

“Hei gadis lavender,”

“Eh?”

“Kenapa kau menghawatirkan orang-orang itu?”

Sesaat gadis itu terdiam, tapi tak lama ia tersenyum sedih, “perlukah alasan?” Pearlnya lurus menatap Emerald, “Aku sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti, hatiku sakit jika melihat mereka sakit.”

Wanita Emerald itu mendesah, dan memasukan shotgunnya pada case. Tak lama, ekspresinya kembali dingin—atau bisa dibilang hampa.

Neesan, boleh aku tanya sesuatu?”

“…”

Neesan?”

“Ya”

“Apa yang membuat neesan sampai seperti ini?” Pearlnya menatap intens wajah wanita itu, dilihatnya bahwa Emerald orang yamg disebut kakak olehnya itu tidak memancarkan cahaya. Emeraldnya, redup.

“Apa maksudmu?”

Neesan terlihat… Begitu lelah, dan sedih.”

“Bukan urusanmu.”

“Kita kan sesama perempuan, kata okaasanku, perempuan akan merasa lebih baik jika bercerita pada sesamanya.”

“… Untuk apa kau peduli padaku?”

“Karena neesan, dan aku sesama perempuan. Neesan juga terlihat kesulitan.”

“Aku, hanya bosan hidup saja.”

U-uh?”

“Bukankah kau juga sama? Kau juga ingin mati, kan?”

“Memang, tapi disatu sisi aku belum bosan untuk hidup.” Gadis itu meremas kaosnya.

“Plinplan. You must grab your goal, and choice in your life (kau harus mengenggam pilihan, dan tujuan dalam hidupmu).”

I know. However, it felt so difficult to lost people who I love too much (aku tahu. Hanya saja, rasanya begitu sulit untuk kehilangan orang yang aku benar-benar sayangi). Aku akan pasrah kalau memang takdirku pendek, tapi aku tidak akan mengakhirinya dengan tanganku sendiri,

“Sebelumnya, aku benar-benar ingin mati, bahkan bunuh diri. Tapi aku teringat, bahwa Kami-sama masih ada, dan akan sangat berdosa jika mencabut nyawa sendiri.”

Wanita itu membuang muka, tapi sesuatu mengganjal pikirannya, “… Siapa Sasuke, dan… Sai itu?”

“Aku juga tidak tahu, sih sebenarnya,” ia menggaruk pipinya yang tak gatal, “mereka orang baru dalam hidupku, tapi entah kenapa aku senang. Hihi, mereka pemuda yang mengerikan, tapi aku merasa bahwa mereka tidak jahat.”

Uh?”

Emerald itu terlihat sedikit tertarik. Gadis itu terlihat senang, dan makin bersemangat melanjutkan ceritanya.

“Iya, mereka yang menculikku, aku merasa aneh pada mereka. Bahkan mereka memberiku makan tepat waktu—uh, maksudku itu Sasuke.” Pipi gadis itu memerah.

“Sasuke?” Emeraldnya memperhatikan gerak-gerik gadis itu, tanpa disadari atau tidak, ia mulai melangkah maju. Berjalan kearah gadis itu, dan duduk ditepi ranjang.

“I-iya” Hinata menggigit bibirnya, entah perasaan seperti ini muncul, baru-baru ini juga.

“Sasuke itu… Seperti apa?”

um, awalnya ia sangat menyebalkan. Dia pemuda yang dingin, dan mengerikan. Walaupun masih muda tapi keahlian dibidang senjatanya hebat—tapi itu masih menurutku,

“Baru-baru ini aku tersadar, walaupun ia selalu mengancam, dan jarang berekspresi itu, tapi ia tidak jahat. Bahkan, ia belum menembakku sampai sekarang, padahal aku suka membuatnya kesal,

“Dia pemuda yang tampan,” matanya terus menerawang, membayangkan wajah pemuda itu, dan tersenyum malu, “tapi yang lebih menarik perhatianku, dia baik, dan… Perhatian. Kurasa begitu.”

Wanita itu terlihat menyimak, ditatapnya intens wajah gadis dihadapannya sampai membuat gadis itu keheranan.

Anata… Sasuke itu pacarmu?”

Pong~

Wajah gadis itu berubah menjadi merah sepenuhnya dalam 2 detik. “A-a-aapa? P-p-pac-ar? Ti-tidak, bbukan kok buk-kan.” Gadis itu menggerak-gerakan tangannya cepat, dan menggeleng.

“Tapi, kelihatannya begitu.”

U-uh, dia seorang penculik. L-lagi pula mungkin ia membuatkan makanan a-atas perintah bossnya.” Ia menunduk, memainkan dua jari telunjuknya.

“Jadi, kau menyukainya?”

“T-tidak… Tahu.”

“Dadamu terasa sesak yang aneh, sedikit gugup kalau bersamanya, dan senang jika menghabiskan waktu bersamanya. Iya, bukan?”

“I-iya. M-memangnya itu p-perasaan a-apa?”

Wanita itu mengangkat bahu, “People said, falling in love (orang bilang, jatuh cinta).”

*** CDK_The Mission ***

“M-mustahil, aku s-sudah suka seseorang.”

“Siapa?”

“Uh~ namanya Naruto.” Gadis itu memainkan kedua tulunjuknya.

“Apakah perasaanmu pada Naruto, dan Sasuke sama?”

“Uh~ sedikit sih.”

“Mana yang lebih kuat?”

“… Uhh nee, I am… Shy.” Ia menggigit bibirnya.

“Baik, aku juga sudah tahu yang mana yang kau suka.”

“Eeh… B-benarkah?” Pearlnya menatap cemas Emerald yang tengah serius menatapnya. Dan…. Seringai jahil tipis dibibir wanita itu. Hinata ikut tersenyum, “Neesan benar-benar cantik. Sering-seringlah berekspresi.”

Wanita itu terdiam sesaat, “benarkah?”

Gadis itu mengangguk cepat, dan menatap bersemangat.

“Apakah orang lain akan senang melihatku tersenyum?”

“Tentu, nee!” Gadis itu tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.

“B-benarkah?”

I’m certain!”

Emeraldnya terlihat ragu, tak lama ia mencoba menaikan kedua sudut bibirnya, ‘Sai-kun, apa kau tengah melihatku, sekarang?’

Kireina! Sekarang, ceritakan tentang neesan, agar senyum nee bisa lebih leluasa, dan tidak tertahan”

U-uh?” Wanita itu terdiam sesaat. Ia merasa sangat bodoh, tetapi hati kecilnya mengerang, ia benar-benar tak tahan untuk menahannya lebih lama.

Nee baik-baik saja?” Gadis itu terlihat cemas melihat Emerald itu kembali kosong.

“Dulu, aku juga punya seseorang yang sangat kusukai. Dia satu-satunya oranng yang kuanggap keluarga, juga orang yang sangat kucintai.”

Emeraldnya menerawang.

“Dia juga berasal dari panti asuhan yang sama sepertiku. Dia orang yang benar-benar perhatian, dan membuat hatiku hangat kala aku ketakutan, dia… Benar-benar sempurna dimataku,

“Semakin besar ia semakin tampan, sampai kami berada di sekolah menengah senior. Ia pintar, dan ramah. Bahkan aku selalu tersipu begitu melihatnya tersenyum,

“Kami, akhirnya pindah, dan mencari apartemen yang murah, dan hidup berdua. Rasanya, sangat menyenangkan saat itu, walaupun kami sering kesulitan uang, dan harus bekerja saat bersekolah,

“Kami makan seadanya, tapi terasa nikmat. Dia juga terus bekerja keras agar kami bisa makan makanan lezat. Katanya,” wanita itu terdiam sesaat, Emeraldnya mulai basah, “ia kenyang walau hanya melihatku makan banyak, dan bergizi,

“Aku tak mau kalah, terus menerus aku belajar demi hadiah uang tiap 1 semester. Setiap semester, kami suka pergi kepantai, dan makan seafood. Katanya, makan Seafood itu penting,

“Aku juga bekerja, walau menjadi guru privat anak-anak sekolah dasar, pendapatanku tak cukup besar karena aku hanya mengajar anak-anak yang kurang mampu, tapi setidaknya aku bisa membantunya,

“Setelah kami lulus, kami mulai mencari pekerjaan lain. Aku, dan dia akhirnya bekerja disebuah bar. Awalnya ia tak setuju aku bekerja ditempat yang penuh orang-orang mengerikan itu, tapi akhirnya setelah bujukan ia menerimanya dengan berat hati,

Shift kami berbeda, aku siang, dan dia malam. Aku hanya seorang bartender sedangkan dia menjadi pekerja pembersih ruangan. Setidaknya, gaji kami cukup lumayan,

“Ia sedikit berubah hari demi hari, lebih introvert, dan pulang dini hari, padahal harusnya jam 11 pm dia sudah pulang. Aku cemas,wajahnya juga menunjukan raut lelah hampir setiap pulang kerja,

“Sampai suatu hari, ia pulang dalam keadaan mabuk. Aku tak tahan lihat wajah tak berdayanya. Aku, benci alkohol walaupun jadi seorang bartender, rasanya ingin sekali marah melihatnya minum, tapi aku tak tega,

“Sekuat tenaga kubawa dia keranjang kamarnya, dan membaringkannya. Beberapa kosakata ia lontarkan tak jelas, yang hanya bisa kutangkap hanya kata ‘maaf’, dan namaku sendiri,

“Aku tak habis pikir, tangannya tiba-tiba merengkuh wajahku, dan menciumiku ganas. Dia adalah orang yang kuat menjaga iman. Bahkan 19tahun kita bersama, sejauh-jauhnya perlakuan fisik yang ia berikan hanya pelukan mesra,

“Tapi malam itu, tangannya entah disadari olehnya atau tidak bergerak sembarangan, menjelajahi tubuhku—itu kenangan yang mengerikan,

“Cepat-cepat aku kabur kekamarku, dan bergegas tidur. Esok paginya aku marah besar padanya, dan mengabaikannya seharian. Ia mengaku bahwa tidak ingat perlakuan ‘awful‘ yang diberikannya padaku semalam. Kuputuskan untuk memaafkannya,

“Dua hari kemudian, ia pulang pagi hari. Aku curiga padanya, apa yang ia lakukan sampai tidur diluar. Therefore, esok harinya aku meghampiri bar itu tengah malam,

“Teman-temannya berkata bahwa ia tadi menemui seorang wanita, dan sekarang tidak kelihatan.” Air mata mulai menuruni pipi wanita itu.

Hinata terdiam, rasanya sedih, dan kesal bercampur. “Jahat sekali, lalu?”

Wanita itu menarik nafas dalam, dan melanjutkan, “saat aku melewati lorong kamar penginapan, seorang pemuda yang aku kenal menyapaku. Begitu kutanyakan apakah melihat dia, ia berkata enggan bahwa wanita yang bersama dia tengah menyewa kamar,

“Aku memaksanya memberitahuku kamarnya, dan meminjam kunci, kuabaikan liquid yang tidak rasional keluar dari mataku. Aku terus menenangkan hati, berkata bahwa mungkin ia tengah berdiskusi penting,

“Yang jelas mataku terbelalak begitu melihat pemandangan yang tersungguh begitu aku memasuki kamar itu,” wanita itu menekan telapak tangannya didepan mulut, berusaha untuk tidak terisak sedangkan Hinata berdoa agar pikiran negative dikepalanya hanya sebuah hayalan bodoh.

“Jelas-jelas aku lihat ia tengah menyatu dengan wanita lain! Wanita itu kaget begitu melihatku, sedangkan dia… Ia menatapku bingung, berusaha mempertajam penglihatannya, seolah-olah hanya melihat halusinasi,

“Tubuh pucatnya yang basah oleh keringat berkilauan diterpa cahaya lampu kamar. Juga ekspresinya… Seolah-olah tidak mengenalku. Dengan datarnya ia berkata, ‘bisakah anda pergi? Ini privasi’,

Dengan kuat kulempar kunci itu dilantai, dan memutar tubuh. Tubuhku yang limbung nyaris jatuh begitu menabruk temannya yang juga tercengang didepan pintu,

“Aku tak ingat naik bis apa, yang jelas semuanya nyaris blur begitu air mata terus mengalir tanpa henti. Aku tertawa, mengingat semua kenangan yang pernah ia berikan padaku,

“Tapi meski tertawa, hati tetap sakit. Bahkan bersamaku, ia belum pernah melakukan itu semua. Yang jelas aku turun, dan berjalan meninggalkan halte bis tanpa mempedulikan arus jalan ataupun arah,

“Kakiku membawa diriku kedepan apartemen, setidaknya aku bersyukur, tidak buang-buang uang demi membayar bis lagi. Yang jelas, semalaman itu aku tak bisa memejamkan mata dengan tenang,

“Pagi harinya ia pulang, tubuhnya bersih, tak ada keringat atau sebangsanya, tapi aku tahu, pasti ia telah mandi. Tatapannya cemas begitu melihatku layak monster,

“Rambut kusut dengan mata panda yang berair. Aku menatapnya kecewa, sesungguhnya ini benar-benar sakit. Ia bertanya ada apa denganku, dan dengan teriakan histeris aku jawab bahwa aku melihatnya bercinta dengan wanita lain.

“Ia terdiam mematung, tapi aku tak sanggup melihatnya berlama-lama. Dengan sekuat tenaga kuhempaskan telapak tanganku dipipi pucatnya seraya berlinangan liquid dari mata.

“Aku marah besar, dan pergi dari apartemen itu, persetan dengan larangannya. 3 bulan aku tinggal disebuah kontrakan kecil berukuran 2 petak.

“Tak bisa kupungkiri bahwa aku merindukannya. Dalam diam kukenang wajahnya, senyum hangatnya, tangan kekarnya kala mengelus kepalaku, dan tawa riangnya yang membuat hatiku hangat,

“Jelas, aku merasa kesal, dan senang menyadari aku merindukan, dan tidak membenci Sai.” Wanita itu mengelap pipinya dengan punggung tangan, senyum ironis tersulam dibibirnya.

“S-sai?”

“Lelaki yang kusukai, mungkin umurnya sudah 23 tahun sekarang,” senyuman itu terlihat sedih.

“L-lalu?”

“Aku mencarinya ke apartemen, tapi katanya ia sudah pindah 1 bulan setelah aku meninggalkannya. Kutanyakan pada teman-timannya di bar pun mereka tidak tahu, ia telah berhenti.

“Aku bingung mencarinya entah kemana. Mungkin memang egois, tapi hatiku yang memerintahkanku melakukan semua ini. Selama setengah bulan aku mencari, dan akhirnya menemukan pemuda yang seingatku teman lamanya,

“Pemuda berambut nanas itu menguap, dan berkata santai, ‘dia sudah tidak ada.’ Emosiku melonjak begitu saja. Aku bahkan berteriak didepan wajahnya, tapi ia mengulangi ucapannya,

“Aku bertanya padanya dimana Sai berada, katanya ‘ditempat yang jauh dari sini.’ Aku pergi meninggalkannya, dan mendatangi tempat-tempat yang sering ia datangi, berusaha tidak percaya.

“Tapi pada akhirnya aku benar-benar kehilangannya. Semenjak saat itu aku merasa hidupku tak ada artinya, aku sudah tak perduli pada apapun lagi, tapi aku teringat sesuatu,

Jinx lady, wanita pembawa sial itu harus rasakan sakit hatiku. Hatiku semakin gelap, dendam terukir jelas dihati, dan pikiranku. Wanita berambut hitam panjang yang telah mengambil orang yang kucintai.

“Malamnya aku pergi ke bar bermasalah itu, bukan untuk mencari lagi. Tapi untuk minum. Aku tak perduli pada rasa benciku teradap alkohol. Yang terpikirkan malam itu hanya, bagaimana aku harus menghilangkan beban ini, dan memulai misi baruku esok pagi.

“Minuman itu membuatku kehilangan akal sehat, aku tidak ingat lagi sampai suatu pagi, aku terbangun disebuah ranjang hangat, dan nyaman. Rasanya ada yang aneh dengan diriku,

“Sakit, dan pegal bercampur menjadi satu. Dan 1 yang mengerikan adalah ketika mendapati sebuah tangan kekar memelukku yang hanya tertutupi selimut tebal.

“Rasanya sakit, hati, dan fisik menyadari dirimu telah kehilangan kesucian, dan yang terburuk adalah mengetahui orang itu bukanlah orang yang kau cintai.

“Aku kehilangan semangat hidup mulai detik itu, dan terdiam menunggu sosok lelaki disampingku terbangun, dan melepaskan tangannya itu.” Wanita itu tersenyum hambar.

Tanpa gadis itu sadari, air matanya telah menetes sejak tadi, begitu mengetahui cerita wanita dihadapannya. “N-neesan hiks.”

Wanita itu tersenyum getir, “mau dengarkan kelanjutannya?” Emeraldnya kembali menerawang setelah mendapat respon anggukan dari gadis itu.

“Lelaki itu bangun, dan melepaskan pelukannya. Saat itu, rasanya aku membenci dunia, merasakan perasaan jijik luar biasa pada diriku sendiri.

“Tanpa isakan, air mataku lolos menuruni pipi. Lelaki disampingku hanya menatap dalam diam sebelum akhirnya kembali memelukku, dan menciumiku.

“Dadaku berdetak kencang, dan desahan mulai terdengar begitu merasakan lelaki ini tidak lagi menciumku perlahan. Dua sisi bergejolak, antara meronta melepaskan diri atau pasrah saja.

“Kupilih untuk pasrah, begitu mengingat wajah Sai dibenakku. Aku… Sudah tak punya tujuan hidup lagi. Hmp… Hihihi, aku bodoh sekali, dan tidak sepertimu yang masih mengingat kami-sama,

“Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan bersetubuh. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai Hatake Kakashi. Sampai sekarang aku tak pernah—bahkan tak ingin mendengar kisah sesungguhnya pada malam disaat aku mabuk.

“Ia bertanya dimana aku tinggal, dan kuberi tahu. Yang jelas, aku sudah pasrah dalam hidup. Menggelikan bukan? Tak bersemangat hidup karena kehilangan cinta.

“Lelaki itu terus mendatangi kontrakanku tiap hari, membawakan makanan atau lain-lain. Aku makan jika ia memerintahkanku. Aku tidur jika ia memaksaku. Aku hidup… Layaknya seorang boneka milik Kakashi.

“Sampai suatu saat, anak buahnya datang kekontrakanku ketika Kakashi sedang berada disana. Kakashi sengaja membuat perintah pada anak buahnya dihadapanku.

“Setelah mereka pergi, Kakashi menceritakan siapa dirinya sebenarnya. Aku bahkan sempat tak menyangka, seorang. Pemimpin mafia seperti itu bisa bersifat perhatian seperti itu. Bahkan, ia tak pernah menunjukan senjata dihadapanku,

“Aku tanya padanya kenapa ia sengaja membuka kedoknya dihadapanku. Ia menjawab bahwa ia bisa mempercayaiku, well, hanya itu. Tiba-tiba aku teringat pada dendamku dengan jinx lady.

“Aku memohon padanya agar aku bisa masuk kekelompoknya, dan mengajarkanku menggunakan senjata. Akhirnya permohonanku disetujui setelah aku menunggu keputusannya selama hampir 1 tahun.

Watashi, sebenarnya lebih menyukai machine gun, tapi aku lebih suka melihat kepalanya pecah dengan bibir shotgun yang menempel didahinya, karena itu aku pilih shotgun.” Wanita itu mengangkat bahu, dan menyisir helaian rambut panjangnya dengan jari.

Hinata tersenyum ngeri, “l-lalu… Nee sudah menemukan… ‘The Jinx lady‘?

“Tentu! Karena itu, sudah tidak ada lagi tujuanku.”

“… Bagaimana rasanya… Melihat k-kepala y-yang—,” sesaat ia menarik nafasnya dalam, “—pecah?”

“Awalnya merasa puas, tapi lama-lama merasa hambar.”

Hinata memandangi sprai kasurnya, membayangkan bagaimana jika ia atau Sasuke tadi dibuat retak—atau sebangsanya—kerangka kepalanya oleh gadis berambut panjang itu—langsung ia bergidik ngeri.

Meanwhile, percakapan ringan mereka juga terdengar di sebuah ruangan lain. Lelaki berambut perak itu duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan kedua jari kanannya yang tertempel ditelinga, dan mendengarkan seksama.

Ditelinga kanannya, tertempel alat cukup kecil, penghubung dari penyadap yang ia selipkan pada pakaian wanita itu.

Matanya yang sejak tadi terpejam akhirnya terbuka, menunjukan sarat yang sulit dimengerti.

Ia sempat berfikir sejenak sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.

*** CDK_The Mission ***

Neesan, tadi kau menyebut namanya, kan? Aku jadi penasaran, siapa nama keluarganya?”

“Dahulu namanya Haruno. Karena banyak yang mengira kami saudara, akhirnya kami cukup mudah untuk tinggal bersama.”

“Hmm, Sai itu… Ciri-cirinya seperti apa?”

“Hmp, kan sudah kubilang, kata mereka Sai sudah berada ditempat yang jauh. Untuk apa?”

“T-tidak, hanya penasaran saja.”

“Hum, ia tinggi, irisnya hitam pekat, dan datar seperti batu, serta kulitnya—”

Clek.

“Berdiskusi?” Lelaki bermasker itu menatap lekat wanita dalam ruangan itu.

“Pergilah Kakashi—.”

“Kau belum pernah menceritakan sejarahmu padaku.”

“Apa itu pe—.”

For me, that’s necessary.

Wanita itu menatap iris hitam lelaki itu datar, “kenapa kau menggangguku?”

Lelaki itu diam, tapi matanya menatap tajam, hal yang jarang terjadi. Sedikit membuat wanita itu bingung dalam hati, tapi toh ia tak terlalu mau memikirkannya.

A-ano, m-maaf memotong pemb-bicaraan kalian, t-tapi—,”

“Diam”

“Lanjutkan, lavender.”

“E-eh?”

Wanita itu memalingkan wajahnya, dan menatap Hinata, “mau bilang apa?”

“I-itu… P-pemuda ya-yang bersamaku j-j-juga tinggi, b-bermata onyx, d-d-dan berkulit… Albino—”

Crek.

Sebuah Tokalev ditodongkan tepat pada dahi gadis itu. Untuk sesaat, ia merasa takut. Namun, rasa itu tak bertahan lama. Ia menarik nafas perlahan, dan menenangkan diri.

“Kakashi, stop.”

Kakashi replied with the voice sharply, “Tak seharusnya kau mencerikan itu semua pada gadis tak dikenal ini.”

“Aku tak peduli, kau akan bermasalah jika gadis ini terluka sebelum waktunya.”

“Tak perduli.” Lelaki itu perlahan menggerakan jarinya, semakin erat menggenggam, dan bersiap menarik pelatuk.

“Kakashi, berhenti!” Wanita itu berlari, dan mengambil shotgunnya, “dia mati, aku juga.”

Lelaki itu terdiam, tak lama ia lontarkan tatapan tajamnya pada wanita berambut merah muda itu, “cukup! Mulai hari ini, kau bukanlah anggotaku.”

Sesaat wanita itu terkejut, tapi hanya sesaat karena pada akhirnya tatapan keterkejutan itu berubah menjadi tatapan senang, tak lama ia tertawa histeris. “Yokkata! Kau jinx guy, setelah hancurkan aku kau buang.”

“Turunkan senjatamu, Haruno. Aku punya sandera.”

Shit! Coba saja, aku akan memecahkan kepalamu, ex-chief.”

Lelaki itu menarik kasar pergelangan gadis berambut indigo itu, dan melilitkan lengan panjangnya dibahu gadis itu, juga dengan Tokalev yang sudah setia telah menempel dipelipis.

Sakura mendekat perlahan, tak sedetikpun senjatanya ia turunkan, atau tatapan tajamnya ia palingkan dari lelaki berambut perak itu, “stop it—”

DOR!

Prang!

Satu tembakan tokalev memecahkan jendela dibelakang sang wanita, bunyi nyaring itu langsung diiringi jerit shock gadis berambut ungu itu. Cepat-cepat ia meronta untuk dilepaskan.

“Turunkan senjatamu, Haruno. Ini. Peringatan. Terakhir.”

Gadis itu tak tahan, tanpa pikir panjang rentetan gigi putihnya langsung ditancapkan dilengan kekar sang ‘lelaki berbahaya yang lain’. Desisan, dan gerakan reflek tentu saja ia dapatkan.

Dengan cepat Kakashi melepas rangkulannya, ia menatap tajam gadis yang tengah naik keranjang itu tajam, tak lama ia todongkan tokalevnya.

Crek,

DOR!!

Wanita yang hanya mematung tadi akhirnya melesatkan peluru-pelurunya pada Tokalev itu. Dengan cepat benda besi itu terpental, sedikit luka bakar ditangan kanan lelaki itu menunjukan berbahayanya senjata yang gadis itu pegang.

Gadis yang menonton itu hanya membulatkan matanya tak percaya, cepat-cepat ia mengambil bantal, dan memeluknya.

“Jangan sakiti dia. Sekarang mundurlah, aku mau pergi.” Suara dingin wanita itu mengalun ditengah suasana hening mencekam itu.

Lelaki itu mendengus, dan berbalik berhadapan dengan sang wanita, “what your goals?”

“Tentu saja menemui—”

“Brengsek bernama Sai itu?”

“Tutup mulutmu!” Wanita itu menatap garang, “lagipula kebiasaan menguping mu tak pernah hilang, ya—Aakhh…”

Lelaki itu berjalan cepat ketika wanita itu berbicara, diabaikannya tatapan waspada wanita yang tengah mengeratkan senjatanya. Dengan cepat tangan kanannya memalingkan bibir benda berbahaya itu kelangit-langit kamar, sedangkan tangan kirinya bergerak menohok perut wanita itu dengan kepalan tangannya.

Pekikan mencicit itu terdengar lalu disusul dengan melayangnya tubuh wanita itu keatas ranjang. Lelaki itu dengan cepat melemparkan shotgun itu kearah luar dari jendela yang pecah.

How dare you, Kakashi!” Wanita itu mendesis tajam, dan cepat-cepat terduduk, sedangkan gadis dibelakangnya telah menjatuhkan bulir-bulir liquid dari bola matanya karena ketakutan.

Truly, gadis itu tak tahu harus berkata apa. Tentu saja ia tak tega melihat wanita berambut merah muda itu, akan tetapi tingkah Kakashi masih membuatnya shock.

“Diamlah!”

Tanpa mempedulikan ujaran bernada lantang itu, Sakura turun dari ranjang, dan berjalan cepat kearah pintu. Tentu saja, lelaki bermasker itu dengan cepat mencegah.

“Move, Kakashi!” Emeraldnya menyala-nyala menatap Iris milik Kakshi.

“Never.”

Wanita itu terus menentang Kakashi, dan berusaha mencari celah, namun tak kunjung mendapatkannya. Letih karena terus menjerit, dan menghentakkan kepalan tangannya pada lelaki itu, akhirnya ia berjongkok, dan terdiam.

Tak lama, isakan mulai terdengar dari kamar itu. Lelaki itu akhirnya melirik kearah wanita itu, “bangunlah.”

“…tidak, aku—hiks, aku tak mau. Biarkan aku keluar.” Hanya alunan kalimat yang terdengar lemah.

“Boleh saja, tapi—”

“Biarkan aku bertemu Sai-kun, hiks.”

“Kau…” Sesaat lelaki itu memejamkan matanya, berusaha menahan amarah, “Tak bisa.”

Wanita itu akhirnya berdiri perlahan, dan menatap dada pria dihadapannya sendu, “biarkan aku, Kakashi.”

“Ti-dak.”

“Kakashi… Kumohon.” Wanita itu mengadah untuk menatap langsung pria dihadapannya, Emeraldnya yang sendu itu basah, hidungnya merah, dan bibirnya bergetar.

Tentu saja lelaki itu mengerti keinginan wanita itu untuk bertemu dengan lelaki yang ia sebut sejak tadi sangatlah besar. Bahkan seumur hidupnya, wanita ini hanya pernah memohon, dan merendahkan diri ketika awal ia meminta diajarkan senjata, dan sekarang ini.

“Berhenti menatapku dengan tatapan menggelikan.”

Wanita itu terdiam, kembali ia menatap dada lelaki itu. Sesaat ia memejamkan Emeraldnya erat, saking eratnya sampai timbul kerutan didahinya.

“Apa?”

“Kau-sialan-Kakashi! Kau jahat! Menggelikan, dan tolol! Sekarang menjauhlah dariku!” Ia membuka kedua Emeraldnya, dan langsung memincingkan kedua irisnya yang tengah diselubungi Amarah besar.

Lelaki itu hanya diam, tak ingin menanggapi, dan hanya menonton wajah dihadapannya, mengabaikan pukulan dari kepalan tangan wanita itu yang mulai dilancarkannya pada dadanya yang tak terasa sakit untuknya.

“Bukakan! Aku mau keluar! Kau monster gila, aku benci—”

Genggaman kencang dipergelangan tangannya membuatnya terdiam. Dengan kasar lelaki itu menyeret sang wanita, dan masuk kedalam kamar mandi tanpa mengacuhkan pekikan kesakitan, dan makian wanita itu

Tak lama terdengar suara guyuran air yang terdengar samar. Hinata menjadi harap harap cemas, apa yang terjadi pada Sakura, dan apakah ia baik-baik saja.

Tak lama lelaki itu keluar, dan menatap Hinata sejenak sebelum keluar, dan membanting pintu kamar itu kencang, dan menguncinya. Dari dalam terdengar suara samar lelaki itu yang memninta seseorang untuk membenahi jendela kamar bermasalah itu.

Cepat-cepat gadis itu turun dari ranjang, saking terburu-buru sampai ia tersandung oleh kakinya sendiri. Dengan cepat ia bangkit, dan berlari kekamar mandi.

Dengan gerakan refleks ia menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu melihat keadaan wanita didalam bathroom. Dengan cepat ia berlari, dan menangkupkan kedua tangannya yang sudah dingin dipipi wanita itu.

Pipi wanita itu terasa lebih dingin, seluruh tubuhnya basah kuyup setelah tersiram air dingin. Wanita itu terus tersedu hingga warna hidungnya benar-benar merah.

Posisinya yang berjongkok memeluk lutut dibawah shower, dengan rambut yang basah, dan kusut, baju yang telah menempel pada kulitnya, dan bibirnya yang terus bergetar.

Tubuh wanita itu bergemetar hebat, tentu saja rasa dingin itu memekakan tulang, dan langsung membuat orang membisu. Hanya perkataan panik gadis itu, isakan sang wanita, dan gumamannya yang mengisi keheningan dalam ruangan itu.

Yeah, gumaman. Layaknya gumaman seorang wanita yang memohon kepada penyelamatnya yang jelas tak akan bisa sang penyelamat mendengarnya.

*** CDK_The Mission ***

“…Sai?!”

Sosok lelaki berambut jabrik dengan mata sapphire terbelalak begitu melihat sesosok pemuda yang tengah meringkuk disekitar pekarangan belakang penginapan dalam posisi terikat.

Dibelakangnya, Shikamaru yang menunjukan ekspresi terkejut itu diam. “Apa yang terjadi?”

Pemuda albino itu hanya menunjukan code agar orang-orang itu tak hanya menjadi penonton, dan mulai membantunya melepaskan penghalang komunikasi dibibirnya, sebuah plester hitam besar.

Dengan cepat pemuda jabrik itu melihat sekeliling, setelah dikiranya tak ada jebakan aneh, ia dengan cepat melepaskan ikatan-ikatan dari pemuda itu.

Nyaris 1 menit, ikatan-ikatan itu terlepas, ia menunjuk kerah belakangnya tanpa berucap.

Pemuda jabrik itu akhirnya mengecek kerah baju itu. Well, sebuah alat menyadap kecil tertempel disana.

“Yondekudasai, ia belum bangun juga” Pemuda berambut hitam itu tiba-tiba berujar cukup kencang.

“E-eh—”

“UN, Mungkin ini jebakan, kurung orang ini didalam gudang, dan awasi, ia tak menyimpan IDcard.”

Pemuda albino itu hanya menunjukan common fake smilenya, dan menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara, “strategi istana kosong.”

*** CDK_The Mission ***

Hinata hanya bisa menatap sosok disampingnya dengan senyuman ironis, “neesan, jangan melamun terus.”

Wanita itu tetap bersandar pada kepala ranjang, dan memeluk lemah kedua kakinya, Emeraldnya tetap kosong.

“Neesaan, ayo kita bercerita lagi. Kalau pikiran kosong itu tak baik untuk raga.” Gadis itu berucap lembut, dan bergeser lebih dekat dengan wanita disebelahnya yang sama-sama menekuk lututnya.

Tetap hening, wanita itu bahkan terlihat seperti tak mendengar sepatah katapun ucapan gadis itu. Namun, Hinata terus mencoba.

Tak lama gadis itu terkikik lemah, dan makin mengeratkan pelukan dilututnya, berusaha menekan perutnya, “biasanya jam segini aku telah makan malam.”

Masih hening.

“Biasanya, sebelum aku merasakan kelaparan, Sasuke telah membuatkan makanan,” sesaat ia melihat benda bulat yang tertempel didinding, menunjukan pukul 10.45. “Dan kami akan makan dalam diam,

“Sasuke, juga akan mengantarku kekamar, dan memerintahkanku untuk tidur—meski dengan ancamannya.” Lagi-lagi gadis itu terkekeh hangat.

Wanita itu akhirnya menengok setelah sekian jam ia terus bertahan dengan posisinya itu. “Apa… Dia selalu membuatmu… Senang?”

“Entahlah,” Pearlnya menerawang, menyisakan senyuman lembut dibibir serta percikan warna merah dipipinya, “aku selalu jengkel, dan menggerutu padanya,

“Padahal ia sangat dingin, dan jarang mau diajak berbicara—ah! Juga pengancam, tapi dalam diriku yang paling dalam, aku merasakan rasa senang, dan… Hangat. Hihi, rasanya ingin terus tersenyum ketika mengingatnya.”

Emeraldnya menatap intens wajah gadis disebelahnya, “kalau dia orang yang seperti itu… Kenapa ia bisa kehilanganmu…seperti ni?”

Tatapan hangat itu berubah, menunjukan ekspresi kosong untuk beberapa detik yang akhirnya diikuti oleh ekspresi sedih, “ini semua salahku.”

Dahi wanita itu mengkerut, “salahmu?”

“Ya. Andai saja aku tak minta Pasta. Aku-aku—” dengan cepat ia menghirup nafas dalam-dalam, “sebenarnya aku terlalu pilih-pilih makanan, dan memintanya untuk makan diluar,

“Dia sudah melarangku, tapi aku tetap memaksa. Diperjalanan pulang kami di hadang, dan akhirnya ia memintaku untuk mengikuti gadis cantik itu kemari,

“Katanya,” sesaat ia menghirup nafas, dan menunjukan tatapan hangat pada wanita disebelahnya, “ia akan menyelamatkanku. Sasuke sudah janji.”

Ekspresi keterkejutan menghiasi wajah wanita itu, dahi Hinata mulai menunjukan kerutan.

“Kau bilang….?!”

“A-apa, neesan?”

Sekarang ekspresi sedih makin bertambah didalam tatapan wanita itu, “kata Kakashi, orang yang mengantarmu telah terbakar bersama Aston it—”

“N-NE?! A-apa m-m-maksud ne-neesan?” Reflek gadis itu menutupi mulutnya dengan telapak tangan, air matanya meleleh tanpa ia sadari, yang ia rasakan hanya rasa sakit luar biasa yang tiba-tiba hadir, dan pandangan blur.

“Aku tidak bohong, begitu kata Kakashi—lavender, cobalah tenang.” Wanita itu tahu jelas rasanya mengetahui ditinggalkan orang yang ia cintai. Perlahan ia mengelus bahu gadis itu, dan membiarkan air matanya mengalir.

“T-tidak, it-itu tidak b-boleh! Sasu-sasuke, s-sasuke ti-tidak b-boleh… M-m-m-ma-mati.” Kalimat terbata-bata itu mengalun cepat, diiringi dengan tangisan histeris.

Hujan lebat itu makin deras mengguyur, berusaha menutupi jerit pedih sang gadis. Angin yang berhembus dari celah jendela—yang hancur tadi telah ditutupi oleh seng yang dipaku—sama sekali tak gadis itu respon.

Setidaknya, langitpun mencoba menetes deraskan air matanya.

*** CDK_The Mission ***

“Neji, Hinata masih berlibur?”

“Iya, jiisan.”

“Tolong perketat penjagaannya, aku merasakan sesuatu yang mengganjal perasaanku.” Pear lelaki paruh baya itu menatap serius pemuda dihadapannya.

“Baik Hiashi-jii. Tapi, berapa lama lagi kita harus membiarkannya ‘berwisata’?”

“Tahanlah sebentar lagi, Fugaku telah mengirimkan dana pengganti tadi sore.”

Pemuda itu mendesah lega, tak lama ia menuturkan salam hormat, dan keluar dari ruangan itu. Pearlnya menuding tetes-tetes yang jatuh dari langit.

Hanya gerimis. Tapi, ia tak suka itu. Yeah, dalam pikirannya juga, pemuda itu tengah memikirkan sosok yang mereka cemasi itu.

*** CDK_The Mission ***

Sedikit sulit memang untuknya, tapi pada akhirnya pun ia mendapatkan spot yang bagus. Dengan tenang, ia memainkan scopenya, mempertajam penglihatan lensanya, dan melihat seksama.

Tak lama ia kembali pada Lamborghini Gallardonya, dan melesat meninggalkan spot itu begitu mendengar instruksi yang terdengar ditelinga kirinya berkat alat kecil itu.

*** CDK_The Mission ***

Jarum jam dilengannya telah menunjukan pukul 02.01 dini hari. Lelaki itu masih belum bisa memejamkam kedua matanya, sekelebat bayangan bermain diingatannya.

Flashback*coret, garis miring aja*

Sesosok lelaki memasuki bar yang beberapa minggu lalu baru ia temui. Ditemukannya sesosok gadis tengah menempelkan pipi kirinyanya pada salah satu meja kayu diruangan itu. Gumaman tak jelas terus terlontar dari bibirnya.

Tentu saja ia tak tertarik, ia hanya menatap sebentar begitu melihat warna rambut gadis itu yang tak biasa. Tak lama ia memandangi sekitar bar itu.

Sepi.

Tentu saja, jam telah menunjukan bahwa saat itu tengah malam, dan disana hanyalah sebuah Bar kecil. Akhirnya ia berjalan ke kursi yang berhadapan dengan bartender. Segelas Vodka dituangkan.

Terdengar suara decitan kursi, dan lantai yang bergesekan, juga beberapa bunyi berisik lainnya ia abaikan. Tentu saja bunyi itu juga berasal dari pengunjung satu-satunya selain dirinya, gadis berambut nyentrik.

“Sakura-san, kau terlalu memaksakan diri.” Bartender itu menunjukan raut cemas, dan berjalan kearah gadis yang tengah berjalan kearah kursi didepan bartender dalam keadaan sempoyongan, dan membantunya.

“Tak apa, Kiba. Aku—hiks, mau Sake lagi”

Tuk!

Bunyi gelas yang diletakan dimeja panjang itu cukup keras, tak lama gadis itu berusaha untuk duduk dikursi.

Pemuda bernama Kiba itu akhirnya hanya menuruti kemauan costumer sekaligus mantan teman 1 tempat pekerjaannya itu, sedangkan costumer lelaki itu hanya menyesap gelasnya seraya melirik sosok disebelahnya.

Ia terdiam, gadis disebelahnya tengah menyisir poninya kebelakang dengan jari-jari kirinya, dan sedikit mendongak, serta menggigit bibir. Matanya yang memang merah itu bertambah merah akibat alkohol, dan menangis, dan dilehernya terlihat bulir-bulir keringat.

Ia kembali menyesap, dan meneguk vodkanya tanpa mengalihkan lirikan matanya. Melihat sosok gadis yang tengah meminum gelas sakenya dengan tangan bergetar.

2 menit setelah itu tubuh gadis itu ambruk, dan kepalanya menubruk meja. Sosok lelaki itu menolehkan kepala, “bartender, kau kenal dia?” suara berat mendominasi.

“Iya. Tapi, saya bingung bagaimana cara membawanya pulang.”

Lelaki itu kembali diam, mencoba menatap intens gadis disebelahnya, “kalau begitu biar aku saja.” Ia meninggalkan beberapa lembar uang, dan membopong gadis itu.

“T-tapi tuan—”

“Ambil saja tipsnya.”

*** CDK_The Mission ***

Pemuda itu untuk sekian kalinya terdiam dalam Audi hitam miliknya. Dilirik gadis yang kini mengisi jok disebelahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.

‘Sekarang diapakan gadis ini?’

Tak lama yang terlintas dipikirannya ialah Hotel. Mungkin ia bisa beristirahat disana. Tanpa buang waktu ia menginjak pedal gas, meninggalkan tempat kenangan untuk sang gadis.

*** CDK_The Mission ***

Perlahan lelaki itu meletakkan sosok gadis itu diatas ranjang. Ia berjalan kearah sofa yang berada bersebrangan dengan ranjang itu sendiri, dan duduk.

Dipandangi intens wajah gadis itu yang terbilang…’Cantik’.

Oh well, Sosok berambut perak itu bukanlah lelaki yang suka ber Yaoi ria. Ia tentu saja beberapa kali dalam hidupnya menikmati one night stand dengan gadis atau wanita lainnya.

Tapi untuk masalah cantik atau sebangsanya, ia jarang sekali berucap.

Gadis itu mulai bergumam tak jelas, hanya sebuah nama yang dapat lelaki itu tangkap.

Sai.

Lelaki sedikit tegang begitu melihat gadis itu terbangun, dan menggaruk tengkuknya. Perlahan 2 kancing atas pakaiannya ia buka, dan longgarkan serta mengikat rambutnya keatas. Tak lama ia kembali terlelap, dan bergumam tak jelas.

Tak terlalu jelas apa yang lelaki itu pikirkan, tapi yang jelas ia bangkit, dan berjalan mendekati gadis itu.

Perasaan aneh yang entah apa muncul dalam hati kecilnya diiringi oleh nafsu yang juga bangkit. Yang jelas, dalam hatinya ia sedikit merasa bersalah begitu mulai menempelkan bibirnya pada gadis yang tak sadarkan diri itu, sedangkan tangannya bermain membuka kancing pakaian.

Oh jangan salah, lelaki itu benar-benar cruel, dan rasa bersalah atau sebangsanya sangat jarang muncul dalam hatinya. Yang jelas, keheningan malam itu mulai diisi oleh desahan, dan gumaman-gumaman lain.

End flashback

Lelaki itu memijat pelipisnya. Kenyataannya perasaan aneh itu hanya ditunjukan pada Sakura. Ia tak tahu apa itu, yang jelas ia baru saja merasakannya setelah bertemu wanita itu.

Tentu saja para wanta yang telah berhubungan tubuh dengannya akan dibungkam dengan riflenya untuk menjaga informasi. Tapi untuk wanita itu, nihil.

Stress rasanya, tentu saja ia tak tega melihat wanita itu berbasah-basah tadi sore, sayangnya tadi a sudah naik pitam. Selain itu, ada perasaan kecut jika melihat wanita itu lebih memilih meninggalkannya demi sosok yang ia sebut-sebut.

Mungkin juga, rasa possessive mulai tumbuh.

Cepat ia bangkit, dan menuju dapur. Cekatan, ia mengambil es kering, dan meletaknnya pada mangkuk kaca cukup besar. Diisinya sedikit air, dan membiarkan es itu mencair sedikit.

Kembali ia lanjutkan perjalanan kesebuah ruang tidur. Perlahan ia buka kuncinya, dan menatap ruangan gelap itu, hanya cahaya remang dari lampu disebelah ranjanglah yang menemani.

Ia menekan saklar lampu pada dinding, dan menyesuaikan matanya sesaat. Dilihatnya sesosok gadis bersurai Indigo tengah meringkuk dibalik selimut, sedangkan satunya lagi tidur dalam keadaan memeluk lutut, dan bersandar dikepala ranjang.

Ia mendesah, dan menutup pintu itu, lalu berjalan kearah wanita berambut panjang. Diletakannya mangkuk itu diatas nakas sebelah ranjang.

Perlahan ia memegangi pucuk kepala merah muda wanita itu, dan mengelusnya. Sedikit mencelos begitu mengingat perlakuannya tadi sore, tapi wanita itu tak akan berhenti kalau ia tak bertindak.

Diperhatikannya kelopak mata yang tengah bergetar, sedetik kemudian munculah 2 Emerald sayu yang mengerjab perlahan. Emerald itu berhenti begitu menemukan objek besar disebelahnya.

“Mau apa?” Suara seraknya terdengar lebih parah, tapi wanita itu tak melawan, ia hanya diam, dan pasrah.

Lelaki itu berbalik, dan menuju kearah lemari pakaian. Diambilnya selembar handuk kecil, dan kembali ketempat semula. Dicelupkannya pada mangkuk berisi es, dan air dingin itu. “Mengobati.”

Wanita itu terdiam sesaat, ia merenggangkan kedua tangannya, dan melipat kedua tangannya diatas lutut. Disandarkan kepalanya pada lengan atas kirinya. Tak lama ia menguap.

Lelaki itu memeras handuk itu, dan menunduk, “angkat kepalamu.”

“Pergilah, aku tak akan mati hanya karena lebam-lebam.” Gumaman itu terdengar pelan, tanpa penekanan.

Lelaki itu menarik rambut wanita itu kebelakang, membuat wajah wanita itu mau tak mau mengadah. Perlahan, disentuhkannya handuk itu pada sudut bibir sang wanita.

Wanita itu hanya bisa diam menahan perih. Tak lama ia memejamkan kedua matanya. Mungkin inilah takdirnya, menjadi boneka milik Kakashi.

Perlahan, lelaki itu menarik handuknya, dan menyentuhkannya dipipi, dan pegelangan tangan gadis itu. “Tinjuku terlalu kuat? Kenapa kau tidur dalam posisi seperti ini?”

“…sepertinya iya. Tapi jangan khawatir, aku tidak lemah.”

“Berbaringlah, biar ku pijat sebentar.”

Wanita itu tak bergerak, kembali ia menekuk lengannya, dan bersandar pada lengan atas kirinya.

“Sakura.”

“Tadi kau memanggilku Haruno.”

Lelaki itu menghela nafas berat, tak lama ia membungkuk, dan memeluk tubuh mungil itu, “memohonlah, memohonlah atau ucapkan maaf saja. Katakan kau membutuhkanku.” Lelaki itu merintih pelan.

Wanita itu memejamkan matanya, dan berkata hampa, “untuk apa…semua itu kulakukan?”

“Kita akan sama-sama lagi, kau, dan aku. Aku akan mengembalikan shotgun kesayanganmu, dan memimpin kelompok bersamamu. Kita selesaikan masalah, dan cari negara lain.”

“Kakashi, kenapa kau sejahat ini?”

“… Apa?”

“Kau… Melarangku bertemu Sa—”

“Jangan ucapkan, please.” Lagi, ia merintih.

“Kau kejam. Aku benci Kakashi.” Tak lama, setetes air mata jatuh dari mata kiri wanita itu.

Lelaki itu tentu merasakan sakit, “lupakanlah, waktu hidupnya juga tak akan lama.” Perlahan ia mengelus punggung wanita itu pelan.

Wanita itu sama sekali tak berucap maupun bergerak. Lelaki itu mengernyit, dan mencoba melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah wanita yang tengah meneteskan bulir irasional itu.

“Kakashi, kenapa kau begitu jahat, kau juga menyakiti gadis lavender ini.” Tak lama ia menunjukan Emerald sayunya.

“Dia?”

“Kau juga membunuh orang yang ia sayang. Kau jahat, Kakashi.” Lambat-laun volume suara wanita itu sedikit meninggi.

“Itu bukan urusan kita. Sekarang, tidurlah.”

“Watashi no watashi, anata no anata. Aku tak mau.”

Lelaki itu menatap dalam-dalam Emerald itu, tak lama ia berbalik, dan berjalan kearah pintu.

.”Kakashi,” tak lama lelaki itu berhenti. Wanita itu menuruni ranjang, dan berjalan perlahan. Ia menubrukan tubuhnya pada punggung lelaki itu, lalu melingkarkan lengan kecilnya pada pinggang lelaki itu.

Lelaki itu tersenyum dalam maskernya, dan mengelus punggung tangan jenjang wanita itu. “Hm?”

Perlahan ia menarik nafasnya, “Kakashi, kumohon.” Ia menempelkan pipinya pada punggung lelaki itu, “kumohon, biarkan aku hidup diluar.”

“…”

“Aku… Aku lelah memegang senjata.”

“Kalau begitu tak perlu, biar kau bersantai, dan menungguku selepas bekerja.” Dengan cepat ia membalas.

“Kakashi, kenapa kau mengurungku? Apa itu karena Sa—”

“Ya.”

“Memangnya kenapa kalau aku bertemu dengan Sai—”

“Dia akan membodoh-bodohimu lagi, membawamu pergi, dan menyakitimu.”

“Tapi aku senang kalau bersam—”

“Aku tak mau dengar lagi, tidurlah.” Lelaki itu menjatuhkan kedua tangannya disisi tubuh.

“Kakashi, kumohon.”

“…”

“Shi?~”

“… Tidurlah.” Dengan cepat ia melepaskan pelukan erat dipinggangnya, dan meninggalkan wanita yang tengah menahan berat tubuhnya secara tak sempurna.

Wanita itu terduduk dilantai yang dingin, suara pintu yang terkunci bagaikan ekssekusi baginya. Yang jelas, ia terus menerus menatap pintu itu, seolah ada keajaiban yang akan terjadi.

*** CDK_The Mission ***

“Cepat katakan atau aku akan mencabut alis tebalmu itu.” Pemuda bernama Naruto itu menatap bosan lelaki dihadapannya.

“Tidak akan! Awas saja kalau kau berani.”

“Besok saja lanjutkannya, dobe.”

“Berisik kau teme! Jangan ganggu pekerjaanku!” Pemuda itu mengerucutkan bibirnya.

“Ya terserahlah, kuharap kau punya jam tangan.” Pemuda itu berbalik, dan meninggalkan lelaki itu dengan tatapan datarnya.

“Berisik, kau!”

*** CDK_The Mission ***

“Chief, kita tidak memberi Saku-chan sarapan?”

“Tidak.”

“Eh?” Gadis berambut coklat itu memiringkan kepalanya, dan menggigit ujung garpu, “kenapa?”

Lelaki itu meletakan garpunya, dan menatap wajah orang-orang disekelilingnya, “Mulai sekarang, tak ada yang boleh mendekatinya. Dia bukanlah tim kita lagi.”

“T-tapi chief Kakashi, bukankah kau dekat padanya?” Sosok wanita cantik dengan mata rubynya mengkerutkan dahi.

“Aku tak menerima sanggahan.”

“Ano, chief, klien S ingin bertemu denganmu jam 10.00.” Lelaki berambut hitam mencuat membenarkan letak kacamatanya.

“Di?”

“A.N P”

“Accept.”

*** CDK_The Mission ***

Gadis berambut indigo itu hanya berguling-guling sejak tadi, sementara kedua tangannya tengah menekan-nekan perutnya. Sedangkan wanita itu masih memeluk lututnya.

“Neesan, kita benar-benar tak boleh keluar?”

“Hm”

“Jahat sekali.” Ia terdiam. Kembali lagi rasanya ingin menangis begitu mengingat sosok yang sudah menjadi koki pribadinya selama beberapa hari ini.

“Tahanlah, kita puasa saja sampai menemukan makanan.” Wanita itu berkata pelan menunduk lesu, tapi tak lama ia cepat-cepat mengampiri gadis didekatnya. “Hei lavender, ceritakan tentang Sai-kkun.”

“Uh?,” gadis itu berhenti bergerak-gerak, dan duduk bersila secara perlahan. Ia berusaha mengingat kebiasaan-kebiasaan pemuda yang ia ingat, “Sai-kun suka menunjukan fake smile, biasanya… Sasuke akan marah begitu melihatnya.” Gadis itu menunduk sedih.

“B-benarkah? Dulu ia selalu tersenyum sepenuh hati.” Wanita itu terdiam sesaat, dan bergumam pelan, “jangan-jangan Sai-kun punya kembaran.”

Gadis itu melirik sekilas, “Sai-kun itu tak banyak berbicara, dan ucapannya sering kali membuat kami berdua marah karena sedikit menyinggung.” Gadis itu terkekeh.

“Become mad?”

“Yes. Waktu pertama kali kami bertemu, dia menyebutku… Uh, Sexy,” gadis itu bergidik, dan memeluk dirinya sendiri, “rasanya memalukan. Tapi tak lama, Sasuke meninju kepala belakangnya.”

Sakura mencoba membayangkan, tak lama ia tertawa lepas, “kurasa ia Sai-kun milikku, dari dulu ia memang selalu begitu. Ternyata ia masih hidup.” Wanita itu tersenyum berseri-seri.

Hinata memandangi wajah wanita disampingnya, benar-benar cantik. Ia bahkan sedikit kurang percaya diri jika disandingkan dengannya. Gadis iuu tersenyum ironis.

Sakura yang menyadari perubahan, mengerutkan dahi, “kenapa?”

Gadis itu tersenyum sedih, “aku iri—tidak, I still believe his promise,” Pearlnya menatap Emerald, “he still alive, I believe.”

Sakura menunduk, sepertinya perkataannya tadi tak terlalu baik untuk diucapkan dihadapan gadis yang tengah dilanda duka, “gomenassai, aku membuatmu sedih, ya?”

“Tidak apa-apa, neesan.” Hinata tersenyum lembut, “Sasuke akan marah jika aku mengiranya telah tiada. Lagipula untuk apa aku sedih, Sasuke masih hidup.”

“Hum, I guess you’re right. Lavender, I bet yours is love you, too.”

“Y-yours?”

“Sasuke.” Sakura mengedipkan matanya.

Pipi gadis itu bersemu merah, kedua jari telunjuknya dimainkan. “I hope so.”

*** CDK_The Mission ***

“Jadi, dimana gadis itu?” Pemuda berambut merah itu menatap datar lelaki bermasker itu.

“Oh maaf, tapi Sabaku senior berkata bahwa aku hanya perlu datang sendiri.”

Lelaki paruh baya itu menunjukan raut datar, “benar.”

“Lalu untuk apa aku disini?” Pemuda itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menatap bosan lelaki paruh baya yang mirip dengannya.

“Gaara, aku akan mempertemukanmu dengannya nanti siang.” Lelaki paruh baya itu berkata santai.

“Otousan, kau harus setujui dulu “Pemuda itu menatap datar.

“Jangan keras kepala, satu perusahaan bukan masalah besar. Dan untukmu, K, aku mau kau persiapkan sebuah penginapan untuk anakku serta gadis itu, dan jaga mereka.”

Lelaki itu meneguk sebentar secangkir kopi dihadapannya, “tentu saja, tapi aku mau menuntut fee terlebih dahulu.”

Lelaki paruh baya itu menjentikan jarinya, tak lama seorang lelaki bernotabene sebagai pengacaranya datang, dan membawakan koper. Dibukanya, dan dikeluarkan beberapa surat.

Sosok yang dipanggil Sabaku Gaara itu menandatangani sebuah proposal, dan beberapa surat lainnya. Sedangkan untuk sang lelaki berambut perak, ia hanya tersenyum tenang begitu mendapati nominal pada cek yang baru ia terima.

*** CDK_The Mission ***

Cklek.

Dua wanita itu mengalihkan tatapannya pada sesosok wanita beriris Ruby yang baru saja membuka pintu kamar itu, ia menenteng sebuah kantung plastic.

Sakura menatap sinis, “Yuhi Kurenai?”

“Halo mrs. Hatake.” Senyuman yang dilontarkannya hangat, tapi entah mengapa gadis berambut indigo yang melihatnya sampai bergidik ngeri.

“Shut up, aku bukan istri dumb boy seperti dia!” Emerald itu menatap tajam, “lagipula, kapan kau kembali?”

“Ambilah, Kakashi memintanya memberikan ini untukmu, dan Hyuuga kau ikut aku.” Wanita itu tersenyum, dan meletakan bungkusan itu diatas ranjang. “Last night, melelahkan ya.”

“E-eh, w-watashi?” Gadis itu menatap takut-takut.

“Untuk apa kau membawanya? Aku tak mengizinkannya!” Wanita itu berdiri dihadapannya.

“Ambilah, Kakashi chief sepertinya kasihan padamu belum mengisi perut. Lagipula, ini bukan urusanmu.” Kurenai menyeringai dengan wajah cantiknya, ditotoknya beberapa titik dibagian bahu wanita itu cepat, membuatnya mati rasa.

Dengan santai wanita itu menggenggam pergelangan Hinata, dan meninggalkan Sakura yang tengah terduduk memegangi bahunya seraya meringis.

*** CDK_The Mission ***

“6 petang kita main sebagai visitor. Ada yang kurang jelas?” Lelaki berambut hitam yang diikat tinggi itu menatap serius orang-orang dihadapannya.

“Shikamaru, kenapa aku harus menjaga si alis tebal itu,” pemuda bermata sapphire itu mengerucutkan bibirnya, dan melipat kedua tangan di dada, “aku juga turun, bisa kan?”

“Tidak. Kau disini bersama Shino.”

Sosok pemuda berjubah hitam yang mengenakan kacamata hitam itu hanya duduk tenang seraya mengutak-atik laptop ditangannya, mulai mengerjakan tugasnya.

“Itu tidak adil!”

“Diamlah Naruto, bisakah kau menjalani tugasmu, dan tidak protes.” Sosok pemuda albino itu menatap serius teman disampingnya itu.

“diamlah. Lakukan rencana sesuai strategy tadi, kalau kalian memang ingin misi ini complete.” Sosok bernama Shikamaru itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

“Just do it, benefit kita disini, mereka tak berada dimarkas besarnya.” Pada akhirnya lelaki berkacamata itu mengeluarkan suaranya.

Shikamaru tersenyum tenang, “that’s right.”

Ting tong
Ting tong

Mereka terdiam sesaat, tak lama sosok pemuda albino itu berdiri, dan melirik dari lubang pintu, sedikit terkejut sebenarnya. Dengan cepat ia berbalik, dan memberi code pada sosok berambut hitam itu untuk mendekatinya.

Tak sampai 1 menit mereka berdiskusi, akhirnya mereka membukakan pintu.

Dua sosok dibalik pintu itu menatap datar, jarak 1 meter dibelakangnya ada beberapa belas orang yang mereka bawa.

Sosok yang sedari tadi hanya diam akhirnya pergi melihat keadaan diruang tamu, tak lama ia terhenti begitu menatap sosok yang tentu saja ia kenal, “…aniki?”

***

Yosh, saya update kilat dulu aja ya, maaf part yang ini belum di edit, jadi bold, italic, dan typo’s bertebaran.

Saya ragu, soalnya gak janji kapan update lagi, jadi berhubung part 2 udah selesai langsung saya publish.

Buat a chance of 49days part 1-b, The fate lagi dalam proses, jadi sabar aja hoho😀

Regard,

Citra D. Kania

P.s : Bonus pict : Yuhi Kurenai

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s