FF – The Mission Part. 3

Author : Citra D.K ( @CitraDewi__ )

Disclaimer : this story belong to me, all of casts belong to Masashi Kishimoto.

Cast : Hyuuga Hinata, Uchiha Sasuke, Hatake Kakashi, Shimura Sai, Haruno Sakura, and another casts.

Pair : SasuHina, slight KakaSaku, SaiSaku

Genre : romance, angst, shonen

Warning : standard warning applied.

Language : Indonesian

Rate : T+ almost M.

Notice : No copycat and plagiarize, because its sinning!

P.s : action yang rata-rata, kurang bisa disebut hard action karena ini juga mengandung bagian romance para insan. Beberapa kosakata kasar sudah diproses ulang agar tak terlalu terlihat merusak kalimat.
Fanfic ini memungkinkan untuk menampung konten menuju dewasa, dimohon untuk dikondisikan.

don’t read if you don’t like this story, or pairing here,
Happy reading. ^^


“6 petang kita main sebagai visitor. Ada yang kurang jelas?” Lelaki berambut hitam yang diikat tinggi itu menatap serius orang-orang dihadapannya.

“Shikamaru, kenapa aku harus menjaga si alis tebal itu,” pemuda bermata sapphire itu mengerucutkan bibirnya, dan melipat kedua tangan di dada, “aku juga turun, bisa kan?”

“Tidak. Kau disini bersama Shino.”

Sosok pemuda berjubah hitam yang mengenakan kacamata hitam itu hanya duduk tenang seraya mengutak-atik laptop ditangannya, mulai mengerjakan tugasnya.

“Itu tidak adil!”

“Diamlah Naruto, bisakah kau menjalani tugasmu, dan tidak protes.” Sosok pemuda albino itu menatap serius teman disampingnya itu.

“diamlah. Lakukan rencana sesuai strategy tadi, kalau kalian memang ingin misi ini complete.” Sosok bernama Shikamaru itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.

Just do it, benefit kita disini, mereka tak berada dimarkas besarnya.” Pada akhirnya lelaki berkacamata itu mengeluarkan suaranya.

Shikamaru tersenyum tenang, “that’s right.

Ting tong
Ting tong

Mereka terdiam sesaat, tak lama sosok pemuda albino itu menghampiri sang pintu rumah, dan melirik dari lubang pintu, sedikit terkejut sebenarnya. Dengan cepat ia berbalik, dan memberi code pada sosok berambut hitam itu untuk mendekatinya.

Tak sampai 1 menit mereka berdiskusi, akhirnya mereka membukakan pintu.

Dua sosok dibalik pintu itu menatap datar, jarak 1 meter dibelakangnya ada beberapa belas orang yang mereka bawa.

Sosok yang sedari tadi hanya diam akhirnya pergi melihat keadaan diruang tamu, tak lama ia terhenti begitu menatap sosok yang tentu saja ia kenal, “…aniki?!”

*** CDK_The Mission ***

Hinata menatap bingung bercampur takut cermin dihadapannya. Dikenakannya sebuah gaun hitam diatas lutut yang terlihat menantang, dan mempertontonkan beberapa bagian tubuhnya. Make up natural, dan hair style yang cantik.

Sosok wanita beriris ruby itu tersenyum tenang, “sudah selesai.” Ia memperhatikan hasil karyanya. Tubuh mungil nan berisi Hinata telah disulap layaknya boneka yang elegan, dan sexy.

Hinata menunduk takut-takut, dan meremas tepi dressnya, “a-ano… Ini semua… U-untuk apa?” Ia bahkan sedikit mengernyit menatap kuku jarinya yang diukir.

“Segalanya akan kau ketahui jika kau berani membuka kotak pandora, sayangnya pandora tak berhak dibuka.” Wanita itu berjalan kearahnya, dan memakaikan jubah pesta warna putih untuk menutupi tubuh gadis itu.

“E-eh?”

Wanita itu menarik pergelangan tangan gadis itu, dan membawanya melintasi lorong, “tak perlu banyak berpikir.”

Hinata terdiam, rasa takut terus menerus menghantuinya, membuat perutnya terasa tak nyaman. Tak lama, mereka berdua sampai didepan sebuah pintu.

Wanita itu mengetuk perlahan, setelah diberikan code untuk masuk, wanita itu membuka pintunya. Nampak sesosok lelaki tengah terduduk disebuah kursi ruangan itu.

Lelaki itu sesaat menatap intens gadis berambut Indigo itu sebelum pada akhirnya menatap wanita disebelahnya, “interesting.”

Kurenai tersenyum tenang, dan menutup kembali pintu itu, “bayaran yang setimpal untuk waktu yang tidak sedikit.” Perlahan wanita cantik itu berjalan mendekati sosok lelaki itu. Diremasnya pelan bahu kekar sang lelaki, dan bergumam pelan, “nanti sore bisa kekamarku?”

“Aku tidak janji.” Tak lama ia melihat jam tangannya, dan berdiri. Dilangkahkannya kakinya menuju gadis yang tengah menundukan kepalanya, “saatnya pergi.”

Dengan cepat gadis itu mendongak, “e-eh?”

*** CDK_The Mission ***

“Jika kita bekerja sama, proyek ini bukan proyek remeh, aku sudah dapat sponsor dari 2 Negara lain, bisnis kita akan lebih maju, apa yang kau khawatirkan sebenarnya?”

“berhentilah berpura-pura, Sabaku. Aku sudah tahu kalau kau yang membuatku nyaris bangkrut.” Lelaki paruh baya bermanik Pearl itu menatap tajam.

Sosok berambut merah itu terdiam sesaat, “nani? jika aku yang melakukannya, apa untungnya untukku? Bahkan aku tadi mengajakmu bekerja sama. Lagipula, kau tak punya bukti apa-apa.” Ia menghisap filter rokoknya.

Hyuuga menatap dingin sosok yang duduk dihadapannya itu, “kau tahu, Sabaku? Dalam dunia bisnis, kawan pun bisa menjadi lawan, kapan-pun.”

Sabaku tersedak asapnya sendiri, “apa maksudmu, Hiashi? Kita memang teman dari dulu, dan bercita-cita membuat sebuah perusahaan besar bersama. Aku hanya mewujudkan keinginanmu!”

Hyuuga tersenyum pahit, “itu dulu, saat aku tak tahu kelicikanmu.”

“Kelicikan?”

“Kau mencuri arsip-arsip penting miliku, dan menjualnya! Kau tahu besar kerugiannya?! Bahkan strategy sahamku kau jual pada pihak lawan, kau licik!” Hyuuga itu menggebrak meja kebesarannya dengan amarah.

Sabaku itu membeku.

“Benar, kan?! Kenapa kau lakukan semua ini? Kau gila!”

“Heh, jika aku bereaksi seperti itu salah? Kau tak punya bukti.” Orang itu menghembuskan asap rokoknya, dan mematikan rokok yang bahkan belum terbakar setengah itu didalam asbak.

“Setiap perbuatan, pasti ada hasilnya. Bukti itu akan kucari.” Ia sembunyikan Pearlnya dibalik kelopak mata, dan mengernyit “sekarang katakan, kenapa kau masih ingin menawarkan kerja sama?”

“Kau membelikan Puterimu beberapa pulau, bukan? Jual saja pulau itu, tak perlu berlagak miskin, dan untuk kerja sama, aku ingin membuat beberapa cabang kantor lagi. Letak tanahmu ideal.”

“Jangan bawa-bawa Puteriku dalam permasalahan ini!” Pearlnya berkilat marah, “aku masih punya banyak teman untuk diajak bekerja sama.”

“Huh terserah, tapi bagaimana jika Puterimu malah berhubungan dengan Puteraku, ya?”

“Anakku adalah anak baik-baik, segala sesuatu untuk kehidupannya yang akan datang serta suaminya pun akan aku yang urus, dan sampai mati pun tak akan kuizinkan ia berhubungan dengan putramu!”

“Bagaimana jika kita taruhan? Jika ternyata anakmu, dan anakku menjalin hubungan rahasia, kau harus bekerja sama denganku, deal?”

“Untuk apa semua itu?!” Hyuuga menatap tajam, dalam hati kecilnya mulai resah.

“Sudahlah, jika hubungan mereka terlampau jauh juga kita akan jadi keluarga, dan keluarga Hyuuga yang beradat kental itu pasti mengerti tentang tata krama keluarga.” Sosok paruh baya itu berdiri dari kursinya, dan berbalik, “sampai jumpa lagi, Hyuuga.”

Sosok itu melenggang meninggalkan sosok yang tengah mencerna ucapan-ucapan mantan sahabatnya itu. Dahinya makin berkerut, apa maksud dari ucapan Sabaku.

Yang jelas, ia tengah dilanda cemas yang berlebih sekarang.

*** CDK_The Mission ***

Gadis itu menatap takut-takut sosok disampingnya. “A-ano, u-untuk apa… Kau b-bawa aku kem-mari?”

Sosok itu melirik, “dengar, kau tunggulah disini sampai seorang bernama Sabaku Gaara datang, dan jika kau berencana untuk kabur, coret saja rencana bodoh itu dari otakmu.”

“E-e-eeh?”

“Aku menyiapkan beberapa orang diluar untuk berjaga. Selamat bersenang-senang.” Lelaki bermasker itu meninggalkan gadis itu sendiri. Suara pintu yang tertutup membuat gadis itu makin frustasi.

Gila.

Apa yang harus ia lakukan? Menunggu seorang pria disebuah penginapan luas ini seorang diri—except anak buah lelaki tadi.

Dan yang membuatnya makin frustasi ialah dandananya yang…. Uh, bahkan gadis itu sama sekali sulit untuk menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini..

Tuk tuk tuk

Suara langkah high-heels mulai terdengar seiringan dengan gadis itu berjalan mondar-mandir diruang tamu. Dalam pikirannya hanya satu, ia harus selamat—well, luar dalam.

Lagipula, ia merasa ada yang mengganjal pikirannya. Yeah, tentang nama yang disebutkan tadi. Rasanya… Tidak asing.

*** CDK_The Mission ***

“Ada yang kurang setuju?”

“….”

“Baiklah, strategy selesai. Lakukan pekerjaan ini dengan sebaik mungkin..” sosok berambut hitam yang terikat itu menatap serius sekelilingnya.

“Tapi—.”

“Sudahlah Naruto, itu memang tugas mereka.” Sosok bernama Shino itu angkat bicara, sedangkan yang ditatap hanya menyipitkan mata kesal, dan melipat kedua tangannya.

“Terima Kasih telah mengerti, dan untuk keberhasilan misi, apa media kalian sudah lengkap?” Sosok bermanik Hazel itu menatap sang pembuat strategy tenang.

“Semua telah sedia. Kalau begitu rapat selesai.” Sosok lelaki berambut hitam itu berucap, tak lama ia bangkit, dan meninggalkan meja makan itu.

Aniki! Aku mau bicara denganmu.” Sosok lain itu berdiri, dan menatap dingin punggung objeknya.

“Ikuti aku.”

Orang-orang itu mulai membubarkan diri, meninggalkan ruang makan itu, dan mengerjakan hal lain. Yah, mengecek peralatan mungkin.

Dua sosok kakak beradik itu memasuki salah satu kamar, dan berdiri berhadapan.

“Mau bicara apa?”

“Kenapa kau tak memberi tahu kami? Kau menghilang, dan kembali seperti ini.” Sosok itu menatap marah.

“Itu rahasia company. Orang sepertiku tak boleh menyebarkan informasi sembarang.”

“Tapi okaasan sakit karenamu!”

“…”

“Kau—.”

“Apa yang kau lakukan jika jadi diriku?”

“Kau—.”

“Bukankah kau juga tak memberi tahu Otousan, dan Okaasan tentang pekerjaanmu ini?”

“…”

“Begitu juga aku—.”

“Kita berbeda.” Sosok itu berlaku defensive, “Aku tetap muncul dihadapan mereka, dan menjalankan tugasku sebagai anak, tapi kau seperti lenyap ditelan bumi.” Ia menyeringai marah, “tak ada yang memintamu menjadi anggota seperti itu.”

Sosok itu bungkam, ia menghela nafas, dan menyerah. Memang benar, jalan yang diambilnya tidak terlalu baik tanpa memberi tahu kedua orang tuanya.

“Kau ‘harus’ kembali setelah ini.” Pemuda itu menatap dingin, dan meninggalkan lelaki dibelakangnya tanpa menunggu konfirmasi seruannya.

*** CDK_The Mission ***

Sosok bermasker itu melintasi lorong, langkahnya tertahan begitu mendapati sosok cantik yang menghadang jalannya. Wanita berpakaian hitam merah ketat itu mempertunjukan lekuk tubuh sempurnanya, dan tersenyum hangat.

Sosok rupawan itu terus melangkah, dan mendempetkan tubuhnya pada sosok kekar dihadapannya. Ia mengadah, dan menatap intens wajah lelaki itu, “Kimi*, mampirlah kekamarku dulu.”

“Aku ingin menemui Sakura—” lelaki itu terdiam, dan mengernyit begitu wanita itu melingkarkan lengannya dipinggang lelaki itu, dan makin mengeratkan tubuhnya.

“Kakashi-kun~” suaranya melirih. “Aku merindukanmu.” Ia menempelkan pipinya pada dada bidang lelaki itu, “tak bisakah?”

“… Kurenai, jangan sekarang.”

” Yui-chan~”

Ia mengheka nafas, “Yui, sore ini aku tak bisa—.” Sosok itu berdecak begitu wanita itu makin merapat, dan bergerak-gerak, membuatnya yang notabenenya seorang pria dewasa menjadi tak tenang.

*** CDK_The Mission ***

Gadis itu termenung disalah satu kamar. Rasanya seperti menunggu eksekusi mati. Ia bahkan sedikit heran mengapa make upnya tidak luntur bahkan setelah terkena liquid dari matanya.

Well, Setidaknya mungkin ia bisa mengubah wajahnya layaknya Yuki ona atau sebangsanya jika maskaranya luntur.

Baru saja ia ingin mengambil sebuah bantal untuk dipeluknya, sebuah suara menginterupsinya. Tersentak, begitu mendengar suara pintu yang terbuka.

‘Gawat! Dia tiba’

Gadis itu cepat-cepat naik keatas ranjang tanpa mempedulikan high-heels yang masih ia kenakan, dan menutupi tubuhnya dengan selimut—well, ia terlalu takut, dan panik untuk membuat rencana ‘menyembunyikan diri’ yang lebih cerdas.

Mungkin baru saja setengah menit terlewatkan, ia sigap menahan nafas begitu mendengar pintu kamar itu terbuka. Saking takutnya ia bahkan ingin menjerit, dan menangis, tapi cepat-cepat ia tahan keinginan bodohnya.

Ia tak mendengar suara pintu tertutup, tapi dengan cepat tersentak begitu mendengar suara berat didekatnya.

“Carilah tempat bersembunyi yang bagus.”

Dengan perlahan, ia menurunkan selimutnya hingga sebatas bibir. Matanya membulat begitu menyadari sosok yang familier. “Gaara-nii?!.”

Lelaki itu juga terdiam, ‘well, Hinata tak berubah wujud menjadi remaja yang buruk. “Apa yang kau lakukan disitu?”

Gadis itu cepat terduduk, dan menghela nafas lega. Ia cepat-cepat tersenyum lebar pada sosok itu, “lama tak jumpa, Niisan. Kau tak banyak berubah.”

Lelaki itu mengangguk singkat, tapi iris Jadenya sama sekali tak berhenti menatap setengah tubuh gadis itu, ia berujar santai, “pakaian yang bagus.”

Gadis itu mendengus sebal, dan kembali menarik selimutnya hingga leher, “banyak orang-orang mengerikan disekitarku belakangan ini, dan ini salah satu perlakuan mengerikan mereka.”

Oh kami-sama, Hinata bahkan berkembang menjadi lebih subur dibanding yang kubayangkan. Malam yang menyenangkan lelaki itu menyeringai atas pemikirannya.

Gadis itu tersadar, dan menatap lelaki itu mengernyit, “Gaara-nii, apa hubunganmu dengan orang-orang jahat itu?” Pearlnya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.

“Uh?”, alis imaginary nya bertaut, “anggap saja teman.”

“Benarkah?! Menjauhlah dari mereka, oh sungguh mereka sangatlah kejam!” Alis gadis itu bertaut, tatapan kekhawatiran terpancar dari matanya.

Melihat itu Gaara tersenyum tipis, well, thanks otousan, I got double benefits

*** CDK_The Mission ***

Haruno Sakura terus memandangi gorden kamarnya, ekspresinya hampa. Dengan melipat lututnya, dan membiarkan tubuh lunglainya tersandar dikepala ranjang.

Diabaikannya rasa menusuk diperutnya, mengingat bahwa sejak kemarin sore sampai sekarang belum memasok apapun—terhitung 1 hari ia tak makan.

Well, titipan dari Kakashi sampai sekarang pun belum tertempel sidik jarinya. Yang jelas, ia lebih bersyukur mati kelaparan daripada mengisi perutnya menggunakan makanan yang diberi lelaki itu sekarang.

Baru saja ia merasakan sedikit cahaya kehidupan begitu bersama sang gadis lavender—dan betapa sialnya baru disadari olehnya—, tapi dengan cepat pula ia menerima rasa kesepian. Manusia tak pernah menang dari rasa kesepian.

Ia mencoba mengingat percakapannya dengan gadis itu, tak disadarinya bahwa seulas senyum tipis yang tulus telah terukir manis dibibirnya. Ia ingat saat-saat menyelimuti tubuh gadis lavender itu dengan baik, ia merasa senang.

Lavender, boleh aku memanggilmu Imouto?” Wanita itu bergumam pelan, tak lama ia tersenyum ironis, “kenapa kami-sama mengambil segalanya begitu cepat? Dan mengapa aku begitu lama menyadari rasa hangat bersamanya?”

Ia mencoba merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, akhirnya diputuskannya untuk berbaring, menahan rasa sedih, dan lapar yang bercampur.

Apa mungkin tak pantas untuknya merasakan hangatnya suasana keluarga barang sesaat?

*** CDK_The Mission ***

“Aaah Arigatou ne, Gaara-nii.” Gadis itu tersenyum sumringah, rasa pusing karena belum memasok makanan pun lenyap sudah, gadis itu kembali meneguk airnya.

Gaara hanya diam, dalam pikirannya ia mencari ide agar ia bisa menikmati ‘malam panas’ dengan gadis itu tanpa adanya rasa awkward. Lagi-lagi alis imaginarynya bertaut.

Niisan, kau tahu? Aku rindu sekali,” gadis itu tersenyum malu-malu. “Kadang aku suka teringat tentang niisan kalau mengenang masa lalu.”

“Mengenang? Acara mandi bareng itu?”

PONG~

Wajah gadis itu sontak merah padam, “e-e-eh, b-bukan yang itu! La-lagipula itu s-saat aku u-umur 5 tahun.” Suaranya mencicit tiba-tiba, tanpa sadar Ia memainkan dua jari telunjuknya.

“Hm itu kenangan menyenangkan.” Lelaki itu menyeringai, membuat gadis dihadapannya makin ciut, “kau tetap manja seperti dulu.”

“E-eh? Aku tidak m-manja!—uh u-urusai!.” Ia memutuskan untuk berdiri, dan meninggalkan tempat itu sebelum lelaki itu makin menggodanya. Gadis itu terhenti begitu pergelangannya digenggam. “Eh?”

“… Mau kemana?” Ditatapnya intens tubuh gadis itu dari belakang.

Gadis itu menoleh sedikit, “b-bathroom, k-kenapa?” Pipinya lagi-lagi merona.

“Hm tidak.” Ia melepaskan genggamannya.

Ditatapnya punggung gadis itu hingga lenyap dibalik pintu. Ia kembali duduk, dan memikirkan strategy pelumpuhannya—

“KYAAAAAAA…..”

—nanti.

Langsung ia bangkit, dan membuka pintu itu tanpa memberi aba-aba. Baru saja ia masuk beberapa langkah, tubuhnya telah ditubruk oleh gadis berambut Indigo itu.

“K-ke-ke-kecoa hah hah hah…. Jauhkan diaaaaaa.” Gadis itu mendongak, dan menatapnya memohon. Ia menarik-narik kemeja hitam lelaki itu cepat, Pearlnya basah, dan terlihat kalut, bahkan bahunya bergetar.

Berlebihan? Tapi inilah kenyataan bagi seorang Hinata yang phobia terhadap kecoa. Ironi.

1 detik kemudian, Gaara dapat menguasai diri, dan melihat sekelilingnya. Oh well, terdapat satu bangkai kecoa dengan posisi terbalik yang terletak dibawah shower.
Pemuda itu bahkan sempat ragu kalau makhluk kecil itu masih bernyawa.
Sesaat Gaara terbengong menatap bangkai itu, “… Kore (itu) ?”

N-ne! niisan onegai.” Gadis itu menatap horror bangkai hanya sepanjang 3 centimeter, dan lebar 1,5 centimeter. Tanpa menyadari kemeja lelaki itu telah kusut dibagian dada karena remasannya.

Gaara memberi code gadis itu untuk menjauh, dan mengambil saputangan hitam dari dalam sakunya demi sebangkai serangga, dan langsung membuangnya ke kotak sampah mini disana.

Ia mencuci kedua tangannya, dan berbalik. “Hanya itu?”

Gadis itu menangguk cepat dengan wajah serius, tak lama ia berhenti mendongak. Dirasakannya canggung begitu melihat kemeja Gaara yang kusut, “g-gomen ne, niisan, k-ke-kemejamu…”

Lelaki itu hanya mengangguk, tak lama ia mendekati gadis itu, dan berbungkuk, “kalau ada yang aneh-aneh cepat panggil aku.”

Hinata meneguk Salivanya sendiri dengan sulit, bisikan suara berat lelaki itu jelas terdengar di telinga kirinya, tak lama ia mematung, dan memerah mendapati benda lunak yang basah menempel di daun telinganya, “e-engh… G-gaara nii?”

Dengan cepat lelaki itu menjilatnya, dan memposisikan wajahnya di hadapan wajah gadis itu, ditatapnya intens wajah yang manis itu, “warukkata na, dengan pakaian seperti itu, kau membuatku sulit berfikir.” Ia menyeringai, dan meninggalkan gadis itu sendirian dalam kamar mandi dengan wajah semerah tomat.

“I-itu k-kan t-t-ter-terlalu… Vulgar.” Well, nyaris saja gadis itu kehilangan kesadarannya. Gaara yang ia kenalnya benar-benar telah menjadi pria dewasa. Reflek ia bergidik begitu mengingat sensasi lembab di daun telinganya tadi.

*** CDK_The Mission ***

Kakashi menggerakan tubuhnya sesaat, “bangunlah, aku tahu kau tak tidur.”

Tak lama sosok wanita itu mengadah, dan tersenyum menggoda, “aku mau lagi.” Dieratkannya lilitan kedua tangan jenjangnya pada perut lelaki itu.

“Aku ingin keluar.” Dengan kasar ia menghentakan tangan yang melingkarinya hingga terlepas, dan cepat-cepat berdiri. Tak lama ia melangkah kearah bathroom.

Wanita itu terduduk, dan memandangi punggung kekar yang tergoresi beberapa luka itu hingga lenyap dibalik pintu. Senyumannya menghilang perlahan, menunjukan raut yang sulit dibaca.

Kimi, I think I can destroy you.” Wanita itu tersenyum sinis, dan makin erat memeluk selimut yang melindungi tubuh polosnya.

*** CDK_The Mission ***

Ditatapnya bathtub yang volume airnya berkurang secara perlahan itu, tangannnya meremas-remas tepi baju handuk yang ia kenakan. Rasanya…

Tegang.

Tentu saja stress rasanya hanya mengenakan itu didepan sesosok pria dewasa, namun pikirannya terus menentang. Gaunnya lebih menantang dibanding jubah handuk itu.

Ia menurunkan kelopak matanya, dan menenangkan diri agar berusaha tenang. Kurang lebih 60 detik, ia membuka kelopak matanya, dan bergumam, “jangan tegang.”

Pearlnya memandangi satu-satunya pintu yang tertera disana ragu, tapi tak lama diputuskannya untuk keluar. Well, beberapa konsekuensi telah berlintas didalam sel-sel otaknya.

Ditutupnya pintu itu, dan memutar hingga 180 derajat. Ia menahan nafas begitu mendapati Gaara yang mematung hanya berjarak 5 meter darinya tengah meliriknya.

Dirasakannya bahwa hawa makin tegang, dirapatkan punggungnya pada pintu begitu melihat Gaara berjalan kearahnya makin dekat. Well, jantungnya makin liar berpacu begitu mendapati sosok itu menghimpitnya diantara dirinya, dan pintu.

“Hum, mau jelaskan padaku?” Lelaki itu menurunkan tatapannya, memandang lurus-lurus Pearl pucat itu.

“U-u-umh… I-itu… Ka-kalau aku p-pakai gaun t-tadi,” dihirupnya napas dalam-dalam, berusaha berhenti tergagap. “Nanti… Nanti Gaara-nii… Jadi… V-vulgar lagi.” Ia menatap Jade milik sosok itu dengan gusar.

“Hm begitu?” Jadenya mulai menelusuri wajah gadis itu.

N-ne.” Mulai. Gadis itu susah menarik napasnya. Sensasi aneh bercampur dengan rasa gugup yang meledak-ledak ia rasakan dari dalam tubuhnya. Keringat dingin mulai muncul dipelipis, dan tengkuknya.

Rasanya… Berkunang-kunang.

“Kupikir ini salah, kau membuntukan logikaku.”

Gadis itu makin ciut begitu mendengar suara lelaki itu makin berat. Sesaat batinnya merasa lega begitu mendapati tubuh yang menghimpitnya menjauh—ia mengerang tiba-tiba.

Rasa kalut mulai menghantui dirinya begitu mendapati sosok dihadapannya menahan sisi kanan, dan kirinya dengan tangan kekar lelaki itu. Gaara sedikit membungkukan diri. “Hinata, kita main sebentar.”

Pikirannya kosong, buntu rasanya begitu mendapati benda lembut menempel dibibirnya. “Emh!” Ia menutup cepat kedua matanya, dan mendorong bahu lelaki itu.

Terus, bibir lelaki itu berusaha menekan bibir gadis itu. Tak lama ia mulai mengulum. 1 kali, 2 kali, 3 kali. Makin dalam layaknya menerima sensasi luar biasa menyenangkan untuknya.

Untuk gadis itu, rasanya ia sudah tak memiliki kaki lagi. Dirasakannya ia diantara sadar, dan tidak. Napas yang tak beraturan, dan degup jantung yang liar, hanya itu yang dirasakannya.

Lemas, pusing, sensasi yang membuat otak lumpuh. Kedua telapak tangan yang tadinya ia gunakan untuk mendorong bahu itu akhirnya bertolak 180 derajat. Di remasnya perlahan kemeja hitam lelaki itu dengan tangannya yang basah oleh keringat.

Gila. Dan nikmat. Tapi salah. Rasanya… Tak bisa digambarkan.

Gadis itu hanya pasrah mendapati benda lunak yang sukses menerobos kedalam mulutnya, dan bergeriliya. Disatu sisi baginya ini aneh, asing, dan ia menyukainya—well, hormon anak remaja tak bisa dibilang rendah.

Tapi disatu sisi, ia merasa hal ini belum boleh terjadi. Ia ingat nasehat Sensei Biologynya. Karena banyak remaja Jepang yang telah melupakan norma-norma, dan berhubungan dengan lawan jenis melebihi batas.

Air matanya menitik mendapati gigitan-gigitan pada bibir merah cherrynya. Entahlah, rasanya ia ingin menjerit. Sisi mana yang ia pilih?

Namun akhirnya ia memilih, Pasrah. Well, Satan menang saat ini.

Gadis itu bernapas tak stabil begitu mendapati sumbatan pernapasan dibibirnya menjauh. Namun rasanya makin memusingkan begitu mendapati kepala dengan rambut merah itu menyelip diantara bahu, dan dagunya.

Leher.

Diremasnya helaian rambut merah itu kencang mendapati gigitan-gigitan yang seumur hidup baru ia rasakan. Kepalanya mendongak, desahan halus nan membangkitkan keinginan irasional untuk melakukan lebih. Dinikmatinya tanpa sadar hisapan-hisapan kencang dari kedua bibir Sabaku Gaara.

“Ga—hah… Hah… Gaar—engghh…. Aaaah~”

Sesaat Lelaki itu terhenti, dan mendongak. Hum, birahi telah menguasai dirinya. Ditatapnya dengan tatapan ‘aneh’ wajah gadis yang telah mengucurkan peluh, tak tahan melihat bibir gadis itu bengkak.

Cepat-cepat ia kembali menunduk, menatap beberapa bekas yang ia hasilkan basah oleh Salivanya. Ia menyeringai, membuat wajah gadis itu makin memerah.

Bagi gadis itu, sosok dihadapannya ini ialah seorang idola. Well, wajah tampan, dan pembawaan yang menyenangkan baginya. Semua telah mengetahui hubungan Hyuuga dengan Sabaku memanglah baik.

Sejak kecil selalu bermain dengan sosok ini membuatnya senang untuk bermanja-manja. Tentu, Hinata ialah type Moe kalau bisa dibilang. Jadi tentu saja sang lelaki dihadapannya ini senang mendapati keadaan saat ini.

Ditariknya tali ikat simpul dipinggang gadis itu, membuat jubah itu nyaris terbuka, well, jubah polos gadis itu merosot hingga bahunya yang terbuka. Dengan cepat diremasnya kedua sisi jubah agar jubah itu tetap melekat ditubuhnya. Dahinya mengernyit. “G-Gaara-nii?”

Ia menunduk, jantungnya makin berdetak kencang melihat kepala lelaki itu menempel di bahunya, dan menyesapnya sesaat sebelum akhirnya mengecupinya. Apa ini?

Tidak, ini tidak boleh.

Dengan membabibuta gadis itu menggerakan bahunya dengan ritme cepat yang gusar. Bibirnya berusaha ia kunci untuk berhenti mengucapkan rangkaian desahan yang menggelikan itu.

“G-Gaara-nii! D-dame—aaash”

“Emh?”

“D-aaah… Da—hah…akh Dame yooo~”

Hanya ucapan larangan yang mengandung desah? Meskipun gadis itu memberontak layaknya kucing yang mengamuk pun akan tetap ia lakukan prostitusi itu, apalagi hanya sejenis ucapan tanpa daya.

O-onegai~ aah… Negai… Hah.. SASUKE ONEGAI—AKKKKHH.”

Dengan Jade yang berkilat marah, ia mendongak, “siapa?”

Oh demi kami-sama, gadis itu terlalu shock mendapati—,

“Aaakhh ittaiiii~.”

—remasan menggelikan pada dada kirinya.

DOR!

Semua terpaku. Hinata bahkan begitu takut untuk menghirup napasnya, sedangkan sosok berambut merah itu terperanjat mendapati selongsong peluru melesat dengan cepat, dan tertancap di dinding, tepat disebelah leher gadis itu.

Dengan cepat Sabaku muda itu menolehkan kepala kebelakang, dan shock.

*** CDK_The Mission ***

YOSH, ARIGATOU telah membaca fanfic yg telah lama sekali tidak saya publish lanjutannya ini. Sebelumnya saya mau minta maaf karena chap ini lebih pendek dari yang sebelum-sebelumnya, dimohon untuk mengerti🙂

Beberapa pengertian kosakata :

– Kimi : biasanya digunakan dari cowok ke cewek untuk sebutan “Kamu.”, namun juga cewek yang pakai lebih mengarah ke kalimat sayang, biasanya cewek manggil ke pacarnya.

– Warukatta na : “Maaf.” Biasa digunakan oleh laki-laki dewasa, kalian bisa lebih mendalami kalau belajar sastra jepang, dll deh ^^

– Onegai : yg rajin nonton / baca Animanga pasti tau, yup benar! Artinya “Tolong.”

– Nani : “Apa?”

Yah, beberapa kosakata ini aku tambahkan karena beberapa teman saya yang kurang mengerti ungkapan-ungkapan bhs. Jepang, jadi saya usahakan untuk mengkondisikannya😀

Right, yang mau tanya-tanya atau apalah, silahkan lewat jalur comment, or mention aku di @CitraDewi__🙂

Tolong tinggalkan komentar setelah membaca fanfic ini yaaa, juga jangan lupa untuk menyalin link postingan ini kalau mau menyalin😮 tolong sesama menghargai

Juga untuk flame, saya menerimanya ASAL disertakan alasan / sanggahan kalian-kalian semua tentang fic ini ^^)/

Okay, Matta ashita on next chap, SANKYUU, THANKS, MAKASIH, GOMAWO🙂

Regard,

CDK

Bonus pict :

Sabaku Gaara

About CDK world :)

Hi... ^^ selamat datang di wordpress milik saya. Saya siswa SMP tahun ke-3. Kalian bisa sebut saya freelance author because i love so much to write Fanfic hoho. Fanfiction yang akan saya posting disini ada beberapa jenis, ada yang kpop, ada yang anime ^^ karena saya suka anime seperti Naruto, D. Conan, Bleach, dan masih banyak lagi, saya sering memakai characternya di FF buatan saya, sedangkan untuk FF kpop pairingnya ada yg Super Generation ada yang saya bikin sendiri pairingnya sesuai mood saya #plak. Di Wordpress ini saya juga mempost lirik lagu, dari Barat (especially rock-Music), Kpop, juga Jpop (especially ost Anime). Selain itu, saya juga menshare tentang pelajaran (because i am a student :) ), dan beberapa info lainnya Oh ya, jika ingin merequest lyrics ataupun fanfic juga boleh. tinggal tinggalkan comment untuk saa :) so, lets visit and read my Wp now ^^ Regard, Citra Dewi Kania
This entry was posted in Akatsuki, Anime, FF Anime, Naruto. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s